Laulita Ayam Ajaib dan Bukti Sejarah Geologi Terbentuknya Sulawesi

0
904
Tim laulita ( pencerita ) Ekspedisi Poso mendengarkan cerita tentang sejarah Desa Watuawu. Foto : Doc. Mosintuwu

Perjalanan tahap kedua tim Ekspedisi Poso tanggal 24 Juni sampai 1 Juli 2019 menemukan bukti kehidupan pra sejarah, endemik Danau Poso hingga bukti Kabupaten Poso dahulunya adalah wilayah dalam lautan. Perjalanan ini dilakukan di wilayah Sesar Poso , dimulai dari wilayah Kota Poso lalu menyusuri beberapa desa di sepanjang sungai Poso hingga wilayah Tentena dan sebelah Timur Danau Poso.

Lian Gogali, ketua Ekspedisi Poso menjelaskan beberapa temuan penting dalam perjalanan kedua tim ekspedisi.

“ Tim ekspedisi Poso terbagi dalam 4 tim utama, yaitu tim geologi, tim biologi, tim arkeologi, dan tim laulita. Masing-masing tim menemukan  hal penting yang bisa menggambarkan peristiwa masa lalu di wilayah Sesar Poso secara khusus dan Kabupaten Poso pada umumnya. Temuan dari keempat tim ini menunjukkan keterhubungan antara satu dengan yang lain”

Tim geologi menemukan banyak rekahan permukaan di sepanjang perjalanan Desa Kuku ke Desa Panjoka. Bahkan pada bekas galian yang dilakukan oleh PT Arkora yang membuat PLTA di Desa kuku, ditemukan greenschist dan blueschist. Abang Mansyursyah, tim ahli geologi ekspedisi Poso dari Universitas Pertamina menjelaskan kedua jenis batuan tersebut adalah jenis batu gamping yang menunjukkan terangkatnya laut ke permukaan hingga menjadi pegunungan serta bukti batuan metamorf yang dulunya terbentuk di Zona Subduksi.

“Peristiwa terangkatnya hingga menjadi daratan seperti sekarang karena adanya peristiwa tektonik” jelas Ega.

Dr. Abang Mansyursyah dan Abduh, tim ahli ekspedisi Poso saat memeriksa batuan di perjalanan Kuku dan Panjoka. Foto : Dok. Tim Eksepdisi Poso

Sementara itu di Kelurahan Petirodongi, ditemukan sebuah tebing yang setelah diamati lebih dekat ternyata adalah bukti sejarah geologi terbentuknya Pulau Sulawesi. Temuan ini dipastikan langsung oleh Ega yang merupakan peneliti geologi Sulawesi.

“Saya bisa pastikan, lihat kedua struktur tanah yang berlapis dengan warna berbeda dan jenis batuan yang ada, ini adalah bukti sejarah geologi terbentuknya Sulawesi” ujarnya yakin setelah bolah-balik memeriksa dinding tebing dengan struktur tanah dan batuannya selama kurang lebih 1 jam.

Penemuan ini menurut Reza Permadi, tim ahli geologi ekspedisi Poso yang juga mengembangkan geowisata bisa menjadikan Kabupaten Poso sebagai salah satu laboratorium alam untuk Indonesia bahkan dunia.

Sementara itu, Resti, tim ahli ekspedisi Poso yang juga seorang palaentologi dari Universitas Pertamina menceritakan adanya rawa yang terbentuk dari sungai Poso. Rawa seperti kolam besar yang dulunya merupakan bagian dari sungai Poso, menurut Resti bagian dari peristiwa pengikisan air sungai yang juga didorong oleh peristiwa tektonik.

Terangkatnya bagian bawah lautan ke atas hingga membentuk daratan, ditemukan dalam cerita rakyat di Desa Peura. Tim laulita yang merupakan bagian dari tim antropologi, bertemu dengan Ngkai Y Marapua yang mendongeng tentang  Manu Warale atau “ayam ajaib”. Dalam cerita rakyat Pamona ini tergambarkan adanya peristiwa tentang terangkatnya daratan di wilayah yang sekarang didiami oleh warga Poso.  Dr. Herry Yogaswara, tim ahli ekspedisi Poso yang juga seorang antropolog, menyatakan pentingnya menelusuri jejak sejarah masa lalu  dengan mendengarkan cerita rakyat.

Baca Juga :  Mendengar Anak, Mengimajinasikan Masa DepanListening Children, Imagining the Future
Tim Ekspedisi Poso di Gunung Lebanu . Foto : Dok. Mosintuwu

“Orang tua dulu menggunakan cerita sebagai cara untuk menyampaikan sebuah peristiwa, termasuk peristiwa alam”  kata Herry.

Herry menekankan bahwa cerita rakyat menjadi penting sebagai bagian dari penelusuran potensi bencana. Tim laulita  juga menemukan cerita tentang Sinolidi di Dulumai yang memuat tentang peristiwa geologi, wujudnya saat ini dalam bentuk batu yang dikenal dengan Watuyano. Cerita rakyat lainnya di sekitar Danau Poso yang juga sangat dikenal adalah legenda buaya dan naga. Tim arkeologi menemukan simbol buaya pada beberapa peti di kuburan tua dalam gua di Desa Dulumai. Gua dengan kuburan bahkan ditemukan tim di dalam Danau Poso. Diduga, sebuah peristiwa alam yang cukup besar menyebabkan gua tersebut terjatuh ke bawah danau.

Iksam, tim ahli arkeologi Ekspedisi Poso menceritakan bahwa legenda naga Danau Poso paling tidak digambarkan oleh kehadiran tiga patung naga di museum Jakarta. Ketiga patung naga yang terdiri dari satu naga besar dan tiga naga kecil yang diduga anak, bisa jadi merupakan cara orang tua dahulu kala menggambarkan apa yang mereka lihat ada di Danau Poso.

“Patung naga ini sebelumnya direncanakan akan dibawah ke Belanda, namun karena satu dan lain hal, keempat patung ini tertahan di Batavia, atau Jakarta. Keberadaan patung naga yang usianya ratusan tahun lalu paling tidak bisa menceritakan apa yang pernah dilihat oleh para orang tua”

Iksam menekankan pentingnya benda-benda purbakala yang ada di sekitar desa-desa sekitar Poso diketahui keberadaannya dan dijaga kelestariannya. Keberadaan benda purbakala ini bisa menjadi salah satu cara untuk melihat kembali masa lalu. Tim arkeologi juga menemukan perhiasan seperti gelang perunggu di beberapa gua, seperti gua di Peura dan sekitar Sangele .

Sementara itu tim biologi melakukan penyelaman di wilayah  rawa, sungai dan pantai dan menemukan berbagai spesies ikan yang menunjukkan keanekaragaman hayati Danau Poso. Sayangnya hanya di Desa Dulumai masih ditemukan jenis ikan anasa atau didisa yang menjadi ukuran masih bersihnya sebuah ekosistem di sungai atau danau. Sebelumnya di wilayah Sesar Poso Barat, jenis ikan ini hanya ditemukan di air terjun Kandela dan air terjun Saluopa.

Baca Juga :  Rekonstruksi Paska Bencana, Tanpa Mengemis

Evans Labiro, anggota tim biologi Ekspedisi Poso menyampaikan juga temuan jenis ikan introduksi atau predator yang dipastikan akan mengganggu habitat ikan endemik Danau Poso.

“ Sepanjang perjalanan Sesar Poso, kita menemukan banyak ikan loreng di Danau Poso. Ikan ini berasal dari Afrika dan termasuk ikan predator karena memakan telur ikan-ikan endemik di danau Poso. Apalagi ikan jenis ini berkembang sangat pesat”

Salah satu batuan di Dulumai . Foto : Dok. Mosintuwu

Berbagai temuan ini akan dilengkapi, beberapa akan diperiksa di laboratorium . Lian menyebutkan bahwa setiap temuan akan didiskusikan kembali oleh tim untuk menyusun sebuah tulisan bersama. Hasil temuan ini akan menjadi sebuah buku yang dapat dibaca oleh masyarakat di wilayah Sesar Poso dan Sesar Poso Barat.

“Kita juga akan merekomendasikan hasil temuan tim ekspedisi Poso kepada Pemerintah Daerah dan lembaga terkait sehingga bisa menggunakan hasil temuan ini dalam menyusun perencanaan pembangunan di desa dan kabupaten”

Hal yang sama disampaikan Lian dalam pertemuan dengan warga masyarakat di desa-desa yang menjadi wilayah ekspedisi. Dalam dialog tim ahli yang dilakukan di desa-desa, warga masyarakat mendorong agar temuan tim ekspedisi Poso bisa dibaca dan digunakan oleh desa. Selain usulan ini, warga juga menanyakan berbagai fenomena alam. Peristiwa gempa, tsunami, likuifaksi , longsor,  menjadi pertanyaan umum yang disampaikan masyarakat. Pada umumnya, mereka ingin mengetahui apakah desa mereka berbahaya untuk ditinggali .

“Jika kita mengetahui potensi bencana di sekitar kita, sangat penting untuk mendorong adanya sebuah kebijakan melakukan rencana kontijensi. Hal yang paling sederhana adalah menyepakati jalur evakuasi, dan titik kumpul” jelas Lian

Kesepakatan untuk merencanakan konsep mitigasi bencana di masing-masing desa menjadi salah satu hal penting yang dibicarakan dalam dialog masyarakat yang diadakan setiap malamnya. Dialog ini dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat dan warga.

Ekspedisi Poso menjadi salah satu perjalanan penting karena akan mempelajari secara langsung potensi bencana di wilayah ini. Sejumlah ahli mengakui data-data sejarah bencana dan potensinya yang ada di wilayah Poso masih belum terdokumentasi. Bahkan diakui pula oleh BNPB bahwa belum ada pengukuran GPS terhadap beberapa sesar di Indonesia, termasuk 3 sesar yang melintasi Poso, yakni sesar Tokararu, Sesar Poso dan Sesar Poso Barat.

Baca Juga :  Petisi di Hari Perempuan Internasional : Hentikan Stigma pada Perempuan

“Hasil perjalanan Ekspedisi Poso dirancang untuk disampaikan pada masyarakat juga Pemda untuk bisa merancang dan menyusun pembangunan yang peka pada kondisi alamnya” tegas Lian.

Sebagai langkah awal, tim ekspedisi Poso melakukan seri diskusi bersama masyarakat setiap malamnya. Dalam diskusi ini para tim ahli bukan hanya menjelaskan temuan sementara kondisi alam di wilayah penelitian tapi juga melakukan tanya jawab tentang fenomena alam seperti gempa, likuifaksi, tsunami dan longsor.

Tim ekspedisi Poso menelusuri keanekaragaman budaya, alam dan potensi bencana di Sesar Poso dalam perjalanan tahap 2. Foto : Dok. Mosintuwu
Tim ekspedisi Poso menelusuri keanekaragaman budaya, alam dan potensi bencana di Sesar Poso dalam perjalanan tahap 2. Foto : Dok. Mosintuwu

Perjalanan kedua tim ekspedisi Poso kali ini mengikutsertakan tim ahli ketahanan bencana dari Universitas Pertamina, yang memberikan workshopsingkat kepada tim mengenai pemetaan ketahanan bencana pada masyarakat. Pemetaan ini diharapkan akan berguna bagi Pemda untuk membangun mitigasi bencana di Kabupaten Poso.

Tim ekspedisi Poso terdiri dari para geolog,  arkeolog, palaentolog, biolog, teolog, antropolog, budayawan serta anak-anak muda volunter peminat kajian ekologi, fotografer dan pembuat film dokumenter dari Sinekoci. Tim ekspedisi Poso diinisiasi oleh warga Poso melalui komunitas Aliansi Penjaga Danau Poso, sejak Desember 2018. Perjalanan ekspedisi Poso dilakukan dalam dua tahapan. Tahapan pertama dilakukan di wilayah Sesar Poso Barat pada tanggal 15 – 22 Mei 2019 dan tahapan kedua dilakukan di wilayah Sesar Poso pada tanggal 24 Juni sampai 1 Juli 2019.

Tim ekspedisi Poso ini terdiri antara lain  Mansyursyah Surya Nugraha Ph.D ( kepala program studi Geologi Universitas Pertamina Jakarta),  Dr Herry Yogaswara ( Kepala Litbang Kependudukan LIPI), Dr Burhanudin (Ikatan ahli Geologi Indonesia), Dr. Tirza Meria Gunda ( akademisi Universitas Sintuwu Maroso), Dr Ita Mowidu (akademisi Universitas Sintuwu Maroso Poso), Neni Muhidin (penulis dan pegiat literasi bencana Nemu Buku), Iksam Djorimi (arkeolog, wakil kepala museum Sulteng), Drs Abdullah MT (akademisi Universitas Tadulako), Reza Permadi (Ketua Geosaintis Muda Indonesia, Pendiri Geowisata), Dr. Resti Samyati (Palaentologist, Universitas Pertamina), Rahman Hakim (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), Evans Labiro dan Eko Yulianto ( peneliti ikan gobi dan botani dari ERA, ekspedisi akuatik ).

Sementara komunitas masyarakat yang ikut dalam penelitian adalah komunitas Aliansi Penjaga Danau Poso, antara lain Hajai Ancura, Kristian Bontinge, Yanis Moento, Nikson, dan Agustina Hokey. Ikut dalam perjalanan ekspedisi Poso para relawan muda yang bergabung dalam tim media antara lain dari Sinekoci ( Yusuf Radjamuda, Lucky Arie, Isra , Izzam ), dan tim media Mosintuwu ( Ishak Sabintoe, Ray Rarea, Sofyan, Erik Bintue ), serta efi seorang ilustrator dari Purple Code.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda