Sawah-sawah Tenggelam, Kerbau Mati: Nasib Warga Tepi Danau Poso

0
604
Kerbau di Desa Tokilo, mati karena kekurangan makanan karena tempat mereka merumput terendam air selama berbulan-bulan, diduga disebabkan debit air bendungan PLTA PT. Poso Energy . Foto : Mosintuwu/Ray

“Masyarakat kami sudah resah, sudah susah karena sudah tidak bisa ba sawah. Air sudah tidak surut sejak akhir tahun lalu”(Hawai Herios Sau/Kepala desa Panjo)

Ini semua untuk pembangunan, untuk kesejahteraan. Karena itu masyarakat harus berkorban. Itulah yang kita dengar ketika ada protes yang dilayangkan masyarakat ketika sawah dan kebunnya tidak lagi bisa diolah. Pengorbanan itu sudah dilakukan para petani di pinggir danau Poso sejak akhir tahun 2019.  Ada 187 hektar sawah (data sementara hasil wawancara dengan pemerintah di 4 desa) mereka kini tidak lagi bisa ditanami sejak air danau Poso tidak kunjung surut. Adapun data dinas pertanian kabupaten Poso menyebutkan sekitar 400 hektar.

Kepala desa Meko kecamatan Pamona Barat, Gede Sukaartana mengatakan, biasanya pada bulan Juli sawah warganya yang berbatasan dengan danau sudah mulai diolah, karena pada saat itu, air danau sudah mulai surut. Namun saat ini, air danau tidak kunjung surut. Dia mengatakan, seperti ada yang menahan air sehingga tidak kunjung surut. 

Biasanya, sawah dan kebun warga desa Meko yang ada di pinggir danau terendam saat banjir akibat luapan sungai Meko atau siklus naiknya air danau saat musim hujan. Namun kini, meskipun musim kemarau, air tidak kunjung surut. Data yang dikumpulkan pemerintah desa Meko menyebutkan ada 97 hektar sawah petani di desa itu yang kini tidak bisa lagi ditanami.

Di desa Panjo kecamatan Pamona Selatan, hal sama dialami petani. Hawai Herios Sau, kepala desa Panjo, mengatakan sudah 3 musim tanam, sekitar 45 hektar sawah milik sekitar 60 kepala keluarga di desanya tidak lagi bisa diolah karena terendam air danau yang tidak kunjung surut.

“Masyarakat kami sudah resah, sudah susah karena sudah tidak bisa ba sawah. Air sudah tidak surut sejak akhir tahun lalu. Sampai sekarang belum ada yang membicarakan ini. Kami rencana mau ketemu pihak Bukaka, mau menanyakan soal ini”kata Hawai Herios Sau.  Jika dihitung, 1 hektar sawah menghasilkan 2 ton beras, maka dalam sekali musim tanam mereka kehilangan 90 ton beras. Sampai saat ini mereka belum mendapatkan kejelasan apa penyebab air danau tak kunjung turun dan siapa yang bertanggung jawab.

Sawah di Desa Meko terendam selama berbulan-bulan , belum pernah terjadi sebelumnya meskipun hujan turun seminggu. Diduga, bendungan PLTA PT. Poso Energy yang mengatur debit air menjadi penyebabnya. Foto : Mosintuwu/RayRarea

Di desa Dulumai, kecamatan Pamona Puselemba, sekitar 10 hektar sawah milik 60 kepala keluarga juga sudah tidak bisa ditanami. Efren Ponangge, kepala desa Dulumai mengatakan, dulunya sawah di desanya baru akan tenggelam apabila hujan deras hingga 1 bulan. Kini hujan 2 sampai 3 hari saja sawah-sawah itu sudah terendam. Dia menyebut kondisi ini kemungkinan karena adanya perubahan bentang aliran sungai Poso yang saat ini sedang dibangun bendungan untuk proyek listrik tenaga air (PLTA) milik PT Poso Energi, salah satu perusahaan milik keluarga mantan Wapres Jusuf Kalla.

Baca Juga :  Kopi Kedelai, Ole2 baru dari Tana PosoSoybean Coffee , gift for land of Poso

Dugaan bahwa terendamnya sawah petani di desa-desa di pinggir danau Poso akibat adanya pembuatan bendungan untuk proyek PLTA juga disampaikan Berlita Sigilipu, sekretaris Desa Tindoli kecamatan Pamona Tenggara. Menurut data yang mereka himpun, di desanya ada 30 hektar sawah yang tenggelam tidak lagi bisa ditanami. Termasuk sawah seluas 40 are milik keluarganya.

Para petani di desa itu heran, sebab air danau masih merendam sawahnya meskipun hujan tidak turun sampai sebulan. Biasanya sawah akan terendam sebentar saat musim hujan. Namun tidak lama kemudian surut dan saat itu bisa ditanami lagi. Namun yang diingatnya, air sudah tidak surut seperti biasanya sejak akhir tahun lalu. Sama seperti kepala desa Panjo, Berlita menduga penyebab sawah-sawah ini terendam adalah proyek PLTA.

Berapa kerugian ekonomi para petani akibat sawah tidak bisa diolah? Berlita menghitung, dari pengalaman mengolah sawahnya. Setiap 1 are menghasilkan 1 karung beras dengan berat 50 kilogram. Dalam setahun mereka bisa panen 2 kali. Sehingga total, dia kehilangan 4 ton beras dalam setahun. Para petani sudah memberikan data jumlah sawah yang sudah tidak bisa lagi diolah kepada pemerintah.

Selain sawah dan kebun, dampak lain diujung selatan danau Poso adalah lenyapnya padang penggembalaan kerbau Polapa Baula, sebuah padang penggembalaan subur seluas kurang lebih 50 hektar tempat ratusan kerbau milik masyarakat dilepas bebas. Leki, salah seorang pemilik kerbau menuturkan, sejak air danau tidak surut, padang penggembalaan terendam. Kerbau dan sapi mereka kehilangan sumber makanan. Dalam catatan Leki, ada 50 ekor kerbau mati karena kekurangan makanan. 3 ekor hilang dicuri ketika berkeliaran mencari makan sampai di pinggir jalan trans Sulawesi. 

Kini kerbau yang tersisa oleh pemiliknya dipindahkan ke sawah di dalam desa yang belum diolah. Apakah Polapa Baula bisa kembali menjadi rumah bagi populasi kerbau di Pamona Selatan dan Pamona Tenggara? Leki menjawab “Sudah tidak bisa diharapkan lagi”.

Baca Juga :  Tidak Ada Teladan dan Ketidakpedulian : Kasus Covid-19 Poso Meningkat
Terhitung 50 kerbau milik warga Tokilo mati karena kekurangan makanan, wilayah merumput mereka terendam air berbulan-bulan. Diduga disebabkan oleh debit air Danau Poso diatur oleh bendungan PLTA PT. Poso Energy. Foto : Mosintuwu/Ray

Bukan hanya Polapa Baula dan kerbaunya yang hilang. Dikawasan ini juga ada salah satu ujung sungai Kodina, sungai terbesar di kecamatan Pamona Selatan, tempat warga desa-desa sekitar yakni Tokilo, Korobono, Tindoli dan Pandayora rutin melakukan Mosango, sebuah tradisi menangkap ikan yang masih dipraktekkan oleh masyarakat pinggiran danau Poso. Jika air danau Poso tidak kunjung turun, maka hilang sudah tradisi yang sarat akan nilai persaudaraan, kebersamaan dan berbagi itu. Kawasan Kompodongi, sebuah lokasi yang secara tradisional menjadi tempat warga di ujung utara danau Poso seperti Tentena, Sangele, Petirodongi, Sawidago, Tendeadongi juga sudah tidak lagi bisa dipakai untuk melakukan tradisi itu.

Lalu bagaimana respon pemerintah atas nasib para petani ini? Kepala Dinas Pertanian kabupaten Poso, Suratno mengatakan telah mengkoordinasikan para petugas penyuluh lapangan (PPL) dan ketua-ketua kelompok tani yang wilayahnya terendam dengan pihak PT Poso Energi, serta BPP kecamatan Pamona Puselemba, Pamona Barat, Pamona Selatan dan Pamona Tenggara untuk meninjau kondisi sawah-sawah yang terdampak itu.

Ganti Rugi dan Hilangnya Kebudayaan Pertanian

“Poso Energy akan memberikan kompensasi  sesuai kesepakatan”kata Suratno lewat pesan WA. Data sementara yang dilakukan dinas pertanian yang dipimpinnya menyebutkan 400 hektar sawah yang kini berpotensi tidak bisa lagi ditanami padi.

Ganti rugi menjadi pilihan praktis dan mudah. Petani yang sebelumnya memproduksi sendiri beras yang dimakannya akan menjadi pembeli. Dari produsen menjadi konsumen. Desa-desa disekiling danau Poso yang saat ini menjadi sentra penghasil beras kabupaten Poso perlahan akan berubah pembeli beras. Yang sawahnya tidak lagi bisa diolah, beralih menjadi petani kakao atau tanaman lain yang bisa diandalkan memberikan penghidupan. Namun itu tidak mudah. Seperti dituturkan Berlita, untuk membuka lahan kebun baru butuh waktu dan ijin.

Memang, kompensasi yang dijanjikan, seperti diutarakan kepala desa Dulumai, Efren Ponangge, sawah yang tenggelam bisa dialihkan menjadi kolam ikan. Bisa juga ditinggalkan dan pemiliknya mengolah lahan baru dan hidup si petani dibiayai sampai tanaman barunya menghasilkan. Namun itu tidak mengubah kenyataan, petani-petani ini perlahan didesak dari ruang hidupnya ke tempat baru yang seharusnya baru akan dikelola kelak oleh anak dan cucunya, ketika populasi di desa mereka bertambah.

Baca Juga :  Laulita Ayam Ajaib dan Bukti Sejarah Geologi Terbentuknya Sulawesi

Tapi yang tidak kalah genting dari situasi yang dialami para petani di pinggir danau Poso, selain ruang hidup adalah kebudayaannya yang terancam hilang. Kesusasteraan orang Poso seperti seperti puisi yang dilagukan yakni  Molinga, selalu berhubungan dengan pertanian khususnya pada musim panen padi. Tradisi Mangore hingga Padungku serta Mesale yang menggambarkan solidaritas dan kebersamaan juga berkaitan erat dengan sawah.

Kuatnya hubungan orang Poso dengan kebun dan sawah banyak dibahas oleh N. Adriani dan Albertus C. Kruijt dalam salah satu karyanya, Orang Toraja yang Berbahasa Bare’e di Sulawesi Tengah. Disebutkan bahwa ‘semua orang Toraja adalah petani, mulai dari pemimpin suku sampai rakyat biasa.

Apa dampak beralihnya petani dari sawah ke tanaman lain seperti kakao? semua kebutuhan pangan nantinya harus didatangkan dari luar desa, termasuk harus membeli beras dari luar. Sedangkan tanaman seperti kakao memiliki masa produktif 10 sampai 15 tahun. Setelah itu yang tertinggal adalah tanah yang sudah tidak produktif. Lalu petani di desa tidak punya pilihan selain menjadi buruh. Sedangkan generasi muda akan keluar dari desa untuk mencari pekerjaan dikota. Seiring waktu, desa akan kehilangan petani. Tanda kearah itu bisa dilihat dari data-data yang dirilis oleh BPS.

Misalnya data BPS tahun 2018 menunjukkan, ditengah menurunnya angka pengangguran terbuka secara nasional per Agustus 2018 di angka 5,34 persen. Namun  pengangguran di desa justru meningkat di angka 4,04 persen, naik dari posisi yang sama tahun 2017 sebesar 4,01 persen. Sedangkan pekerja di sektor pertanian juga terus menyusut, dari 35,9 juta orang tahun 2017 menjadi 35,7 tahun 2018.

Kini menjadi petani di kalangan generasi muda adalah pilihan terakhir setelah menjadi pegawai dan buruh. Menjadi petani dianggap tidak menaikkan pamor keluarga ketimbang menjadi pegawai. Orang yang lolos menjadi pegawai akan dibuatkan acara selamatan sebagai tanda ucapan syukur sekaligus pengumuman kepada komunitas tentang posisi si anak. Sementara menjadi petani bahkan dianggap sebagai kegagalan.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda