Menerka-nerka Positif Covid-19 Poso di Keterbatasan Alat dan APD

0
825
Proses pemakaman G, pasien berstatus PDP, yang dimakamkan dengan protokol pasien Covid-19 di pemakaman khusus Kelurahan Tegalrejo, Kamis 30 April 2020. Foto : Dok.Istimewa

Grefani Ferninda Sawane menjadi pasien pertama di Kabupaten Poso yang dimakamkan dengan protokol pemakaman pasien Covid-19. Saat dimakamkan, Grefani berstatus sebagai PDP atau pasien dalam pengawasan. Sebelum meninggal, Grefani dirawat di dua rumah sakit berbeda. RSU Sinar Kasih Tentena merawat Grefani pada hari Kamis, tanggal 16 April 2020, dengan keluhan demam dan nyeri perut.  Setelah 6 hari dirawat inap, Grefani dipulangkan untuk beristirahat di rumahnya. Hari minggu, 26 April 2020, Grefani masuk kembali ke RSU Sinar Kasih Tentena. Keluhan masih sama, demam dan nyeri perut. 

Saat Grefani dirujuk ke RSUD Poso yang berjarak 60 km dari RSU Sinar Kasih Tentena pada siang hari,  Selasa 28 April 2020 , dokter Mardi yang adalah koordinator posko penanganan Covid-19 RSU Sinar Kasih Tentena menyebutkan alasan rujukan adalah karena trombosit G menurun, mengigau dan mengalami perubahan kesadaran. 

“Kecurigaan kami ini adalah demam berdarah”

Hari Rabu 29 April 2020, pukul 20.30 wita, Grefani meninggal dunia. Hari Kamis, 30 April 2020, Grefani dimakamkan dengan protokol pasien Covid-19. Grefani adalah siswa , 18 tahun , warga Desa Kelei Kecamatan Pamona Timur. 

Saat dirujuk di RSUD Poso, dr. Marwan Neno juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19  Kabupaten Poso mengatakan, hasil evaluasi dokter, pemeriksaan foto dan laboratorium , Grefani menunjukkan gejala Covid 19.  Meskipun, rapid test yang dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil negatif.  Sayangnya, menurut pengakuan dr. Marwan, pengambilan sampel untuk SWAB PCR tidak sempat dilakukan oleh karena kondisi pasien yang sudah semakin lemah. Namun dalam konferensi pers, Kamis 30 April 2020, dr. Marwan menyebutkan saat ini pihaknya sedang menunggu hasil SWAB PCR .

Perjalanan perawatan Grefani hingga akhirnya meninggal dunia menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa efektif form screening Covid-19 dalam mendeteksi Covid-19 dan pentingnya upaya melakukan penelusuran jejak Covid-19 dalam catatan sejarah perjalanan orang per orang. Ini karena, rapid test terbatas  hanya di RSUD Poso, sementara SWAB PCR tidak tersedia di Kabupaten Poso bahkan Sulawesi Tengah. Sampel yang diambil dari pasien perlu dikirimkan ke Makasar, Sulawesi Selatan. Hasil positif atau negatif baru bisa didapatkan seminggu kemudian. 

Dokter Mardi, dalam wawancara dengan mosintuwu.com menyebutkan Grefani dirawat sebagai pasien umum dan ditempatkan di bangsal bersama pasien yang lain. Dokter Mardi beralasan :

“Data di form screening Covid-19 , pasien tidak ada yang menjurus ke PDP, ODP dan OTG , jadi kami merawat status pasien ini sebagai pasien umum. Jadi penggunaan APD-nya adalah APD level satu di ruangan, yaitu masker dan hanscoon” 

Sebelum peristiwa meninggalnya Grefani, Selasa 28 April 2020, jumlah pasien positif covid 19 di Poso bertambah 3 orang menjadi 6 orang. Dua orang diantaranya adalah tenaga medis yaitu NU (38) yang bertugas di puskesmas Lawanga dan NM (33) yang bertugas di puskesmas Tangkura.  Satu pasien lagi berinisial J tertular karena kontak dengan pasien pertama covid 19 atau pasien 01 yang sudah lebih dulu dirawat. 

Tertularnya dua orang tenaga medis ini membuktikan kurangnya APD yang disiapkan untuk para tenaga medis, sehingga berakibat fatal saat melaksanakan tugas menangani  pasien. Dalam kasus di Poso, kedua tenaga medis ini tertular dari pasien umum yang tidak diketahui riwayat penyakit atau perjalanannya. Dugaan kedua petugas medis ini tertular saat bertugas merawat pasien dibenarkan oleh dokter Marwan. Menurutnya, keduanya melakukan kontak dengan orang yang tidak diketahui identitasnya. Saat ini pihak RSUD Poso masih melakukan pemeriksaan terhadap perawat lainnya untuk mengetahui kemungkinan masih ada yang tertular. Namun kemungkinan itu sangat besar. Pasca adanya petugas medis yang tertular ini, ruang IGD RSUD Poso disterilkan untuk mengantisipasi penularan virus ini.

Sementara itu, saat Grefani dirawat inap di RSU Sinar Kasih Tentena, dokter dan perawat yang merawatnya tidak menggunakan APD yang lengkap. Hanya menggunakan masker dan handscoon . Alasannya, hasil form screening tidak menunjukkan pasien ini gejala Covid-19 . Meskipun Grefani sudah meninggal dan dimakamkan dengan protokol pasien Covid-19, para dokter dan perawat di RSU Tentena yang pernah merawat Grefani dengan hanya menggunakan APD level 1 direkomendasikan untuk menunggu hasil SWAB PCR. Dokter Mardi berpendapat lain, daripada menunggu hasil SWAB PCR , mereka meminta agar seluruh dokter dan perawat bisa mendapatkan akses untuk rapid test.

Baca Juga :  22 Desember : Memaknai Hari Gerakan Perempuan Indonesia di Poso

Perkara test pasien hanya satu soal. Soal lainnya yang dihadapi para medis adalah ketersediaan APD.

Sebuah pesan instan beredar sejak minggu terakhir bulan April 2020. Pesan singkat yang beredar ini berisi kekesalan seorang perawat di sebuah puskesmas di Poso atas kurangnya alat perlindungan diri atau APD yang mereka dapatkan dalam menjalankan tugas. Terutama ketika menangani pasien dengan gejala Covid 19. Kekesalan itu bertambah karena seorang rekan sejawatnya akhirnya dinyatakan positif berdasarkan hasil rapid test. Laman katadata tanggal 14 April 2020 menyebutkan ada 32 dokter dan 12 perawat meninggal dalam tugasnya menangani penderita Covid 19. Di Indonesia menurut data BNPB jumlah dokter spesialis sebanyak 34,649 orang, jumlah yang tidak sebanding dengan populasi di Indonesia. Dari 20 orang dokter yang meninggal karena covid 19, setengahnya adalah dokter gigi.

Keluhan yang diungkap perawat di Poso mengenai kekurangan APD juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Per tanggal 12 April 2020, tercatat 12 orang perawat di Indonesia meninggal karena tertular Corona akibat APD yang mereka gunakan tidak memadai. Kekurangan APD bukan hanya terjadi di Puskesmas saja. Dua rumah sakit terbesar di Poso, RSUD Poso dan RSU Sinar Kasih Tentena juga mengalaminya.

Direktur RSUD Poso dokter Hasmar Massalindri dalam wawancara dengan tim media mosintuwu.com mengatakan mereka mengalami kekurangan APD mulai dari masker sampai baju Hazmat. Dalam sehari, RSUD Poso membutuhkan sekurangnya 300 masker untuk dokter dan perawat yang melayani pasien, baik pasien umum maupun ODP, PDP, OTG dan yang sudah positif Covid 19. Hal sama juga diungkapkan ketua posko Covid 19 RSU Sinar Kasih Tentena, dokter Mardi Tado’u. Menurut dia, masih dibutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan masker, khususnya masker N95 yang khusus dipakai perawat serta baju hazmat dan pelindung wajah.

Dokter Hasmar sendiri mengatakan, mereka sudah memesan masker dan baju pelindung sejak beberapa bulan lalu. Namun sampai saat ini pesanan itu belum juga tiba. Hal itu terjadi karena diseluruh dunia sedang mengalami kekurangan APD. Meski begitu, baik RSUD Poso maupun RSU sinar kasih masih menerima bantuan APD dari provinsi meskipun jumlahnya masih minim.

Kekurangan APD berupa masker N95 dan masker bedah juga dikeluhkan perawat di RSU Anutapura, salah satu rumah sakit rujukan pasien Covid 19 di kota Palu. Dikutip dari laman kabarselebes.id, para petugas medis di RSU milik pemkot Palu ini mengaku, seharusnya ketersediaan masker bedah minimal 1.120 lembar per 5 pekan. Untuk masker N 95, selayaknya tersedia 309 lembar untuk tiap bulannya di ruang isolasi. Sementara ketersediaan stok yang mereka miliki saat ini hanya tersisa 140 lembar.

Selain APD, sebagai rumah sakit rujukan pasien Covid 19, RSUD Poso juga masih mengalami kekurangan peralatan penting lainnya untuk merawat pasien Covid 19 yakni Ventilator. Saat ini baru tersedia 1 unit. Padahal peralatan ini merupakan alat bantu pernapasan untuk pasien yang mengalami penumonia atau sesak napas. dr Hasmar mengatakan, pihaknya sudah mengajukan permintaan penambahan Ventilator ke pemerintah pusat. Untuk merawat pasien, saat ini RSUD Poso terdapat 20 dokter ahli, 10 dokter umum, 600 orang perawat yang akan dikerahkan jika jumlah pasien bertambah banyak.  

Jika RSUD Poso sebagai rumah sakit rujukan masih memiliki kesiapan perlengkapan maupun peralatan terbatas, hal sama juga dialami RSU Sinar Kasih Tentena. Meskipun bukan rumah sakit rujukan, namun posisinya menjadi sangat penting sebagai penyangga jika pasien Covid 19 terus bertambah di kabupaten Poso. Ketua Satgas posko Covid 19 RSU Sinar Kasih, dr. Mardi Tado’u mengatakan, tidak tertutup kemungkinan ada pasien dengan gejala Covid 19 datang memeriksakan diri kesini. Pernyataan ini sangat beralasan bila melihat data terakhir orang-orang yang memiliki potensi tertular Covid 19 di wilayah Pamona bersaudara. Misalnya, ada 18 orang berkategori OTG dan 4 orang kategori ODP di 4 kecamatan diwilayah Pamona bersaudara. Untuk persiapan merawat orang dengan kategori OPD, OTG atau PDP, RSU Sinar Kasih tidak memiliki ventilator, hanya terdapat 3 dokter umum ditambah 1 dokter ahli kandungan dan 15 perawat yang setiap hari siaga. 

Selain tenaga medis RSU Sinar Kasih juga mengalami kekurangan APD seperti masker dan pelindung wajah serta baju pelindung berstandar. Ditengah kekurangan masker, dokter Mardi memberi kebijakan untuk menggunakan kembali masker yang terlebih dahulu di cuci. Namun itu bisa dilakukan jika belum melakukan sentuhan dengan pasien bergejala Covid 19. Sebanyak 2 ruangan khusus disiapkan didiujung rumah sakit, dengan kapasitas total 5 tempat tidur.

Baca Juga :  Geospasial, Cara Anak Muda Rencanakan Desa Membangun Paska Bencana

1 Orang Meninggal, Ratusan Orang Sangat Mungkin Tertular

Grefani menjadi pasien pertama di kabupaten Poso yang dimakamkan dengan protokol pemakaman pasien Covid 19 . Grefani dimakamkan di pemakaman khusus yang disiapkan pemda Poso di kelurahan Tegal Rejo, Poso Kota Utara. Ada dua lokasi pemakamanan yang disiapkan pemerintah daerah yakni belakang kantor pembantu gubernur kelurahan Gebang Rejo dan kelurahan Tegal Rejo. Kedua lokasi pemakaman khusus ini telah disiapkan sejak bulan lalu.

Dari keterangan dokter Marwan Neno, diketahui bahwa saat dirawat dokter tidak sempat mengambil sampel untuk pemeriksaan SWAB PCR terhadap Grefani. Sehingga akan dicatat sebagai pasien yang meninggal dengan status PDP meskipun gejala klinisnya menunjukkan kecenderungan dia menderita Covid 19. Diketahui Grefani pernah melakukan perjalanan ke kabupaten Sidrap, Sulsel. Ada dugaan dirinya tertular di wilayah itu. Jika itu yang terjadi maka pemeriintah harus memeriksa semua orang yang pernah melakukan kontak dengannya saat dia kembali ke kampungnya. Sebab ada potensi orang yang melakukan kontak dengannya juga ikut tertular. Apalagi, setelah sempat dirawat di RSU Sinar Kasih Tentena, Grefani sempat pulang ke rumahnya di Desa Kelei, sebelum akhirnya masuk lagi ke RSU Tentena lalu di rujuk ke RSUD Poso.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperbarui pedoman bahwa orang yang meninggal bergejala klinis diduga Covid-19 harus dimasukkan sebagai korban  pandemi. Mengacu pada pedoman yang diperbarui pada 11 April 2020 ini, jumlah korban jiwa akibat Covid-19 di Indonesia bisa diasumsikan mencapai tiga kali lipat lebih banyak dari angka yang dirilis pemerintah.

Disebutkan dalam laman WHO, sesuai definisi ini, kematian orang yang dipastikan telah atau diduga terpapar virus ini harus dilaporkan sebagai kematian terkait Covid-19. Hal ini dikecualikan jika ada penyebab lain yang tak terkait Covid-19, misalnya benturan. Dalam laporan WHO pada 23 April 2020, kematian kumulatif akibat Covid-19 di lima provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, mencapai 2.073 orang. Dari jumlah itu, 35,4 persen terkonfirmasi positif Covid-19 melalui tes dengan reaksi rantai polimerase (PCR). Sementara sisanya diduga terkait Covid-19.

”Panduan WHO ini seharusnya menjadi acuan pemerintah dalam melaporkan jumlah korban akibat Covid-19 karena lebih memberikan gambaran riil,” kata peneliti biostatistik Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Ridzi Fahdri Elyasar, Rabu (29/4/2020) sebagaimana dikutip dari kompas.id . Menurut dia, data kematian di lima provinsi itu memasukkan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) yang meninggal. Laporcovid19.org mendata, jumlah PDP dan ODP yang meninggal di sejumlah daerah rata-rata tiga kali lipat ketimbang korban jiwa yang terkonfirmasi melalui tes PCR.

Data terakhir dari gugus tugas percepatan penanganan Covid 19 kabupaten Poso menyebutkan saat ini ada 3 pasien berstatus PDP, 16 orang ODP dan 84 orang OTG. Pasien PDP tersebar di wilayah sebagai berikut. 1 orang di kecamatan Lage, 1 orang di kecamatan Poso Kota dan 1 orang di kecamatan Pamona Timur. 

Data dari laman resmi pemerintah Sulawesi Selatan, covid19.sulselprov.go.id per Kamis 30 April 2020 menunjukkan kabupaten Sidrap atau Sidenreng Rappang terdapat ada 21 kasus positif Covid 19 dimana 12 orang dirawat. Di Sulawesi Selatan total ada 306 kasus positif Covid 19 dengan 37 orang diantaranya meninggal dunia dan 122 orang sembuh.

Baca Juga :  Transformasi Gerakan Perempuan Poso untuk Keadilan

Rawan Wilayah, Minim Penanganan.

Tanggal 15 April 2020 pasien positif Covid pertama diumumkan di Poso. Selanjutnya  21 April, Gugus tugas kabupaten Poso mengumumkan ada 12 orang warga yang positif Covid 19 berdasarkan hasil Rapid Test. Jumat malam 24 April 2020, diketahui ada 2 orang yang positif berdasarkan hasil pemeriksaan SWAB PCR. Selanjutnya tanggal 28 April 2020, jumlah pasien positif bertambah 3 orang lagi, 2 orang diantaranya adalah tenaga medis, 1 orang lainnya tertular karena pernah melakukan kontak dengan pasien Covid 19 pertama di Poso.

Jumlah kasus positif Covid 19 atau Corona di kabupaten Poso hingga Kamis 30 April 2020 berjumlah 6 orang. Jumlah ini masih dimungkinkan bertambah. Salah satu indikatornya adalah bertambahnya jumlah Orang Tanpa gejala atau OTG dari 63 orang menjadi 84 orang. Terjadi penambahan sebanyak 21 orang hanya dalam sepekan. OTG menjadi salah satu kategori yang penting untuk diberikan edukasi agar benar-benar menjalani isolasi ketat. Sebab, mereka dengan kategori ini paling cepat menularkan wabah ini kepada orang lain. Kepala dinas kesehatan provinsi dr. Reni Lamadjido mengatakan sekitar 60 sampai 70 persen orang berkategori OTG ada di tengah masyarakat.

Jika melihat kasus pasien G yang sebelumnya tidak termasuk ODP atau OTG maka kemungkinan adanya pasien lain yang positif Covid 19 bisa saja terjadi. Pengalaman tertularnya dua petugas medis MU dan NM menunjukkan ditengah masyarakat kabupaten Poso saat ini banyak yang sudah positif Covid 19 namun belum terdata. Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, OTG menjadi semacam pembunuh paling berbahaya karena tidak terlihat sakit. 

Selain OTG disebutkan pula oleh Doni Monardo bahwa 76 persen anak muda bisa menjadi pembunuh senyap dalam kasus Covid 19. Hal itu karena mobilitas mereka yang tinggi berpindah dari satu tempat ke tempat lain sehingga mudah terpapar virus Corona. Karena tubuh yang masih segar, biasanya anak-anak muda seperti ini tidak sadar kalau mereka suda menjadi orang yang menularkan virus itu kepada orang lain, terutama orang tua dan orang sakit.

Data surveilance gugus tugas kabupaten Poso menyebutkan, pasien pertama Covid 19 berada di kecamatan Poso Kota. Pasien kedua beralamat di kecamatan Poso Kota Utara, pasien Covid 19 ke 3 berasal dari  kecamatan Pamona Selatan.  Kecamatan Poso Kota dan Poso Kota Utara serta Pamona Selatan, Poso Pesisir, Poso Pesisir Selatan menjadi wiayah yang memerlukan pertimbangan serius jika ingin berkunjung karena sesuatu hal yang sangat penting. 

Seberapa rawan wilayah ini berkaitan dengan potensi menjadi lokasi penyebaran kasus Covid 19 di kabupaten Poso. Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 menunjukkan : dari 6 orang pasien positif Covid 19 tercatat ada 2 orang  di kecamatan Poso Kota Utara. 1 orang di kecamatan Poso Kota, 1 orang di kecamatan Poso Pesisir, 1 orang di kecamatan Poso pesisir Selatan dan 1 orang di kecamatan Pamona Selatan. Dari 84 orang dengan kategori OTG. Sebanyak 32 orang ada di kecamatan Poso Kota Utara. 13 orang di Pamona Selatan, 12 orang di kecamatan Poso Pesisir Selatan, 12 orang di kecamatan Poso Pesisir, 5 orang di kecamatan Poso Kota dan 3 orang di kecamatan Poso Kota Selatan. Selain kategori OTG, wilayah seperti Lage dan Poso Kota juga punya catatan pasien PDP masing-masing 1 orang serta kecamatan Pamona Timur 1 orang. 

Membayangkan penyebaran OTG di berbagai tempat di Kabupaten Poso, mempertimbangkan kondisi geografis Kabupaten Poso yang diapit 5 kabupaten dengan data pasien positif Covid-19 , sementara alat tes terbatas bahkan membutuhkan waktu yang lama , bisa jadi Kabupaten Poso adalah potret nasib warga yang secara sistematis didesak untuk mengandalkan sistem imun tubuh saja. 


Catatan Redaksi :

Penyebutan nama dan asal pasien dilakukan untuk kepentingan masyarakat dan pemerintah guna lakukan penelusuran jejak pasien di masa wabah pandemi Covid-19. Semua pihak perlu menghindar dari stigmatisasi terhadap Grefani maupun orang-orang lain yang mungkin tertular.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda