Petisi Warga Poso : Suara-Suara Penjaga Tradisi Budaya Poso

0
100
Jembatan Pamona, simbol nilai mosintuwu yang masih ada di Poso, dan terancam dibongkar untuk kepentingan PT Poso Energy. Foto : Aliansi Penjaga Danau Poso.

Danau Poso adalah satu dari 10 danau Purba di dunia. Tapi, sejarah, kebudayaan dan ekosistem Danau Poso akan dirusak dan dihilangkan untuk kepentingan PLTA Sulewana.  PLTA Sulewana milik PT Poso Energy membutuhkan debit air lebih banyak untuk menjalankan turbin PLTA. Untuk kebutuhan itu, PT Poso Energy akan melakukan pengerukan sungai Danau Poso sepanjang 12,8 km, selebar 40 meter, sedalam 4 – 6 meter, dan mereklamasi wilayah Kompo Dongi puluhan hektar. 

Pembongkaran jembatan Pamona, adalah langkah awal yang akan memuluskan rencana pengerukan sungai Danau Poso. Pembongkaran jembatan Pamona juga adalah awal penghancuran kebudayaan orang Poso. Aliansi Penjaga Danau Poso mempetisi Bupati Poso untuk membatalkan rencana tersebut. Bukan hanya bupati Poso, Aliansi Penjaga Danau Poso melalui platform change.org juga mengajukan petisi ke Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan , dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Mereka yang menandatangani petisi dengan judul “ Bantu Poso Jaga Kebudayaan dan Ekosistem Danau Poso dari Pengerukan / Reklamasi PT Poso Energy” rata-rata beralasan bahwa alam dan warisan budaya harusnya dijaga bukan dirusak. Kristina Yacob misalnya berkomentar “alam tidak boleh dirusak hanya karena kepentingan sepihak, listrik masih bisa didapatkan dengan cara yang lebih mengamankan alam tidak harus merusaknya”. Ada juga Linda Tagie mengatakan “ Danau Poso adalah salah satu warisan budaya, merusak Danau Poso sama dengan merusak budaya itu sendiri dan berkhianat kepada semesta yang memberinya”. Evani Hamzah dari Poso menegaskan alasannya menandatangani petisi ” karena tidak ingin mengkhianati suar lelah leluhur Poso”.

Bukan hanya warga Poso yang menandatangani petisi. Mereka yang berasal dari luar Poso dan pernah tinggal atau datang mengunjungi Danau Poso ikut menandatangani petisi dan memberikan komentar. Asmi Sihite dari Surabaya yang pernah mengunjungi Danau Poso mengatakan ” jaga dan lindungi Danau Poso”. Meifita Difa, seorang penandatangan petisi lainnya mengatakan ” Sudah lama sejak terakhir saya ke Danau Poso dan berharap jika kembali kesana maka semua masih terjaga dengan baik”. Purnomo, yang pernah tinggal di Poso selama tahun 1983-1986, menyampaikan keprihatinannya dengan menandatangani petisi ini.

Awal Penghilangan Simbol Kebudayaan Poso

Baca Juga :  Bertemu Pengrajin, Mendekatkan Inspirasi Pada Alam dan Budaya Poso

Petisi ini menyebutkan beberapa dampak buruk dari pengerukan dan reklamasi. Dampak pertama , yang disebutkan dalam petisi adalah bahwa sejarah dan kebudayaan di Danau Poso akan hilang. Sejarah kebudayaan yang hilang antara lain melalui : Pembongkaran Jembatan Pamona, pembongkaran wayamasapi, dan hilangnya tradisi Mosango. 

Jembatan Pamona adalah satu-satunya simbol nilai mosintuwu atau nilai kebudayaan gotong royong, nilai Sintuwu Maroso yang  dimiliki oleh orang Pamona/Poso saat ini. Jembatan Pamona memiliki sejarah tahun 1920an ratusan orang dari berbagai desa di seputaran Danau Poso bersatu, bersama-sama mengangkat kayu dari hutan , memancangkan tiang kayu di jembatan. Orang-orang dari berbagai desa meninggalkan desa selama hampir satu tahun untuk bekerjasama, membagi pekerjaan setiap beberapa meter untuk membentuk jembatan . Orang-orang dari berbagai desa bekerja sama menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja. Nilai Sintuwu Maroso-lah yang menyebabkan jembatan kayu pertama kalinya ini terbangun. 

Sebelumnya, Maestro budaya Poso, Almarhum Yustinus Hokey dalam orasi budaya di Taman Tentena tahun 2018, mengatakan “ Jembatan Pamona bukan sekedar jembatan penyeberangan. Jembatan Pamona adalah simbol nilai kebudayaan mesale yang masih dimiliki oleh orang Pamona”. 

Jembatan Pamona akan dibongkar untuk kepentingan lalu lalang kapal pengerukan PT Poso Energy. Jembatan kayu dengan kisah tentang mosintuwu leluhur orang Poso itu, dianggap terlalu pendek dan tidak kokoh untuk lewatnya kapal yang akan mengeruk sungai danau Poso.

Baca Juga :  Mengagendakan Kegelisahan di Peretas Berkumpul

Bukan hanya simbol nilai mosintuwu di Jembatan Pamona yang akan hilang, reklamasi di wilayah Kompo Dongi juga akan menyebabkan hilangnya tradisi Mosango.  Kompo Dongi  di wilayah hulu sungai Danau Poso merupakan tempat berlangsungnya tradisi kebudayaan Mosango sejak ratusan tahun lalu. Tradisi Mosango adalah tradisi menangkap ikan bersama ratusan orang dari berbagai desa, dengan menggunakan alat khusus bernama sango. Tradisi Mosango memiliki nilai “motila ri ue” atau saling berbagi air,  yang dilakukan bersama-sama para toposango ( sebutan bagi mereka yang mosango ) dengan kegembiraan.  Kompo Dongi, akan direklamasi/ditimbun oleh PT Poso Energy untuk membuat taman sebagai ganti rugi kepada pemerintah daerah dari pengerukan sungai Danau Poso dengan alasan lokasi wisata modern.

Tradisi lainnya yang akan hilang adalah tradisi Wayamasapi. Pengerukan sungai Danau Poso akan dilakukan di wilayah dilaksanakannya tradisi Wayamasapi, yaitu tradisi  menangkap ikan melalui pagar yang terbuat dari bambu. Tradisi kebudayaan menangkap ikan ini sudah ada ratusan tahun lalu, memiliki filosofi kesederhanaan dan ketidaksempurnaan manusia di hadapan Pencipta alam, yang disimbolkan dengan angka ganjil pada ikatan  bambu, angka ganjil pada jumlah pemilik Wayamasapi. Para nelayan menyebutkan “Karena kesempurnaan ( angka genap ) hanya   ada pada sang pencipta . Wayamasapi akan dibongkar oleh PT Poso Energy dengan alasan wilayah tersebut ada sedimentasi, sehingga debit air tidak mencukupi.

Baca Juga :  Lilin Damai untuk Perdamaian PosoPeace Candle for Poso
Evan dan Eko, mengamati spesies endemik yang dijaring di rawa tepi Danau Poso. Foto : Dok. Ekspedisi Poso

Hilangnya Biota dan Sumber Air Bersih Warga 

Dampak kedua dari rencana pengerukan dan reklamasi wilayah sungai Danau Poso adalah biota perairan di sungai dan danau, keberagaman tumbuhan  terganggu bahkan punah. Danau Poso memiliki beragam ikan endemik, termasuk  jenis ikan, siput, kerang endemik yang menjadi bagian dari ekosistem kehidupan bukan hanya di Poso tapi juga di dunia. Pengerukan dan reklamasi yang akan menghilangkannya.

Hilangnya sumber air minum, dan irigasi yang penting bagi ribuan orang di Poso adalah dampak ketiga dari pengerukan dan reklamasi. Bagi ribuan masyarakat Poso, sungai dan Danau Poso adalah sumber penghidupan. Jika sungai Danau Poso dikeruk dan dibendung, akses air bersih hilang, sumber penghidupan akan musnah.

“Sisakan sedikit buat kami” demikian tulisan Pdt. Yombu Wuri, salah satu anggota Aliansi Penjaga Danau Poso,  yang menggugat agar semua kebijakan pembangunan yang dibuat oleh Pemerintah termasuk petinggi gereja tidak bermuara untuk kepentingan PT Poso Energy “Ketika kita menatap tiang kayu kokoh berdiri di Yondo mPamona, ada kisah sintuwu leluhur kami” 

Petisi ini mendesak  Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Bupati Poso untuk menghentikan rencana pembongkaran Jembatan Pamona dan renovasi dengan design PT Poso Energy, dan menghentikan rencana pengerukan dan reklamasi di sungai Danau Poso. Petisi dapat diakses melalui change.org , dengan judul “Bantu Poso Jaga Kebudayaan dan Ekosistem Danau Poso dari pengerukan/reklamasi PT Poso Energy.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda