Pembongkaran Yondo mPamona, Penghilangan Warisan Nilai Sintuwu Maroso

1
1284
Jembatan Pamona. Hingga saat tulisan ini diterbitkan masih digunakan warga, baik untuk bernostalgia, maupun untuk berjalan kaki. Area sekitar Jembatan Pamona juga adalah areal dimana para nelayan Monyilo ( menangkap ikan dengan tombak dan lampu pada malam hari). Foto : Dok. Mosintuwu.

“Ungka ri kalawanya ane ku tango” ( Kupandang dari kejauhan )

“Morau rau molanto lanto” (  Diam seperti mengapung )

“Eawa ja samba’a mba’a yondo, ri untu ngkoro mPoso” ( Seperti satu-satunya jembatan di sungai Poso )

Lirik lagu Yondo mPamona, ciptaan Yustinus Hokey, adalah salah satu lagu populer di Poso yang diingat hampir semua orang Poso, termasuk generasi muda. Lagu  ini akan menjadi pengingat pernah ada ratusan orang Poso yang rela memikul kayu dari hutan, menancapkannya ditengah sungai, menjadi jembatan penghubung orang di sebelah timur dan barat Tentena. Lirik ini menggambarkan bahwa Jembatan Pamona bukan sekedar jembatan penyeberangan.

“Jembatan Pamona bukan sekedar bangunan kayu yang menjadi tempat penyeberangan. Jembatan ini  sudah menjadi satu-satunya peninggalan budaya Mesale orang-orang di sekeliling danau yang masih tersisa”demikian Yustinus Hokey dalam orasi kebudayaannya di taman kota Tentena 24 Maret 2018.

Sayangnya, pemerintah kabupaten Poso akan segera membongkar jembatan tua Pamona, salah satu penanda di Tentena yang ikonik dan punya sejarah panjang. Pembongkaran jembatan ini dibutuhkan untuk memperlancar keluar masuknya kapal pengerukan milik PT Poso Energy . Kapal pengerukan milik PT Poso Energy akan melakukan pengerukan sepanjang 12,8 KM, selebar 40 meter dan kedalaman antara 2 – 4 meter.

Jembatan yang menghubungkan kampung di sisi timur dengan sisi barat sungai Poso pertamakali dibangun antara tahun 1920an – 1930an. Pembangunannya memeras keringat leluhur orang Pamona yang dengan semangat dan tulus mengangkut tiang-tiang kayu dan bambu dari kampung masing-masing dengan jumlah sesuai kesepakatan. Banyak yang jatuh sakit ditengah proses pembangunannya. Bayangkan kayu dari desa Taripa diangkut menggunakan gerobak atau Roda, alat angkut yang ditarik menggunakan sapi.

Baca Juga :  Sisakan Sejarah untuk Kami Orang Poso

Begitu tingginya kualitas jembatan ini sehingga renovasinya baru dilakukan sekitar tahun 1966 sekitar 36 tahun kemudian. Bisa dibandingkan dengan kualitas bangunan-bangunan pemerintah saat ini yang umurnya semakin pendek plus biaya perawatan rutin setiap tahun. Dalam proses peremajaan ini setiap desa menanggung kayu setara 25 meter ukuran jembatan. Bukan hanya kayu, bambu dan material lain, setiap kampung di pinggir danau Poso juga sekaligus yang mengerjakannya.

Renovasi berikutnya dilakukan tahun 1979, ini pertamakali negara lewat pemerintah provinsi Sulawesi Tengah membiayainya dengan memberi anggaran kepada CV Tamungku Tuwu Makmur sebuah perusahaan swasta untuk mengerjakannya dengan memakai kayu jenis Kulahi yang punya daya tahan hingga 300 tahun. Itulah mengapa jembatan Pamona masih kokoh hingga awal Oktober 2019 ini.

Cristian Bontinge, ketua lembaga adat kelurahan Pamona pada tanggal 30 September 2019 mendapat undangan menghadiri pertemuan di kantor Camat Pamona Puselemba. Agendanya membahas rencana pembongkaran Jembatan Pamona. Informasi yang didengarkannya dari Camat Gloria Tobondo membuatnya kaget. Jembatan Pamona akan dibongkar setelah perayaan Padungku 11 Oktober 2019.

“Saya tidak menyetujui, tapi mau melarang juga bagaimana?. Saya hanya bisa bilang itu adalah keputusan pemerintah”demikian kata Ngkai Bontinge panggilan kami kepada Cristian Bontinge. Apalagi menurut dia, Camat dalam pertemuan itu mengatakan jembatan Pamona bukan milik masyarakat, bangunan sepanjang kurang lebih 200 meter itu milik pemerintah. Camat tidak salah, namun dia melupakan sejarah orang Pamona meskipun belum lama. Sejak dibangun hingga renovasi pertama, semuanya dikerjakan masyarakat.

Baca Juga :  Kopi Kedelai Saojo, Ole-ole khas dari Poso

Pembongkaran jembatan ini kata Camat sebagaimana didengar langsung oleh Ngkai Bontinge akan dilakukan masyarakat dengan upah. Warga yang akan diajak untuk membongkarnya dari desa Buyumpondoli, So’e, Tonusu, Leboni, Peura, Dulumai, Pamona, Sangele dan Tentena. Nantinya setiap desa diberikan jatah berapa meter untuk dibongkar lalu disesuaikan dengan upah.

Kayu-kayu penyangga jembatan Pamona masih kokoh sampai detik ini. Yang sering diganti adalah kayu lantai dan bagian atap. Lalu mengapa mesti dibongkar? Untuk memuluskan jalan bagi kapal keruk milik PT Poso Energi yang akan mengeruk sungai Poso sepanjang 12,8 kilometer, selebar 40 meter dan sedalam 4 sampai 6 meter.

Pemerintah dan perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla itu kemudian berencana mengkompensasi jembatan bersejarah itu dengan sebuah bangunan baru yang disebut lebih modern, lebih tinggi dan lebih luas, tapi lagi-lagi melupakan sejarah Mesale (gotong royong) orang Pamona yang masih bisa diperlihatkan kepada generasi berikutnya.

“Jembatan Pamona itu bukan sekedar bangunan kayu yang menjadi tempat penyeberangan, namun sudah menjadi satu-satunya peninggalan budaya Mesale orang-orang disekeliling danau yang masih tersisa”demikian Yustinus Hokey menyebut arti penting yondo mPamona itu dalam orasi kebudayaannya di taman kota Tentena 24 Maret 2018.

Baca Juga :  Paska 29 September 2019 : Merancang Bangun Rekonstruksi Berbasis Komunitas

Jembatan Pamona, hingga saat tulisan ini diterbitkan masih digunakan warga, baik untuk bernostalgia, maupun untuk berjalan kaki. Area sekitar Jembatan Pamona juga adalah areal dimana para nelayan Monyilo ( menangkap ikan dengan tombak dan lampu pada malam hari). Sementara bagi para wisatawan dalam negeri dan mancanegara, Jembatan Pamona memiliki kesan yang nyaman dan ikonik sehingga sangat sering menjadi obyek foto.

Banyak yang bersuara kritis atas rencana pembongkaran Yondo mPamona itu. Aliansi Penjaga Danau Poso (APDP) salah satunya. Kelompok yang sejak tahun 2017 menyuarakan sikap penolakannya atas rencana pengerukan sungai Poso itu menyampaikan beberapa catatan. Pembongkaran jembatan dengan melibatkan masyarakat itu dinilai untuk membuat masyarakat di pinggir danau Poso ini mengkhianati sejarah pembangunan jembatan lewat keringat leluhur mereka.

APDP sendiri sebagaimana telaah mereka atas dokumen AMDAL proyek pengerukan sungai Poso itu menilai, pembongkaran jembatan oleh warga desa/kelurahan dirancang dengan sengaja karena berpotensi membuat warga berkonflik antara yang setuju atau tidak setuju pembongkaran. Selain itu, pembongkaran jembatan yang diusulkan dilakukan oleh warga sendiri akan mencatatkan sejarah yang mengabaikan keringat lelah leluhur Poso saat pertama kali membangun jembatan ini.

Bukan hanya jembatan tua Pamona yang segera lenyap, budaya Poso akan semakin pudar saat jutaan meter kubik pasir dan tanah menguruk Kompo Dongi, tempat dimana persaudaraan dikuatkan dalam tradisi Mosango. Kehilangan kebudayaan, kehilangan identitas, orang Poso sedang menuju kesitu.

1 KOMENTAR

  1. Gila warisan Budaya jangan di utak Atik ,,masyarakat jangan mau di bohongi ,,Uda mengeruk kekayaan alam untuk kepentingan Golongan sekarang jembatan yg notabenenya sebagai warisan dari nenek moyang mau di bongkar ,,woi penguasa di mana hati nuranimu?? Ane yaku mosu iretu yaku anu da mokikore mantoo nee,,jaya ungkar rilipu anu RI wingke ndano Bena perhatiakn sekarang malah damo jaati anu ree,,

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda