Randa Ntovea: Kisah Wabah di Sulteng, Covid-19 Bukan Yang Pertama

0
1063
Pementasan drama tari "Randa Ntovea" dari Sulawesi Tengah dalam Pekan Drama Tari dan Teater Daerah Tingkat Nasional di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 1984. [TEMPO/Maman Samanhudi

Alkisah, terdapat sebuah kerajaan di Lembah Palu. Pada suatu waktu, kerajaan ini dilanda sebuah wabah. Rakyat di kerajaan itu menyakini, mereka yang terkena wabah ini sedang mendapatkan kutukan. Bagi yang meninggal karena wabah ini, arwahnya tidak akan diterima di surga. Sementara, jika ada salah satu dari penduduk di sebuah kampung di kerajaan tersebut terkena wabah ini, maka diyakini seluruh kampung terkena kutukan. Karena itu, siapapun yang terkena wabah, harus diasingkan. 

Kisah ini disampaikan turun temurun di wilayah Lembah Palu dan Donggala. Hasan Bahasuan, budayawan Kaili, mengabadikan salah satu kisahnya dalam sebuah syair lagu. Judulnya Randa Ntovea.  

Ntesa ana nu madika Kaili ( Kisah anak raja Kaili )
Nosangaka i randa ntovea ( Namanya randan ntovea (putri yang disayangi ) )
Ni Pali ri tana Jambali ranga ( Aduh kasihan, diasingkan dihutan )
Pomperapi ntodea ri madika ( Permintaan orang banyak terhadap raja )
ala masalama nu ngatana ( Untuk keselamatan kampung )

Na asi rara i randa ntovea ( Kasihan randan ntovea ( putri ) )
mbaturusi perapi ntodea  ( Menuruti permintaan orang banyak )
mbapalaisi totua mbapotovena ( Dia tinggalkan orang tua yg dia kasihi 
damo doana ri tupu ala taala ( Meminta doa pada Tuhan  )
ala rapakavoe duana ( Agar di sembuhkan penyakitnya )

Kuasa tupu ala taala ( Kuasa Tuhan )
nipakatukana bengga bula (  Dikirimkan kerbau putih )
nompakavoe dua i randa ntovea ( Menyembuhkan penyakitnya randa ntovea )
hai mo hai najadi niposabana ( Nanti itu jadi sebab sembuhnya )
nombali natambai kagayana ( Menjadi tambah cantik kembali )

Nakarebamo ri totuana ( Kabar sudah terdengar oleh orang tuanya)
madikata ri tana kaili (  Raja di tanah Kaili )
nitudunamo nipekipokiona  ( Disuruh panggil )
manjili rapoviaka adana ( Pulang Kembali ) 
moviaka ada salamana ( Dibuatkan adat agar selamat )

Baca Juga :  Banjir Ditengah Pandemi, Warga Makin Susah, Kebijakan Tidak Berubah

Lagu ini bercerita tentang seorang putri raja yang terkena sebuah penyakit menular. Karena takut ketularan, rakyatnya memohon kepada sang raja, agar mengasingkan putrinya ke tempat terpencil. Permohonan ini disampaikan  demi keselamatan seluruh warga. 

Laman historia.id  menuliskan penyakit cacar  pernah melanda Midden Celebes atau Sulawesi Tengah sekitar tahun 1658. Selain Sulawesi Tengah, wilayah lainnya adalah  Kalimantan, Ternate dan Maluku. Dalam catatan sejarah, orang-orang yang terkena cacar pada waktu itu harus diasingkan. Pengasingan ini dilakukan karena penderita cacar  dianggap membawa sial dan tidak diterima di sorga. Bahkan, mereka yang mengalami cacar dan tidak sembuh, pada akhirnya dikeluarkan dari lingkungan leluhurnya.  

Catatan ini serupa dengan syair lagu Randa nTovea. Randa nTovea diyakini merupakan seorang anak perempuan. Penyakit cacar saat itu kebanyakan menyerang anak-anak di bawah 12 tahun. Karena itu orang Belanda menyebutnya kinderziekte, anak yang sedang tumbuh giginya. 

Sejarah mencatat, Covid 19 atau Corona bukanlah wabah pertama yang yang menyerang Sulawesi Tengah. Banyak catatan sejarah tentang penyakit menular dimasa lalu disampaikan baik lewat dokumen Kolonial, koran hingga syair lagu. Salah satunya lagu berjudul Randa nTovea, ciptaan seniman besar Sulteng asal Palu, Hasan Bahasuan.

Sejarawan Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST) Mohamad Herianto menulis catatan sejarah penyakit menular di Midden Celebes khususnya kota Palu. Catatan ini merujuk pada arsip-arsip kolonial mengenai satu penyakit yang menjadi pandemi  global saat itu yakni Flu Spanyol yang menyerang tahun 1918-1919. Sekitar 500 juta penduduk dunia terinfeksi, sekitar 50 juta meninggal. Virus ini lebih mematikan ketimbang perang dunia pertama yang berakhir pada tahun itu.

Baca Juga :  Gusdurian Peduli Berbagi Bahan Pokok di Masa Sulit
Warta surat kabar Sulteng Post, tentang wabah Flu Mao di Kota Palu, tahun 1970. Foto: Historia Sulteng

Wabah penyakit di lembah Palu terdokumentasikan dalam beberapa arsip seperti koran. Pada tahun 1918, saat Dunia bergelut dengan wabah Flu Spanyol, Lembah Palu juga menjadi daerah yang terinfeksi oleh virus tersebut. Tercatat, hampir sepertiga penduduk Lembah Palu meninggal oleh epedemi tersebut. 

Di tepi danau Poso, sekitar tahun 1920an banyak orang meninggal dunia bersamaan mewabahnya ‘Jua Lele’ atau penyakit menular. Tahun-tahun itu daerah lain di Nusantara dan dunia memang tengah dilanda dua pandemi yang ganas. Flu Spanyol dan Pes.

Beberapa tahun sebelum itu, daerah Midden Celebes termasuk Lembah Palu pun terserang wabah penyakit Kolera. Arsip Kolonial menuliskan, bahwa wabah Kolera kala itu disebabkan oleh cara hidup yang kurang sehat, salah satunya yaitu kotoran hewan, kejadian luar biasa tersebut kemudian dikenang oleh penduduk Lembah Palu dengan nama Penyakit ‘Rumpa Datu’.

Tahun 1942, Kota Palu kembali diserang wabah penyakit Kusta atau Lepra , sejumlah wilayah pun di isolir karena penyakit tersebut. Orang di Lembah Palu menyebutnya sebagai penyakit Lampa Vau atau Dua Oge. Oleh Pemerintah Kolonial Belanda kemudian dibangunlah gedung isolasi penderita Lepra yang disebut Lepratoruim di Desa Watusampu. Lamanya masa penyakit tersebut, memaksa pemerintah Indonesia masa Orde Baru, membangun rumah sakit penderita Lepra yang disebut sebagai Sanatorium. Rumah sakit ini bertempat di Desa Kawatuna.

Baca Juga :  Lulus di Sekolah Perempuan: Jembatan Damai untuk Keadilan itu Sudah Dibangun

Epedemi di Lembah Palu juga tercatat di tahun 1970, saat Virus Flu Mao menyerang penduduk Kota Palu. Surat Kabar Sulteng Post mewartakan bahwa saat itu Sejumlah penduduk Kota Palu hanya bisa terbaring di atas ranjang. Virus yang juga menyerang persendian itu tak sampai memakan korban jiwa, akan tetapi mampu membuat kepanikan di Lembah Palu.

Wabah virus Corona atau Covid-19 yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) sebagai pandemi, adalah wabah terbaru dalam 50 tahun terakhir. Virus Corona dianggap menakutkan karena penyebarannya yang cepat dan muda. Melalui cairan yang terlempar dari mulut saat batuk atau bersin, melekat di benda-benda sekitar, orang lain bisa terpapar virus ini jika menyentuh benda-benda yang terkena cairan tersebut, dan  menyentuh mulut, hidung, mata. 

Saat tulisan ini dibuat 20/03/2020,  terdapat 245.484 yang terkonfirmasi positif Corona di seluruh dunia, 10.031 orang meninggal dunia. Di Indonesia terdapat  369 orang terkonfirmasi positif Corona, 320 orang dalam perawatan, 17 orang sembuh, dan 32 orang meninggal dunia.  Mereka yang dalam perawatan, sembuh dan meninggal dunia terindikasi di wilayah Bali, banten, DIY, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung dan Riau. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda