Anak Muda Memperbaiki Tanah Toaya

0
271
Hasil panen kacang dari tanah olahan yang dikerjakan oleh anak-anak muda Tana Sanggamu , Desa Toaya, menggunakan pupuk organik.

“Kita dapat lebih tangguh menghadapi bencana jika punya kedaulatan pangan, punya persediaan makanan di rumah, punya pendapatan dari panen di tanah yang tidak rusak karena bahan kimia” kata Ade.

Setelah gempa bumi disusul tsunami terjadi hari Jumat 28 September 2018, ribuan warga desa Toaya kecamatan Sindue seperti terjaga. Sumber makanan tidak tersedia, tanah yang sebelumnya diolah sebagai sumber makanan dan penghasilan sudah tidak subur lagi. Banyak yang sudah hilang dari kehidupan mereka. Salah satunya tradisi bertani yang mulai ditinggalkan untuk menjadi pegawai.

Menjadi pegawai atau bekerja di kota bagi sebagian orang di desa dianggap naik kelas . Karena itu para orang tua berlomba menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi atau hanya setingkat SMA. Tetap di desa dan jadi petani selepas kuliah dianggap tidak berhasil atau sebuah kegagalan.

Ade Nuriadin dari institut Tana Sanggamu, berbeda.  Kelompok anak muda di desa Toaya yang terbentuk paska bencana ini berupaya mengajak anak muda di desanya kembali bertani, mengolah tanah. Awalnya, mereka mendapatkan pinjaman tanah sekitar 1/2 hektar untuk diolah. Banyak orang meminjamkan tanahnya belakangan ini karena tidak diolah dengan berbagai sebab. Cara organik dipilih dengan alasan agar kesuburan tanah yang alami bisa kembali hadir setelah bertahun-tahun diguyur pupuk kimia.

Sekitar 60 persen wilayah desa Toaya adalah daratan tempat perkebunan dengan luas 868,3 hektar dengan tanaman utama adalah kelapa disusul pisang dan kakao. Meskipun desa ini juga berada dipinggir laut teluk Donggala, namun jumlah nelayan terbilang tidak terlalu banyak. Data BPS menyebutkan, tahun 2018 tercatat hanya ada 51 perahu di desa itu dan hanya 16 perahu yang punya mesin.

Baca Juga :  Ekspedisi Poso : Menelusuri Masa Lalu Poso Ribuan Tahun

Jangankan meyakinkan anak muda untuk menjadi petani, mengajak para petani untuk menggunakan pupuk organik susahnya bukan main. Ade, Azan, Nisa, Nanang dan Fandi serta anak-anak muda lain yang tergabung di Tana Sanggamu harus memulainya supaya bisa menjadi contoh. Lahan pertanian yang mereka garap sudah terbiasa mendapatkan asupan pupuk kimia. Anak-anak muda ini lalu belajar ke beberapa ahli pertanian organik di kota Palu. Sukurlah mereka bertemu Pak Ari, seorang yang punya pengalaman dibidang itu yang memberikan nasehat bagaimana mengolah tanah di pertanian organik.

Cara organik memang kurang diminati banyak petani saat ini karena, waktu panen lebih lama, hasil lebih sedikit. Yang lebih bikin enggan karena cara ini tidak instan. Pupuk misalnya masih harus buat sendiri dari kotoran ternak misalnya.

Kembali ke soal bencana. Hanya berselang 3 hari setelah gempa meruntuhkan rumah, warga yang mengungsi ke tenda-tenda sudah kehabisan bahan makanan. Diberitakan di kompas.com, edisi 1 Oktober 2018 warga berebutan bahan makanan hingga menjarah sejumlah toko di Palu. Di Donggala, penjarahan terjadi sepekan kemudian. Sebuah gudang berisi barang campuran yang menyimpan bahan makanan ludes diambil paksa ratusan orang yang kehabisan makanan.

Baca Juga :  Sound Keliling Desa, Mengubah Wajah Lemusa

Polisi menetapkan lebih dari 100 orang sebagai tersangka kasus penjarahan. BBC.com, edisi 3 oktober 2018 memberitakan, dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi nasional, gubernur Sulteng Longki Djanggola menyebut penjarahan itu terjadi karena kondisi tidak ada bahan makanan.

Penjarahan yang dipicu tidak adanya persediaan bahan pangan itu menjadi salah satu refleksi Ade dan kawan-kawannya mengajak kembali warga, khususnya anak muda untuk bekerja menjadi petani ketimbang mencari kerja ke kota. Cara awalnya memperbaiki tanah yang sudah tergantung pupuk kimia lewat pupuk alami terlebih dahulu.

“Kita dapat lebih tangguh menghadapi bencana jika punya kedaulatan pangan, punya persediaan makanan di rumah, punya pendapatan dari panen di tanah yang tidak rusak karena bahan kimia” tegas Ade Nuriadin.

Ade dan Azan, sebagian dari anak muda yang bergabung di komunitas Tana Sanggamu bangga memamerkan hasil panen kacang mereka yang diolah menggunakan pupuk organik. Foto : Dok. Institut Tana Sanggamu

Ironis, demikian gambaran di desa yang memiliki berhektar tanah tapi tidak diolah, atau jika diolah harus tergantung pada pupuk yang disediakan oleh pabrik. Tidak ada simpanan bahan makanan yang cukup karena semua disediakan oleh pasar. Semua disediakan oleh kios dan toko. Jangankan kedaulatan pangan, ketahanan pangan masih sangat jauh.

Perubahan pekerjaan mayoritas warga dari yang tadinya petani menjadi pegawai membuat tidak ada lagi lumbung pangan komunitas tempat hasil panen disimpan. Saat panen sawah, gabah langsung dibawa ke gilingan dan beras dijual, orang akhirnya hanya mengandalkan uang sebagai modal.

Baca Juga :  John dan Metafora Bumi

Padahal Data BPS tahun 2017 menunjukkan ada 163 hektar sawah ada di desa ini. Namun pasca bencana nyaris tidak diolah lagi karena semakin sulit mendapatkan air setelah irigasi rusak. Upaya menanami sawah dengan jagung sebagai pengganti padi juga terganjal harga yang tidak menguntungkan.

Sementara kelapa sebagai tanaman utama masyarakat Toaya setiap tahun menghasilkan sekitar 2.650 ton kopra juga mengalami masalah karena harga anjlok. Sejak tahun 2018 buah kelapa tidak lagi diolah karena biayanya lebih tinggi ketimbang harga. Sedangkan nelayan pemilik perahu nyaris lumpuh setelah tsunami menghancurkan perahu yang ditambatkan. Jumlah nelayan di desa Toaya memang semakin berkurang seiring ramainya anak-anak muda mencari kerja ke kota Palu.

1/2 hektar tanah yang dikelola oleh anak muda Tana Sangamu mulai menampakkan hasil. Setelah selama hampir 4 bulan bekerja menjadi petani, di akhir bulan Desember 2019 , mereka mulai panen . Kacang tanah yang ditanam subur, seakan memberikan tanda pada mereka bahwa kepercayaan pada tanah dan pupuk organik bisa mereka lanjutkan.

Ade dan teman-temannya percaya, mengajak anak-anak muda kembali menjadi letani merupakan satu cara mengembalikan kemampuan orang Toaya menghadapi alam dengan tangguh. Modalnya , semangat dan pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda