Lambat, Mati Kita : Perempuan yang Melawan Corona

0
549
Seorang ibu sedang membaca buklet informasi tentang Covid-19 yang disebarkan oleh tim saling jaga Posko Info Covid-19. Tim Saling Jaga tersebar di desa-desa di Kabupaten Poso, 1 desa di Kab.Parigi Moutong dan 1 desa di Kab. Donggala. Foto : Mosintuwu/Ray

“Jangan lambat gerakan” cetus Mama Ning “ lambat gerakan, mati kita” lanjutnya.

Demikian Mama Ning menyahuti keheranan kepala dusun di desanya yang melihat baliho berukuran 1,5 meter x 1 meter terpasang di halaman rumahnya. Baliho itu berisi informasi tentang Covid-19 dan cara pencegahan penularannya. Kepala dusun bertambah heran, warga di sekitar rumahnya sudah lebih dulu mendapat informasi tentang Covid-19. Mereka berdatangan datang membaca baliho di rumah Mama Ning. Demikian pula warga yang kebetulan lewat, langsung singgah membaca informasi. Bukan hanya baliho, Mama Ning menempelkan lembar-lembar informasi tentang Covid-19 di dinding rumahnya.

“Supaya mudah dibaca masyarakat tanpa harus pegang kertas bergantian” jelasnya.

Ronald Kayori, salah satu tokoh masyarakat ikut heran. Ronal lebih dulu mendapatkan informasi tentang rencana posko informasi Covid-19 saat mengikuti pertemuan di kantor Mosintuwu. Bahkan, mama Ning mendapatkan informasi tentang rencana ini darinya. Di tempatnya sendiri, belum ada posko.

Keheranan kedua tokoh masyarakat di desanya itu direspon Mama Ning dengan tegas “ so itu kok lambat gerakan” lalu menambahkan bahwa lambat gerakan akan menyebabkan resiko semakin besar termasuk kematian. Sekarang, posko informasi yang didirikan Mama Ning sudah melayani informasi kepada lebih dari 100 orang di wilayahnya. Bahkan, 3 hari setelah mendirikan posko informasi di rumahnya, Mama Ning 4 kali bolak-balik ke kantor Mosintuwu untuk menfasilitasi 4 posko informasi lainnya di dusun lainnya yang cukup terpencil. Posko informasi Covid-19 yang diinisiasinya kemudian mendorong warga melaksanakan anjuran penyediaan cuci tangan di rumah, menggunakan masker dan semprotan disinfektan.

Pagi hari lainnya, dua perempuan muda mendatangi kami. Salah satunya, Ronaya, relawan posko informasi Covid-19 di wilayah Palapa, Kelurahan Pamona. Ronaya bercerita tentang antusiasme warga atas posko informasi yang didirikan di wilayahnya. Maklum, warga di wilayah Palapa yang adalah para pengungsi akibat konflik kekerasan di Poso berada di pemukiman yang jauh dari keramaian. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani penyadap karet dan buruh.

Baca Juga :  Petani, Mereka yang Makin Kurang Merdeka

“Sebenarnya saya hanya berjalan ke tetangga kiri kanan sekitar 5 rumah, tapi berita soal posko informasi langsung tersebar. Dalam dua hari, kami kehabisan bahan disinfektan karena semua warga datang dan mau bikin di rumah sendiri”

Rupanya, menurutnya kebutuhan informasi tentang Covid-19 menjadi kebutuhan utama warga di wilayahnya. Selama 3 hari secara bergantian warga mendatangi posko bukan hanya untuk mendapatkan informasi tapi juga petunjuk dasar pembuatan disinfektan. Ketika bahan habis, Ronaya sigap merespon kebutuhan warga dengan mendatangi kami.

Kesigapan dua ibu relawan posko informasi Covid-19 ini menjadi kekuatan utama berjalannya posko. Bukan hanya Mama Ning dan Ronaya, camat Lore Selatan, Ruli segera mengumpulkan seluruh kepala desa di wilayahnya untuk membuat Posko Informasi Covid-19. Respon cepat ini dilakukan Rulli hanya dalam 1 jam ketika saya dan Raru mengkomunikasikan rencana pendirian posko. Meskipun sedang kurang sehat, Ruli menjemput tim saling jaga yang membawa kebutuhan posko informasi Covid-19. Enam desa di kecamatan Lore Selatan langsung mendirikan posko informasi. Ruli mengarahkan seluruh kepala desa bekerjasama dengan dusun-dusun untuk memberikan petunjuk pada warga untuk mendapatkan informasi di posko.

Ruli bahkan melintasi wilayah kewenangannya, Lore Selatan.

“Kalau wilayah saya saja yang punya informasi Covid-19, bagaimana dengan wilayah tetangga. Orang masuk ke wilayah kami ( Lore Barat ) pasti melewati wilayah Lore Selatan”

Meskipun menjadi camat di Lore Barat, Rulli tinggal di Desa Bewa Lore Selatan. Rulli berinisiatif menghubungi camat Lore Selatan, mendorong agar desa-desa di wilayah Lore Selatan turut membuka posko. Ketika tidak semua desa merespon cepat, Ruli bekerjasama dengan kelompok perempuan di Lore Selatan. Bersama Velma Riri, tim rumah AMAN Mosintuwu, Ruli menghubungi desa-desa untuk membuka posko.

Martince Baleona, tim Saling Jaga tertidur kelelahan setelah berjalan keliling di beberapa desa di Kabupaten Poso untuk membangun Posko Info Covid-19. Foto : Mosintuwu/Ray

Cerita yang sama, tentang inisiatif dan gerakan cepat perempuan di desa merespon Covid-19 terjadi di beberapa desa di Poso. Helpin, yang membuka posko di Desa Tiu, Kecamatan Pamona Timur menjelaskan bahwa kondisi geografis Desa Tiu yang merupakan perlintasan jalur Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah sudah cukup menjadi alasan mengapa mereka menjadi lebih berhati-hati dengan kemungkinan penyebarannya. Belum lagi banyaknya anak-anak muda yang pulang dari berbagai kota .

Baca Juga :  Tim Ekspedisi Poso Telusuri Wilayah Sesar Poso

Kelompok perempuan punya kecenderungan memiliki informasi yang lebih cepat mengenai data orang yang masuk ke kampung mereka. Bukan hanya siapa, tapi dari mana asal mereka. Informasi ini menjadi sangat bermanfaat untuk mendata secara mandiri orang-orang yang melakukan perjalanan sehingga perlu diawasi. Tanpa ragu, relawan posko mendorong mereka yang masuk kampung untuk melakukan karantina mandiri. Helpin bukan hanya mengajak Pemerintah Desa tapi juga mendorong anak muda untuk terlibat aktif mencegah penularan Covid-19.

“ Kita ini sudah tua, kita masih punya ingatan cerita dulu orang tua tentang wabah di kampung. Tapi anak muda sekarang baru pertama kali mengalami. Ini masa dimana generasi mereka juga terancam” jelas Helpin.

Bekerja bersama menjadi salah satu kunci yang menjadikan informasi Covid-19 menyebar merata. Yeni, yang membuka posko di Desa Salukaia , Kecamatan Pamona menceritakan bagaimana ibu-ibu di pasar Desa Salukaia berkumpul untuk mendapatkan informasi lalu menyebar untuk memberikan informasi. Para perempuan ini ingin memastikan informasi diperoleh semua orang tanpa terkecuali.

“Kalau satu tidak dapat informasi, dan karena dia tidak dapat informasi lalu dia terjangkit virus, kita semua bisa dalam keadaan bahaya. Jadi ini memang harus sama-sama”

Para perempuan di desa yang bergabung dalam tim Gerakan Saling Jaga ini mencerminkan kekuatan penyembuhan melalui informasi. Mereka mungkin bukan dokter, atau perawat yang selama ini berkorban nyawa untuk mendampingi pasien Covid-19. Kekuatan mereka adalah cepat bergerak mengirimkan informasi kepada sebanyak mungkin orang sehingga semakin banyak orang terselamatkan. Paling tidak bisa membantu mencegah penularan Covid-19.  Kisah mereka akan menjadi bagian dari catatan sejarah tentang perempuan yang melawan Corona.

Baca Juga :  Velma Riri : Penyintas yang Mendampingi Korban

Hingga saat tulisan ini diterbitkan, tercatat 63 posko informasi Covid-19 di 60 desa di Kabupaten Poso . 50 posko dikelola oleh kelompok perempuan.

Pemimpin Perempuan dalam Sejarah Wabah Poso

Wilayah Poso memiliki sejarah dimana perempuan menjadi pemimpin spiritual. Tadumburake, demikian sebutan bagi imam perempuan di Poso. Para orang tua di Poso bertutur, Tadumburake adalah pemimpin perempuan yang memutuskan waktu-waktu yang tepat bagi masyarakat. Misalnya, waktu yang tepat untuk menanam, waktu untuk menikah, waktu untuk melakukan sebuah kegiatan. Tadunmburake dipercaya memiliki kedekatan pada alam dan ruang spiritualitas sehingga memiliki kebijaksanaannya sendiri.

I Gede Suprayadna menuliskan dalam artikel  Catatan Sejarah Pandemi di Poso, Terulang, saat wabah cacar melanda dunia, termasuk wilayah Poso, Kruyt mencatat keputusan yang diambil oleh Tadumburake bagi masyarakatnya. Awalnya dimulai dengan penggunaan semua obat tradisional di Poso, diikuti dengan obat-obatan dari Eropa, tapi tidak sanggup menghadapi wabah. Masih banyak yang mati. Pada masa itulah, dalam catatan Kruyt, Tadumburake membuat kebijakan jaga jarak. Tadumburake menyerukan “ larangan setiap perjumpaan dengan kampung yang terinfeksi, bila ada yang terpaksa harus melewatinya, hendaklah dilewati dengan memalingkan muka. 

Catatan Graubauer dan Kruyt juga menyebutkan kebijakan yang juga dikeluarkan saat itu : jika suatu kampung terinfeksi oleh suatu wabah, maka kampung itu diisolasi dalam waktu satu minggu, dengan simbol dikibarkannya bendera putih; tidak boleh seorangpun memasuki atau meninggalkan kampung itu. (Henley, 2005: 292-293). Isolasi / karantina wilayah atau lockdown sudah berlaku sejak berabad yang lalu, untuk mencegah meluasnya wabah.

Bukan hanya itu, catatan Adriani dan Kruyt, Tadumburake juga memutuskan bahwa untuk mengurangi dampak epidemi , penduduk diminta untuk meninggalkan banua atau  rumah besar yang mereka tinggali.  Bahkan, disarankan untuk pergi ke hutan yang cukup jauh. Kebijakan inilah yang memungkinkan terputusnya rantai wabah yang mematikan.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda