Petani, Mereka yang Makin Kurang Merdeka

0
100
Petani sedang mosangki, atau panen dengan cara tradisional. Foto : Dok. Mosintuwu

“Orang tani, orang merdeka, Orang yang kucinta , Orang yang termasyur di seluruh Indonesia, Hidup-hiduplah orang Tani !” 

Syair lagu ini terkenal pada awal-awal ketika para petani menjadi pahlawan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Para petani dimasyurkan karena menjadi orang yang paling bahagia dengan tanah dan pangan yang dikelola pada tanah-tanah. Namun, konsumsi yang berkebihan serta produksi yang mengeksploitasi alam menyingkirkan petani dari lahannya,  sebagai orang yang merdeka. Petani-petani di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk kabupaten Poso tidak lagi dicintai, sebaliknya sangat sering dianggap melawan pembangunan ketika hendak mempertahankan tanahnya dari pembangunan yang mengeksploitasi. 

Setidaknya hal itu dirasakan oleh oleh petani-petani di wilayah Kabupaten Poso. Papa Debbie misalnya, semakin sempitnya lahan yang dimiliki dan kebutuhan keluarga yang semakin banyak belum lagi ketergantungan pada tengkulak, membuatnya menjadi buruh tani. Hal ini diperparah dengan sistem pertanian yang menyingkirkan 

Hari ini dirayakan sebagai hari tani nasional untuk mengingat ditetapkannya undang-undang nomor 5 tahun 1960, dikenal sebagai undang-undang pokok agraria. Tidak ada seremoni dilakukan petani-petani di Poso seperti juga tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena persoalan yang dihadapi tidak kunjung berkurang, misalnya hal yang paling kecil petani sawah di kecamatan Pamona Puselemba sering kekurangan air padahal dekat dengan sumbernya, belum lagi biaya pengolahan makin tinggi seiring mulai hilangnya budaya Mesale ditengah-tengah para petani.

Baca Juga :  Petisi di Hari Perempuan Internasional : Hentikan Stigma pada Perempuan

Papa Padong petani kakao di desa Soe, kecamatan Pamona Puselemba merasakan betul sulitnya menghadapi hama penggerek batang yang menyerang tanamannya, akibatnya hasil panen kecil tidak sesuai harapan, padahal dirinya sudah mengeluarkan banyak biaya mulai dari pestisida hingga pupuk. Nasib yang tidak lebih baik juga dialami Masrun, seorang petani sayur di lembah Napu. Biaya yang dikeluarkannya untuk proses pengolahan kadangkala lebih besar ketimbang hasil panen.

“Biasanya pas waktu panen harga justru turun”kata Nasrun. Apa yang disampaikannya bisa dilihat dari nilai tukar petani (NTP) kabupaten Poso tahun 2017 yang berada dibawah 100, hanya mencapai 96,01 persen, artinya pendapatan yang mereka terima dari hasil bertani lebih kecil dari biaya yang harus mereka bayarkan.

Sulitnya keadaan yang dihadapi membuat banyak petani tidak berharap anak-anaknya ikut menjadi petani dengan menyekolahkan mereka. Harapannya, kelak lulus menjadi pegawai. Seperti papa Padong yang menyekolahkan anaknya di jurusan teknik agar langsung mencari kerja setelah lulus, bukan menjadi petani.

Data BPS kabupaten Poso menunjukkan terus berkurang jumlah petani. Kita bisa melihatnya dari  lapangan usaha sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada tahun 2017 hanya sebesar 39,67 persen sementara 4 tahun sebelumnya jumlahnya mencapai 43,54 persen, ada penurunan sebesar 3,87 persen. Secara nasional angka penurunannya jauh lebih besar yakni 5 persen.

Baca Juga :  Montibu, Suara dari Air untuk Jaga Danau Poso

Penurunan itu diiringi menurunnya sumbangan lapangan usaha bidang pertanian terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) kabupaten Poso kurun 5 tahun terakhir dari 6,15 persen pada tahun 2012 menjadi tinggal 3,45 persen di tahun 2016.

Produksi beras di Kabupaten Poso setiap tahun mencapai 104 ribu ton, ada kenaikan produktifitas dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun biaya pengolahannya naik jauh lebih besar sehingga keuntungan tidak banyak dirasakan. Salah satu sebab kenaikan biaya pengolahan itu adalah membayar tenaga sewa dan biaya panen.

Vokalis band Navicula Gde Robi, menuturkan, saat ini pemuda sudah tidak lagi bangga menjadi petani. Hal ini tidak terlepas dari konsep yang menempatkan pekerjaan di kantoran sebagai ukuran keberhasilan. Padahal, kemakmuran dan keberhasilan itu ada di desa ketika kita berhasil menyediakan pangan yang sehat. Dia mendesakkan pentingnya membalikkan konsep kemakmuran dengan menempatkan desa pada posisi paling penting karena disanalah semua sumber makanan terbaik untuk semua orang dihasilkan

Bergesernya hasrat generasi muda menjadi petani kini menjadi persoalan serius yang dibahas pemerintah pusat. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan untuk mengatasi persoalan ini akan dilakukan mekanisasi pertanian yakni dengan mendatangkan mesin-mesin yang mengurangi penggunaan tenaga manusia. Sayangnya solusi ini semakin menggerus jumlah pekerja di pertanian.

Baca Juga :  Cerita Rakyat untuk Mitigasi Bencana

Jika ditelusuri lebih jauh, kebanggaan menjadi petani memang makin menipis. Beberapa orang mahasiswa yang diwawancarai perihal rencana setelah lulus kuliah mengungkapkan akan mencari pekerjaan bermodal ijazah. Menjadi pekerjaan kantoran rupanya dianggap lebih menjanjikan ketimbang menjadi petani padahal petani adalah pemimpin bukan pesuruh.

Membangun kepercayaan untuk kembali ke desa dan bertani penting untuk diperkenalkan kembali. Hal ini antara lain dilakukan oleh Institut Mosintuwu melalui kelas-kelas Sekolah Pembaharu Desa dan Jelajah Budaya Rumah Kita. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda