Lumbung Padi dan Cerita Wabah

0
185
Buho. Salah satu bekas lumbung padi keluarga di Lore Selatan . Foto : Mosintuwu/Lian

Padi memiliki sukma. Lumbung adalah tempat untuk menenangkannya. Padi dan lumbung, mengambil bagian penting dalam kehidupan orang Pamona, Poso. Sejak masa tanam hingga panen dan menyimpan hasil panen memiliki proses yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam sebuah tradisi. Dalam tulisannya, Budayawan Poso, Yustinus Hokey, menyebutkan serangkaian tradisi yang dilakukan menggambarkan kesungguhan orang Pamona memaknai Padi bukan hanya sebagai sumber makan tapi juga kebersamaan. 

Tradisi ini dimulai dari  potongan padi diangkut dari sawah, yang diikuti prosesi  yang disebut Pangore. Pangore dimaknai sebagai sebuah tradisi yang mengangkat sukma padi. Padi diikat rapi, dikeringkan dengam menyusunnya berjejer di Baora, sebuah wadah pengeringan padi selama 2 minggu. Setelah dua minggu selanjutnya padi diangkut ke lumbung. Membawa padi dari Baora ke lumbung merupakan tahapan lain yang penting, yang disebut Tawanggu. Prosesi Tawanggu, yaitu memasukkan padi ke lumbung tidak sembarangan orang boleh melakukannya. Orang-orang tua perempuanlah yang menyambut padi dan mengaturnya . Pengaturan padi di dalam lumbung ini disebut Ndanyumpi. 

Saat ikatan pertama masuk kedalam lumbung, diiringi sapaan :

Anaku bale bangkondo /Petutu ngka roo roo 
Bale bangkondo anaku 
Petutu ngkayore yau
Anaku yang kusayangi
Berdiamlah dengan tenang

Padi digambarkan sebagai seorang anak yang disayangi, diletakkan di lumbung agar tenang sukmanya. Lumbung, bagi orang Pamona di Poso bukan hanya sebuah penyimpanan pangan, tapi jaminan keberlanjutan hidup. Padi yang diletakkan di dalam lumbung dalam sejarahnya terdiri dari padi yang akan dijadikan bibit , dan padi yang akan dikonsumsi untuk melanjutkan kehidupan. Karena itu, lumbung padi menjadi simbol keberlanjutan hidup. 

Dalam catatan sejarah Indonesia, lumbung menjadi jaminan atas ketidakpastian keadaan yang bisa mengancam pangan. Perang, perubahan cuaca, serangan hama yang terjadi sewaktu-waktu pada masa lalu memiliki jaminan keberlangsungan hidup dengan adanya lumbung. Iwan Fals, dalam lagunya Desa, mengambarkan fungsi lumbung dengan riang :

Baca Juga :  Relawan Saling Jaga: Mobil Hampir Masuk Jurang dan Harapan Seorang Nenek Panti Jompo

Di lumbung kita menabung/Da­tang pace­klik kita tak bingung/Ma­sa panen masa berpesta/Itu­lah harapan kita semua.

Dalam sejarah wabah di Kabupaten Poso, catatan Graubauer dan Kruyt menyebutkan kebijakan yang dikeluarkan Tadumburake ( imam perempuan ) saat itu : jika suatu kampung terinfeksi oleh suatu wabah, maka kampung itu diisolasi dalam waktu satu minggu, dengan simbol dikibarkannya bendera putih; tidak boleh seorangpun memasuki atau meninggalkan kampung itu. (Henley, 2005: 292-293). 

Catatan ini menunjukkan Isolasi / karantina wilayah atau lockdown sudah berlaku sejak berabad yang lalu, untuk mencegah meluasnya wabah. Bisa dipastikan dalam masa itu ketersediaan pangan bukan menjadi masalah bagi penduduk yang dikarantina. Karena ada lumbung padi. 

Masa sekarang, ada wabah Covid-19. Vaksin belum ditemukan. Jumlah positif Covid-19 bertambah setiap jam, demikian pula angka yang meninggal dunia. Para ahli memperkirakan membutuhkan waktu setidaknya setahun hingga vaksin bisa dipakai pertama kali oleh pasien. Kebijakan jaga jarak dan di rumah saja mendesak orang-orang tidak lagi dapat bekerja. Padahal bagi sebagian besar warga, bekerja untuk makan hari ini. Apalagi diikuti harga bahan makanan pelan namun pasti naik ditengah menurunnya daya beli. Bahan makanan kemungkinan akan menjadi persoalan serius hingga ke kampung-kampung. Termasuk kampung-kampung penghasil beras.  Harga beras di pasar sudah sampai Rp 600 ribu/50kg. Jauh sebelum wabah datang, para petani sudah banyak kehilangan tanah, menjadi buruh tani di tanahnya sendiri. 

Petani sedang mosangki, atau panen dengan cara tradisional. Foto : Dok. Mosintuwu/Pian

Jangankan menaruh padi di lumbung, hasil panen lebih banyak digunakan untuk membayar pinjaman. Sebagian petani, membeli beras. Biaya pengolahan sawah makin tinggi. Terutama karena harga pupuk kimia yang terus naik dan semakin banyak jenisnya. Adanya kebutuhan membayar upah untuk persiapan lahan, proses panen hingga biaya penggilingan. 

Kabupaten Poso, katanya salah satu lumbung beras Sulteng. Tapi, persediaan beras ditengah wabah hanya bisa bertahan sampai bulan Juni. Demikian pernyataan kepala dinas pertanian Poso, Suratno Dikutip dari laman industry.co.id. Persediaan beras dari hasil panen  bulan Maret-April sebanyak 5,690 ton. Sementara, perkiraan kebutuhan beras untuk seluruh rakyat Poso sekitar 2 ribu ton perbulan. 

Beras yang dihasilkan petani sejak Januari hingga April  di Kabupaten Poso cukup banyak. Mencapai 15,090 ton dari 6,633 hektar sawah.  Optimisme itu bertambah dengan prediksi adanya ketambahan panen pada bulan Juni nanti dari 3,438 hektar. Akan tetapi, meski berlimpah, harganya tidak semakin murah. Menurut BPS, tahun 2019 harga beras  per kilogram di seluruh kecamatan di kabupaten Poso antara Rp 9,000 sampai Rp 10,000/kg. Namun, pada akhir Maret tahun 2020, harganya sudah naik sampai Rp13,000/kg.

Baca Juga :  DPRD Poso : Dukung Keruk Dasar Sungai Danau Poso Demi Hotel dan Taman Air

Selain semakin jarang menyimpan beras. Daya beli petani atau NTP juga turun. Data yang dikeluarkan BPS Sulteng menyebut, NTP bulan Maret turun menjadi 96,72 persen. NTP menjadi salah satu indikator untuk melihat daya beli petani di perdesaan. Jika NTP kurang dari 100, berarti petani mengalami defisit. Pendapatan petani turun, pengeluaran lebih besar. 

Berti, seorang petani di desa Gintu, Lore Selatan bernostalgia tentang lumbung di desanya.  Lumbung atau Buho dalam bahasa Bada hanya tinggal bangunan untuk dipotret turis yang berkunjung di desa. Tidak ada lagi sistem penyimpanan beras secara bersama. Teknologi panen dan pasca panen sudah merubah sistem lama itu. Tidak ada lagi padi yang diikat lalu disimpan di lumbung. Sekarang padi yang sudah dirontokkan mesin Huller atau Odong-Odong ditaruh dikarung, lalu dititip di gudang. Ada juga yang menyimpan dirumah. Masing-masing menyimpan berasnya. 

Salah seorang pemilik kios yang menjual beras di Gintu, mengatakan, setiap kali habis panen, lembah Bada ramai para pembeli beras yang datang dari luar. Dia memperkirakan setiap hari ratusan karung beras dibawa keluar dari wilayah itu. “Yang disimpan hanya untuk makan dan untuk bibit. Tapi kalau ada kebutuhan mendadak kita jual,”kata Adi, petani di Gintu. Mereka masih beruntung, masih ada untuk dimakan dan untuk bibit. 

Tapi, tidak untuk jangka waktu yang lama, karena lumbung tidak ada. 

Di rumah saja dan jaga jarak diterapkan. AKtivitas menjadi terbatas. Tapi kita tidak punya pilihan cara  efektif untuk mencegah penularan wabah yang mematikan. Belum ada penetapan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Kabupatan Poso. Namun, orang-orang mulai mengkhawatirkan persediaan beras di rumah. Harga bahan pangan terus naik.  Sawah dan kebun sudah terlanjur dijual. Tanah yang masih ada punya beban pengelolaan. Dan, tidak ada lumbung pangan. 

Bagikan
Artikel SebelumnyaPandemi adalah Sebuah Portal
Artikel SelanjutnyaMenakar Kesiapan Penanganan Covid-19 di Poso
Lian Gogali
Lian Gogali , peneliti dan penulis. Lahir dan besar di Kabupaten Poso. Mengenyam pendidikan S1 dan S2 di Jogjakarta, sebelum memutuskan pulang kampung dan mendirikan organisasi masyarakat akar rumput, Institut Mosintuwu di tahun 2009. Mendirikan sekolah perempuan dan sekolah pembaharu desa, dan radio komunitas. Aktif melakukan penelitian dan menulis tentang isu sosial kebudayaan di Kabupaten Poso.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda