Album 3 Pandemi : Musik Merespon Pandemi di Indonesia

0
154
Ilustrasi cegah virus corona . Gambar : Alexander Koch /Pixabay.com

Indonesia, termasuk Poso sedang menghadapi 3 pandemi. Pernyataan ini tergambar jelas bukan hanya dalam judul album mini yang diluncurkan oleh 3 band indie yang bergabung dalam perkumpulan Simponi, tapi juga dalam 7 lagu di dalamnya.  Ketiga pandemi ini adalah Covid-19, intoleransi, dan patriarki (khususnya kekerasan terhadap perempuan).  Dua “pandemi” yaitu intoleransi dan kekerasan terhadap perempuan sudah terjadi sejak lama dan berlangsung secara perlahan, dalam pikiran dan tindakan. Kedua pandemi ini menjadi masalah besar yang belum tertangani dengan baik di Indonesia. Lalu tiba-tiba datang sebuah pandemi yang datang dengan sangat cepat, membunuh ratusan ribu manusia di seluruh dunia dalam waktu singkat, yaitu Covid-19.

Mengapa ke tiga pandemi ini perlu dibicarakan dan mengapa pilihan membicarakannya dalam bentuk musik? Podcast Mosintuwu, mewawancarai 3 perwakilan band tentang visi dan mimpi mereka.   

Kampanyekan Penghentian Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

“Di Indonesia, perempuan, menghadapi bahaya kekerasan seksual, fisik dan banyak lain”. Demikian Arnie Cristanti, Bassis Sister in Danger menceritakan kondisi buruk yang terus dialami perempuan Indonesia.  Dia mengutip catatan Komnas Perempuan yang menyebutkan, setiap hari ada 35 perempuan mengalami kekerasan seksual, artinya, setiap 2 jam ada 3 perempuan jadi korban.

Catatan Akhir Tahun Komnas Perempuan mencatat, sepanjang tahun 2019 ada 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 421.752 kasus ditangani Pengadilan Agama, 14.719 kasus ditangani lembaga mitra pengada layanan di Indonesia, dan ada 1.419 kasus dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan. Selain itu, terjadi kenaikan kasus kekerasan terhadap anak perempuan sebesar 65% dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2019 juga tercatat sebanyak 2.341 kasus, sebanyak 770 merupakan kasus inses.

Dalam album mini 3 pandemi, 2 lagu dikhususkan berbicara tentang isu kekerasan terhadap perempuan dan anak, lagu ‘Lagi’ dan lagu ‘Dia & Dia’. Lagu ‘Lagi’, dinyanyikan oleh Sister in Danger X Simponi bercerita tentang kabar tentang adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi berulang kali yang menuntut pentingnya  pendidikan dan pencegahan agar tidak berulang, juga perlunya rehabilitasi korban, serta penindakan yang adil pada pelaku. Lagu Dia & Dia, menceritakan tentang keadilan gender.

Terimakasih untuk Tenaga Medis

‘Negara jangan hanya membantu korporat, disaat rakyat membantu rakyat’  demikian salah satu penggalan lirik lagu Parade Garis Depan, merupakan sindiran keras dan terang-terangan terhadap kegagapan pemerintah menangani pandemi. Disaat masyarakat Indonesia berhadapan dengan wabah, kita tahu, pemerintah justru mempercepat pembahasan Omnibus Law, undang-undang yang dinilai oleh aktifits pro demokrasi akan menguntungkan para pemilik modal namun merugikan hak-hak pekerja.

Baca Juga :  MoU Kuatkan Kajian, Penelitian dan Penyebaran Nilai-nilai Perdamaian di Tana Poso

Arnie Cristanti, Bassis Nada Bicara mengatakan, ide lagu ini merupakan keinginan untuk berterimakasih kepada tenaga medis yang berada di garis depan dalam menghadapi virus Corona. Data terakhir Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga 1 September 2020 menunjukkan, jumlah dokter yang meninggal akibat Covid-19 sudah mencapai 102 orang.  Adapun laporan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada bulan Agustus 2020 sebanyak 55 perawat meninggal dunia akibat COVID-19. 

“Idenya ingin berterimakasih pada orang-orang di garis depan yang rela tidak bertemu keluarganya. mereka tiba-tiba harus jadi pahlawan. Ada dokter yang korbankan gajinya untuk buat alat atau APD yang belum dikirim”cerita Arnie. Lagu ini menjadi tanda terimakasih untuk tenaga medis yang masih terus berjuang menghadapi Covid-19 di garis depan.

Album ini bukan hanya memotret data-data yang menunjukkan jumlah korban akibat covid-19. Tetapi juga menunjukkan bagaimana kekagetan yang berujung ketakutan ditengah masyarakat saat pandemi ini datang.  ‘Bukan Lagu Cuci Tangan’ adalah lagu yang menangkap kecemasan warga yang diwujudkan dengan pemasangan portal di gang-gang pada masa awal Covid-19.

Erlina Rakhmawati, vokalis Nada Bicara mengatakan, lagu ini menunjukkan kegagapan kita semua,mulai dari pemerintah diatas sampai di  setiap gang. Bahkan, dari informasi yang diperolehnya, banyak orang yang diusir dari kontrakannya karena dianggap bisa menularkan virus Covid-19. Namun ditengah kekacauan itu juga tumbuh banyak solidaritas. 

Muncul gerakan Rakyat Bantu Rakyat yang melakukan banyak aktifitas membantu orang-orang terdampak Pandemi ini. Ada yang menyiapkan makanan, ada yang membantu memasarkan hasil panen para petani. Ada yang mengumpulkan sumbangan untuk membuat Alat Perlindungan Diri (APD) untuk tenaga medis. Bahkan ada yang membantu memberi informasi bagaimana membuka usaha dimasa susah.

Menolak Intoleransi

Sejumlah survey menunjukkan tingkat intoleransi di Indonesia terus meningkat. Imparsial mencatat, sepanjang tahun 2019 terdapat 31 kasus intoleransi di Indonesia yang terkait dengan kebebasan beragama. Erwin Natosmal Oemar, peneliti Indonesian Legal Roundtable (ILR) mengatakan, di sejumlah daerah bermunculan perda-perda yang diskriminatif. 

Survey yang dilakukan Wahid Foundation bekerjasama dengan Lembaga Survey Indonesia (LSI) tahun 2016 menemukan.  ada 82,4 persen warga kita tidak mau bertetangga dengan orang yang berbeda. Lalu sebanyak 89,8 persen, tidak ingin kelompok berbeda mengajar disekolah negeri. Lalu 92,2 persen tidak ingin ada orang yang berbeda dengan kelompoknya menjadi pejabat pemerintah. Survey ini melibatkan 1,520 orang responden di 34 provinsi. Hasil penelitian ini membuat kita sadar. Kita hidup ditengah masyarakat yang makin sulit menerima perbedaan. Bukan hanya perbedaan agama, tapi juga perbedaan

Baca Juga :  Membincang Taman Bumi Danau Poso, Mungkinkah?

Lagu ‘Agama Cinta’ menurut, Ernie menggambarkan bahwa agama itu membawa cinta. Dia mengutip kisah Rasul Muhammad SAW yang memberi makan seorang yang setiap hari justru menghina dia. Namun yang terjadi belakangan, banyak orang merasa lebih baik dari orang lain. Lalu kemudian semena-mena menghakimi.  Orang-orang intoleran seperti ini, merasa seperti jadi pemilik surga. Adapun lagu ‘Seragam Kesempitan’, menangkap fenomena orang-orang yang memaksakan standar yang mereka kepada orang lain karena merasa mayoritas.

Kisah dalam lagu ‘seragam Kesempitan’ ini memotret fenomena di Jogjakarta belakangan ini yang menjadikannya salah satu kota Intoleran di Indonesia. Jogja yang ramah seakan hilang. Ada pemilik kontrakan yang mensyaratkan penyewanya harus seagama. Lalu ada yang diusir ibu kos karena dianggap bukan perempuan baik-baik.

Lagu dan Isu Sosial Kita 

Proses pembuatan lagu yang mengangkat isu sosial , bukan hal baru bagi tiga band yang bergabung di perkumpulan Simponi.  Berkah Gumulya, salah seorang pendiri Simponi menceritakan awal berdirinya kelompok ini tidak lepas dari beragam persoalan sosial di sekitar mereka. Misalnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan praktek intoleransi yang semakin tinggi. Berbagai upaya dan advokasi menghentikannya dirasa harus semakin diperluas. Musik kemudian mereka pilih. Dari situ lalu muncul ide membangun perkumpulan atau sindikat yang terdiri dari beberapa band pada tahun 2010. Dua tahun kemudian, Sindikat itu diubah menjadi sebuah band

“Saya ingin gaya lain.Pendidikan yang lebih asik, lebih anak muda. Saya ingin cara lain melakukan advokasi”kata Gumulya. Lalu lahirlah band Simponi, akronim dari ‘Sindikat Musik Penghuni Bumi’. Lewat karya-karyanya, band ini menjadi penyampai berbagai isu-isu sosial yang disukai anak muda.

Keinginan menghentikan praktek diskriminasi, intoleransi, korupsi dan persoalan sosial lainnya mendorong para anggota kelompok ini terus belajar, membaca berbagai hasil riset dan laporan-laporan yang banyak diterbitkan kelompok masyarakat sipil. Laporan riset dan berbagai informasi mengenai kondisi sosial itu kemudian mereka sederhanakan menjadi musik dengan lirik-lirik yang memotret kondisi Indonesia saat ini. 

Misalnya fakta-fakta tentang kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang didapatkan dari Komnas Perempuan. Fakta-fakta ini kemudian membawa mereka menulis lagu 16 Oranges untuk mendorong penghentian kasus kekerasan itu. Vitamin terkuat itu adalah cinta dan berpikir adil sejak dalam pikiran. Lagu berdurasi 4:49 menit ini menjadi Most Popular Award dari UN Women Asia Pasifik dalam kompetisi internasional #UNITEsong di Bangkok, Thailand pada tahun 2017.

Baca Juga :  Galeri Hasil Bumi Poso di Festival

Berkah Gumulya mengatakan, sejak berdiri sampai sekarang ini, perkumpulan Simponi baru ada di Sumatera dan Jawa. Dia merasa akan sangat senang bila bisa berkolaborasi dengan band-band dari wilayah timur Indonesia. Salah satunya adalah Poso. Tentu band yang dimaksud adalah yang se ide dengan perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan dan anak dan mendorong toleransi. 

Kayori, salah satu jenis sastra Poso menjadi pemersatu. Kayori ditulis untuk menyampaikan pesan-pesan solidaritas, protes, sindiran termasuk cinta. Orang beragama apapun, larut dalam Ledoni (bait-bait Kayori yang dilagukan) dengan iringan Karambanga, petikan gitar yang mendayu. 

Poso memiliki kekayaan dalam dunia musik. Musisi dan budayawan Poso, Nardi Banggai menjadi salah satu yang masih berjuang memperkenalkan kembali alat-alat musik khas Poso seperti Tandilo, Dunde, Di’o, Bungo-Bungo, Loe-Loedan Dinggoe. Kesemua alat musik ini kecuali Di’o terbuat dari bambu. 

Sebagian besar dimainkan dengan cara diketuk.  Namun anak-anak muda bahkan mungkin merasa aneh melihatnya. Mungkin seperti juga di daerah lain, mulai meninggalkan hal-hal yang dianggap tidak mewakili simbol modern. Hal itu dikonfirmasi oleh Nardi Banggai, musisi dan budayawan Poso, dalam sebuah perbincangan dengan mosintuwu.com.

“Saya sudah bertanya kepada beberapa orang yang umur 50 keatas, banyak yang tidak mengetahui nama alat musik ini apalagi remaja”kata Nardi. Alat-alat musik ini mungkin sudah tidak pernah lagi dimainkan, kalau tidak diperkenalkan kembali dia memastikan semua warisan itu akan lenyap. Kolaborasi perkumpulan Simponi dengan kelompok musik di Poso akan menjadi perpaduan budaya yang menarik. Kolaborasi musik modern dengan tradisi akan mudah diterima oleh generasi muda. Para musisi di Poso memiliki modal kuat berkat warisan leluhur yang masih tersisa. Mulai dari Kayori, Karambanga, dan cerita-cerita orang tua tentang Mosintuwu dan mo mPakaroso. 

Bagikan
Artikel SebelumnyaLambori, Si Pandan Hutan Endemik Sulawesi
Artikel SelanjutnyaLuring dan Daring di Poso, Bersekolah Masa Pandemi
Pian Siruyu
Pian Siruyu, jurnalis dan pegiat sosial. Aktif dalam kegiatan kemanusiaan sejak konflik Poso. Sejak 2005 aktif menulis di surat kabar lokal dan media online. Sekarang aktif menulis tentang isu ekonomi, sosial, politik di Kabupaten Poso dan Sulawesi Tengah untuk media Mosintuwu termasuk berita di Radio Mosintuwu

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda