Desaku, Ibuku. Yang Kaya dan Hampir Hilang

0
71
Helphin, fasilitator Sekolah Pembaharu Desa dalam Karnaval Festival Mosintuwu 2019 . Foto : Dok. Joshua Marunduh

Nama desaku adalah Desa Tiu, berada di wilayah kecamatan Pamona Timur. Desaku berada di jalan Trans Sulawesi yang luasnya kurang lebih 11.800 kilometer persegi dengan jumlah penduduknya 907 jiwa pada pendataan akhir Agustus 2019. Kehidupannya sangat baik dan sangat kekeluargaan. Pekerjaan penduduknya adalah bertani. 98% adalah masyarakat petani.

Pada setiap musim pengolahan sawah maka masyarakat secara gotong-royong mengerjakan sawah (berkelompok). Dalam kebersamaan itu sangat dirasaku kekeluargaan karena masyarakat saling membantu dan kegiatan gotong-royong ini dikenal dengan mesale, di mana beberapa keluarga datang membantu pada keluarga yang mesale hari itu. Itulah budaya kami orang Pamona yang ada di Desa Tiu dan ini masih terpelihara sampai sekarang.

Awalnya masyarakat Desa Tiu masih bergabung dengan Desa Tanipa, namun oleh Kepala Desa waktu itu yang adalah Ngka Ntuku maka dipandang perlu pemekaran Desa Tiu karena penduduknya sudah sangat banyak dan luas wilayah pun tidak terjangkau lagi. Sehingga pada tanggal 19 diangkatlah Bapak untuk Pekita sebagai kepala kampung yang pertama. Dan itu disetujui oleh mokok, saat itu Bapak Mangantu (Papa Naembo).

Dan bukan saja Desa Tiu yang dimekarkan tapi juga Desa Petiro secara bersamaan. Dari tahun itulah Desa Tiu mulai mengatur kehidupannya sendiri di bawah pimpinan Bapak untuk Pekita sebagai kepala desa yang pertama.

Ada pun Desa Tiu dinamakan Desa Tiu karena dulunya sebagian wilayah Desa Tiu adalah rawa yang banyak ditumbuhi oleh rumput Tiu. Oleh orang tua dulu rumput ini pun berguna untuk dibuatkan tapi yang dipakai saat bekerja di sawah atau kebun juga dapat dibuat menjadi tas (kapipi) dan juga tikar yang dipakai beralas ketika tidur pada malam hari. Itulah sekilas nama dari Desa Tiu, sesuai dan menurut cerita orang-orang tua dulu, termasuk nenek saya.

Baca Juga :  Saya Dilarang Sekolah, Digugat Cerai Karena SekolahHusband threatened to divorce because i join Women School

Desa kami punya keindahan dan kekayaan tersendiri menurut kata masyarakat yang ada, karena dia memiliki sebuah danau yang dinamakan Danau Toju dan berbagai jenis ikan yang ada di dalamnya. Ada mujair, ikan mas, ikan lek, ikan gabus bahkan ikan sidat (sogili). Desa Tiu berada pada jalan lurus Trans Sulawesi yang batasnya mulai dari pertigaan Jalasampai ke Poso sampai ke Morowali dan ke Makassar dan wilayah Desa Tiu akan dilewati ketika kita akan pergi jurusan Makassar.

Kekayaan alamnya adalah ada rotan, bambu, pandan hutan yang dapat dijadikan anyaman seperti bingka, roko, sebagai wadah penyimpan beras. Desa Tiu juga adalah sebuah desa yang indah dengan hamparan sawah yang luas yang ada di wilayah Desa Tiu. Juga Desa Tiu mempunyai lokasi kandang sapi di Buyu nToju yang mana sapi-sapi yang ada di kandang itu akan turun minum air di Danau Toju pada siang hari dan ketika sore sapi-sapi itu pun pulang di kandang. Namun sekitar tahun 2007 oleh perusahaan perkebunan dan mensurvei lokasi Buyu nToju sampai ke rawa di sekitar Danau Toju.

Baca Juga :  Forum Belajar UU Desa Antar Desa Village Networking for Village Law

Dan atas persetujuan pemerintah dan masyarakat maka perusahaan perkebunan mengolah lahan tersebut dan tersisa kandang kurang lebih hanya 2000 meter persegi saja yang dulu luasnya kurang lebih sekitar 10 hektar.

Termasuk  Danau Toju menjadi wilayah perkebunan sawit. Dan Danau Toju dahulunya dapat dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat piknik atau rekreasi baik anak-anak maupun orang dewasa. Kini tidak lagi karena yang di sekitarnya hanya pohon sawit. Dan keberadaan Danau Toju sangat memprihatinkan.

Danau yang indah dan kaya kini telah tiada. Airnya tinggal sedikit karena di bagian sekitar yang sawah sudah ditanggul oleh perusahaan dan ditanami dengan tanaman sawit. Itulah cerita mengenai Danau Toju. Kini tinggal kenangan. Danau Toju yang indah dan menakjubkan telah tiada. Keindahanmu hanya mampu kuceritakan lewat tulisan ini. Kekayaanmu telah memberiku nafkah. Kubisa ada seperti sekarang ini karena isi perutmu. Ku hanya bisa pasrah karena tak berdaya. Ingin kukembalikan keindahanmu tapi ku tak mampu dan ku tak tahu caranya. Kemanakah harus aku bertanya?

Di Festival Mosintuwu inilah kuceritakan keindahan dan kekayaanmu Desa Toju, agar setiap orang yang membacanya akan mengetahui keberadaanmu.

Sebagai masyarakat kami sangat mengagumimu sebab dahulu Danau Toju memberi ikan yang cukup untuk kebutuhan pangan bagi masyarakat, dengan menangkap ikan di danau itu, apalagi ketika pesta rakyat dirayakan seperti Padungku. Banyak sekali masyarakat yang turun ke danau untuk menangkap ikan. Karena Padungku dirayakan setelah panen padi selesai. Dan untuk persiapannya dibutuhkan waktu beberapa hari karena banyak yang harus disiapkan. Contohnya, bambu muda untuk memasak nasi bambu (Iwuyu) dan ikan. Daging serta bahan-bahan lain yang dibutuhkan.

Baca Juga :  Perempuan dalam Sejarah Poso : Tabib, Hakim dan Pemimpin Spiritual

Sehari sebelum Padungku semua masyarakat sangat sibuk, ada yang membuat kue, ada yang memasak lauk-pauk dan tidak kala sibuknya adalah pembuatan nasi bambu (Inuyu). Yang dipersiapkan bambu diisi daun pisang muda dan beras pulut diisi santan kemudian dimasak.

Dan cara memasaknya adalah dibakar dengan api besar sampai matang yang dalam bahasa Pamona disebut  nda ituwu. Saat masyarakat memasak nasi bambu itu maka kelihatanlah asap mengepul di setiap rumah warga pertanda masyarakat siap merayakan Pesta Padungku.

Pada hari Pesta Padungku itu banyak sanak-saudara/keluarga yang datang bukan saja karena Pesta Padungku, tapi juga kesempatan ini dipergunakan untuk bertemu keluarga karena kangen atau rindu (bersilaturahmi).

Pada malam harinya diadakanlah acara dero yang merupakan kesenian orang Pamona yang kesenian itu pun sangat disukai oleh anak dan orang dewasa. Itulah cerita tentang desaku dan kekayaan alamnya serta keanekaragaman hayati di dalamnya.

Desaku yang indah dan kaya dengan alamnya. Desa Tiu sangat kubanggakan.


*Penulis adalah Anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu angkatan 3 2014-2015, dan fasilitator Sekolah Pembaharu Desa. Tulisan dibuat dalam rangka Festival Mosintuwu 2019, 31 Oktober – 2 November 2019 ( Red.)

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda