Pembongkaran Yondo mPamona, Warga Bincangkan Sejarah dan Nilai yang Hilang

0
152
Jembatan Pamona adalah simbol mosintuwu orang Pamona serta salah satu ikon kota Tentena. Jembatan tua ini dibongkar pada Selasa, 19 November 2019, atas perintah Bupati Poso, Darmin Sigilipu, untuk kepentingan lalu lalang alat pengerukan PT Poso Energy. Foto : Dok. Aliansi Penjaga Danau Poso

Jembatan tua Pamona atau Yondo mPamona sudah dibongkar oleh pemerintah kabupaten Poso , Selasa 19 November 2019 kemarin. Puluhan orang dengan pengawalan aparat kepolisian, TNI dan Pol PP membongkar dengan menggunakan mesin sensor, linggis dan peralatan lainnya. Beragam tanggapan muncul. Pada umumnya memperdebatkan apakah jembatan ini punya nilai sejarah atau tidak.

Banyak warga yang membahasnya di media sosial menyebut jembatan ini sudah 4 kali berganti rupa. Sejak dibangun sekitar tahun 1927, banyak yang menyebutnya 1917, bahan utama yang menjadi konstruksi jembatan ini pada mulanya adalah bambu. Pada renovasi yang kedua kali, jembatan ini kemudian dipasangi atap.

Selanjutnya pada renovasi ketiga dan ke empat sudah menggunakan kayu.

Kelompok yang menyebut jembatan ini tidak punya nilai sejarah menempatkan perubahan bentuk dan bahan sebanyak 4 kali itu sebagai dalil sehingga jembatan ini sudah tidak asli lagi. Seorang politisi partai di kabupaten Poso mengatakan orang yang mengerti sejarah tidak akan terjebak dengan istilah keasilan jembatan Pamona sebagai peninggalan sejarah, karena sejarah telah membuktikan bahwa yondo mPamona sudah 4 kali dirubah dari yang asli. Dia berkesimpulan bahwa jembatan yang sudah dibongkar ini tidak asli sehingga sulit dibilang bersejarah.

Baca Juga :  Pers Release: Jaga Damai Di Tana Sintuwu MarosoPers Release: Keeping Peace in the Land of Sintuwu Maroso

Pdt Yombu Wuri, agamawan dan seniman Poso melihat jembatan ini merupakan simbol fisik budaya Mesale dan terakhir yang bisa dilihat generasi masa kini. Dia mengatakan, jika ingin mengajarkan anak-anak tentang semangat gotong royong atau Mesale cukup bawa mereka keatas jembatan dan ceritakan bagaimana jembatan itu dibangun.

Jembatan itu memang sudah beberapa kali di renovasi. Tetapi bentuk kayunya dipertahankan. Itu sebabnya untuk mengakomodir kebutuhan transportasi yang lebih besar dan berat dibangun jambatan baru, jembatan Pamona sendiri menurut Y Wuri tetap dipertahankan, secara ril dia menjadi simbol pengingat  generasi mendatang bagaimana budaya luhur leluhur mereka.

Orang yang hanya melihat melihat bangunan bersejarah sebagai sampah atau rongsokan sesungguhnya sedang ditimpa penyakit. Sejarahwan Komunitas Historia Sulawesi Tengah, Muhamad Herianto menggambarkannya sebagai pengidap busung lapar sejarah, Honger Oudema Memory yaitu nasionalisme sempit yang tega mengorbankan sejarah itu dengan dalih pembangunan.

Banyaknya orang yang menaruh perhatian terhadap jembatan ini bisa dimengerti, selain memiliki nilai sejarah, ini merupakan jembatan kayu panjang terakhir yang ada di Sulawesi Tengah (hingga 19 November 2019) dengan bentang teoritik 197 meter dan panjang total 203 meter. Banyak seniman yang terinspirasi ketika melihatnya, tidak kayori, lirik lagu maupun puisi dan artikel ditulis untuk mengabadikannya.

Baca Juga :  Waya Masapi, Ketika Bambu dan Ikan Merajut Kekeluargaan

Saat pembongkaran berlangsung, hanya sekitar 100 meter disebelah selatan, kelompok Aliansi Penjaga Danau Poso melakukan protes dengan ritual Megilu, sebuah prosesi menyerahkan persoalan itu kepada tuhan. Doa dan orasi menjadi bagian dari tradisi ini. Hajai Ancura, koordinator aksi Megilu mengatakan, apa yang mereka lakukan bukanlah akhir perjuangan menolak penguasaan danau dan sungai Poso oleh perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla itu.

Sementara warga yang menolak pembongkaran jembatan Pamona juga menyuarakan pendapatnya di media sosial. Beberapa diantaranya membandingkan sikap pemerintah di daerah dan negara lain yang menjaga dan memelihara  tempat dan bangunan bersejarahnya dengan kebijakan pemda Poso yang justru membongkarnya.

Di kabupaten Poso sejumlah warisan sejarah memang tidak mendapat tempat dan perhatian pemerintah, contohnya tugu kemerdekaan yang diresmikan presiden Soekarno tanggal 4 April 1952 atau hanya 7 tahun setelah Indonesia merdeka. Namun yang kita lihat sekarang adalah hasil pembangunan kembali yang diresmikan tahun 2011. Sebelumnya pada tahun 70an tugu itu dibongkar untuk digantikan tiang lampu hias.

Baca Juga :  Surat Terbuka Akademisi STT GKST kepada Bupati Poso : Mari Membangun dengan Kemampuan yang Ada

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda