Jejak Persebaran Austronesia Hingga Bukti Pandemi Di Masa Lalu

0
462
Peti dengan simbol kerbau di situs Watumakilo. Foto : Dok. Ekspedisi Poso

“Arkeologi bisa membantu kita menelusuri kehidupan masa lalu, bagaimana kebudayaan terbentuk dan apa yang kita warisi sekarang, juga bagaimana kita bercermin dari apa yang sudah terjadi di masa lalu”. Ini sering ditekankan Iksam Djorimi, arkeolog dan wakil kepala Museum Sulawesi Tengah menjelaskan pentingnya arkeologi .

Diskusi bertema Pusparagam Kehidupan dan Peradaban Silam Danau Poso yang diselenggarakan National Geographic Indonesia bekerjasama dengan Institut Mosintuwu dan Atourin, 26 Juli 2020 secara daring, mengungkap banyak pertanyaan yang selama ini terpendam mengenai bagaimana kehidupan di danau Poso dahulu kala. Bagaimana masyarakat Poso waktu itu memanfaatkan kekayaan alamnya, yakni danau, bagaimana bertahan menghadapi berbagai macam bencana, mulai dari bencana alam gempa bumi, sampai pandemi Flu Spanyol.

Iksam Djorimi, yang juga tim ahli arkeolog dalam perjalanan ekspedisi Poso, mencatat ada 19 situs arkeologi dipinggir danau Poso yang dikunjungi sepanjang perjalanan ekspedisi Poso tahap pertama dan kedua. Temuan-temuan itu menjelaskan kepada kita bagaimana kebudayaan leluhur orang di pinggir danau Poso dimasa lalu.

Ternyata, tidak semua jejak pra sejarah orang Poso itu hilang. Fuya misalnya, kain kulit kayu yang masih tersisa dan dipakai sampai saat ini oleh masyarakat lembah Bada, Behoa dan Pekurehua kabupaten Poso serta Kulawi di kabupaten Sigi.

Fuya tidak bisa dilepaskan dari sejarah penyebaran manusia penutur Austronesia keseluruh dunia. Penyebaran ini meninggalkan jejak yang sama dibanyak negara. Dalam perjalanan Ekspedisi Poso ke desa Dulumai, kecamatan Pamona Puselemba, Iksam menemukan Ike, batu granit bermotif yang dipakai untuk membuat Fuya. Batu berukuran 10 cm dan bermotif garis-garis itu memiliki persamaan dengan alat pemukul kain kulit kayu di Puebla, Mexico. Kesamaan juga ditemukan dalam ukiran peti jenazah yang ada di Situs Makilo desa Boe kecamatan Pamona Selatan dengan ukiran peti jenazah leluruh orang Kamerun di Afrika Tengah dan suku Naga di barat laut Burma dan timur laut India .

Mendengar penuturan Iksam Djorimi tentang penyebaran bangsa Austronesia ini membuat kita membayangkan bagaimana hebatnya leluhur kita dahulu menyeberangi benua Afrika, menuju Asia, lalu meneruskan perjalannya menuju pulau Paskah. Dari kepulauan Taiwan, sebagian melewati Filipina menuju ke barat melalui Kalimantan ke Sumatera dan Jawa. Sebagian lagi, dari Filipina langsung berbelok ke selatan menuju Sulawesi dimana kita tinggal sekarang.

Peter Bellwood, pengajar di Australian National University dalam ‘The Austronesians, Historical and Comparative Perspectives’ dikutip dari historia.id mengatakan, Sulawesi adalah lokasi koloni Austronesia tertua di Nusantara. Berdasarkan hasil penelitian terbaru diketahui awal kolonisasi Austronesia di Kepulauan Nusantara adalah sekira 3.500 tahun yang lalu. Ini diperoleh dari pertanggalan Situs Minanga Sipakko di Sulawesi Barat. Dari Sulawesi, baru kemudian secara bertahap semakin lebih muda ke barat menuju Sumatera dan Jawa. Yang ke selatan menuju Kepulauan Sunda Kecil. Sementara yang ke timur menuju Maluku dan Pasifik.

Baca Juga :  Perempuan Poso dan Mimpi Desa Membangun Women's of Poso and Dream on Village Development

Memang masih ada yang perlu dijelaskan mengenai wilayah mana yang lebih dahulu ditempati leluhur kita di pulau Sulawesi. Iksam mengatakan, penanggalan karbon yang dilakukan di situs Wineki, lembah Behoa menunjukkan usia 3,515 tahun lalu. Sedikit lebih tua dati situs Minanga Sipakko. Tapi para ilmuwan akan menemukan jawabannya dimasa mendatang. Namun yang pasti penyebaran kebudayaan itu sampai pula ke danau Poso.

Apakah leluhur kita lalu memutuskan selamanya bermukim di pinggir danau Poso? situs Watu mPoga’a di kelurahan Pamona mungkin menjawabnya tidak. Perjalanan masih dilanjutkan. Tujuh Menhir yang dalam bahasa Indonesia artinya ‘Batu Perpisahan’ merupakan simbol penyebaran manusia yang tinggal di pinggir danau Poso. Iksam menyebutnya menyebar ke tujuh benua. 

Iksam, arkeolog Sulawesi Tengah di situs Watumakilo. Foto : Dok. Ekspedisi Poso

Dua peninggalan suku Pamona, batu Ike dari Dulumai yang ditemukan juga di lembah Bada hingga Kulawi serta motif kepala kerbau pada peti jenazah di gua Makilo yang memiliki kesamaan dengan bangsa lain di Mexico, India dan Burma menunjukkan adanya pengaruh budaya dari Sulawesi ke wilayah lain sebagaimana simbol penyebaran manusia di situs Watu mPoga’a. Demikian juga kesamaan patung-patung megalith di lembah Behoa dengan yang ditemukan di pulau Paskah, Chile dan Kalamba di situs megalit, Plain of Jars di Laos.

Dijaman modern, sekitar abad ke-18 orang-orang dipinggir danau Poso juga sudah berhubungan dengan dunia luar. Di gua Kandela, desa Tindoli kecamatan Pamona Tenggara, tim Ekspedisi Poso menemukan pecahan keramik buatan Hungaria dan Perancis. Temuan ini juga membuka kemungkinan pada masa itu sudah ada hubungan dagang orang-orang di Tindoli dengan kerajaan Mori di Kolonodale, Morowali Utara yang waktu itu sudah menjadi salah satu kota pelabuhan yang ramai.

Belasan situs Megalit yang bisa kita lihat di 3 lembah, Lembah Pekurehua, Behoa dan Bada saat ini adalah bukti peradaban masa lalu yang masih menyisakan pengaruhnya, mulai model rumah, cara bertani sampai berpakaian. Meskipun semakin tergusur dengan teknologi dan budaya baru. Namun, upaya menjaga kekayaan warisan leluhur itu tidak berlangsung baik. Banyak benda-benda itu hilang dicuri, tahun 2019 lalu, arca Meboku hampir hilang. Diperkirakan sudah banyak benda bersejarah itu hilang.

Baca Juga :  Pasar Desa : Ruang Kedaulatan Perempuan dan Tanah

Bukti Pandemi Global di Situs Makilo 

Temuan ribuan tengkorak manusia di situs Makilo dihubungkan dengan Jua lele atau penyakit menular oleh warga di desa-desa dipinggir sebelah timur dan barat danau Poso sepanjang perjalanan ekspedisi Poso. Hajai Ancura, anggota tim Ekspedisi Poso menuturkan cerita tentang penyakit yang bisa berpindah-pindah hingga menyebabkan banyak orang meninggal dari orang-orang tua yang didengarnya.

“Kalau orang-orang tua bilang sudah itu Jua Lele. Dalam satu hari bisa ada dua sampai lima orang di kampung meninggal. Akhirnya ada kampung yang pindah karena lokasi kampung dianggap sudah tidak aman lagi”kata Hajai Ancura. Penuturan sejumlah orang-orang tua di desa Dulumai, memang menyebutkan kampung yang mereka tempati saat ini merupakan lokasi ketiga. Demikian juga cerita warga desa Tindoli. Awalnya kampung tua ada di sekitar bukit di punggung desa. Saat wabah datang, kampung kemudian dipindah ke pinggir danau.

Peti, wadah dari kulit sagu, dan tengkorak di situs Watumakilo . Foto : Dok. Ekspedisi Poso

Selain di situs Makilo, tulang belulang dan tengkorak manusia juga ditemukan di 18 lokasi lain, mulai dari Gua, Ceruk hingga bukit yang dulunya menjadi lokasi pemakaman. Tentu saja, tidak semuanya meninggal akibat wabah. Sebab sistem penguburan orang Pamona pada waktu itu, menurut Iksam tidak langsung memakamkan orang yang meninggal, tetapi menempatkannya ditempat terbuka, diatas para-para yang biasanya ditaruh di posisi agak jauh dari rumah.

Yang menarik dari kerangka ini adalah jumlahnya yang banyak. Hajai Ancura mengatakan, leluhur orang-orang Poso dulunya hidup berkelompok, mereka membangun pemukiman yang hanya di huni oleh puluhan kepala keluarga. Tentu saja temuan ribuan kerangka ini menimbulkan pertanyaan dari mana saja asalnya.

Banyaknya kerangka manusia yang terkumpul didalam satu gua, menurut Hajai menunjukkan adanya kematian massal disekitar awal tahun 1900 an. Cerita turun temurun yang didengarkan Hajai, menyebut pernah suatu masa, kampung-kampung di pinggir danau Poso diserang penyakit misterius yang mereka sebut Jua Lele. Kisah-kisah turun temurun ini dikonfirmasi oleh sejumlah catatan kolonial akhir abad ke-19 yang menunjukkan wilayah di pedalaman Poso ini didera pandemi berulang-ulang.

Berbagai penyakit mulai Kolera, Cacar, dan Flu Spanyol yang menyebar keseluruh penjuru dunia pada 1918 menyebabkan banyak kematian di Poso. Dalam artikel yang ditulis Gede Supradnyana ‘Menengok Ulang dan Berefleksi atas Sejarah Pandemi di Sulawesi Tengah, dan Poso’ menyebutkan, catatan Dr. Adriani, etnolog Belanda, angka kematian akibat epidemi ini sangat tinggi; misalnya, pada tahun 1911, sekitar 10 persen populasi di sekitar Danau Poso terinfeksi dan dilaporkan meninggal karena sakit pada paru-paru (Henley, 2005: 263). Bila total jumlah penduduk Poso yang dipakai sebagai ukuran berdasarkan sensus resmi pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905-1909 adalah sejumlah 21.977 orang (Henley, 2005: 225), maka kira-kira kematian akibat epidemi/ pandemi yang terjadi berjumlah 2.000an orang. 

Albert C Kruyt juga mencatat bahwa pada awal abad ke-20, dilakukan perpindahan penduduk dan dislokasi sosial setelah terjadinya epidemi cacar pada tahun 1884. Kruyt, menyebutkan bahwa banyak orang mati dalam rombongan/bondongan (“died in droves”) pada tahun 1893, dan karena itu diperlukan “transformasi yang lengkap” melalui pengaturan kembali pemukiman baru yang lebih bersih dan tak terjangkit wabah.

Baca Juga :  Montibu, Suara dari Air untuk Jaga Danau Poso

Berdasarkan sensus yang dilakukan kontrolir Belanda J.C.W.D.A. van der Wijck tahun 1865 sebagaimana yang dicatat Adriani (1913), jumlah penduduk Poso adalah kira-kira 200.000 jiwa. Tiga tahun kemudian, sebagaimana catatan Adriani, jumlah penduduk Poso hanya sekitar 64.500 jiwa, termasuk Tojo, Napu, Besoa dan Bada. Sensus yang dilakukan oleh J.G.F. Riedel pada tahun 1870 menemukan, penduduk Sulawesi Tengah berjumlah lebih dari 100.000 jiwa; 20 tahun kemudian sensus kembali dilakukan oleh G.W.W.C. Baron van Hoevell dan menemukan angka 90.000 jiwa, hanya untuk populasi di Poso dan Tojo. Anehnya, pada tahun 1900, sensus Kruyt menemukan bahwa jumlah penduduk Poso hanya sekitar 25.000 jiwa saja (Henley, 2005: 224-225). 

Sejarah wilayah yang sekarang bernama Poso, dulunya menjadi perlintasan manusia-manusia austronesia yang bermigrasi ke berbagai penjuru, menunjukkan kekayaan yang tidak terhingga untuk dijadikan tempat belajar perkembangan kehidupan manusia modern.

Iksam mengatakan, warisan kekayaan arkeologi di danau Poso ini menjadi sumber daya yang memiliki tiga nilai penting, yaitu nilai penting akademik; multi disiplin ilmu, skala regional,nasional, dan internasional. Kedua, nilai penting Strategis, sebagai jati diri bangsa, gotong royong dan simbol toleransi. Ketiga, aspek Praktis, yaitu sumber daya alam dan budaya menjadi aset penting untuk dikembangkan, serta merupakan kawasan konservasi yang perlu dijaga eksistensinya.

Kebudayaan yang kaya ini masih memerlukan studi lanjutan untuk melihat lebih jelas bagaimana cara hidup manusia ribuan tahun lalu. Banyaknya megalit yang hilang dan situs arkeologis tidak terurus menjadi ancaman hilangnya kesempatan untuk mempelajari sejarah untuk menghadapi masa akan datang. Lebih lanjut, keberadaan situs-situs ini menjadi bahan penting untuk membicarakan mendesaknya Danau Poso menjadi taman bumi atau geopark.

 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda