Merancang Mitigasi Diketidaktahuan Hidup di Atas Sesar Aktif

0
317
Sketsa warga berinisiatif membuat tenda sendiri paska gempa di Desa Owini. Sketsa : Efi

Sudah tiga hari  pasca gempa, mama Citra dan keluarganya  tidak tenang. Mereka tidur ditenda yang dibangun di halaman rumah.  Setelah guncangan sekuat 5,7 SR di hari Minggu tanggal 24 Maret 2019, terjadi berkali-kali guncangan dengan kekuatan lebih kecil setelahnya. Namun kali ini ada yang membuat kekhawatiran warga terasa lebih kuat.  Tidak ada informasi sama sekali apa mengapa gempa terjadi berkali-kali, tidak seperti sebelumnya.

Mama Sion, warga yang tinggal di Ampu-Ampu,  Dusun 6 Desa Meko melihat-lihat layar smartphone miliknya untuk melihat apakah ada pesan SMS yang memberi kabar dimana lokasi pusat gempa. Dia berharap ada kiriman pesan informasi dari saudaranya yang ada di Palu. 

“Informasi yang sampai sama kami disini, pusat gempa di tengah danau. Jadi kalau betul seperti itu apakah akan terjadi tsunami seperti di Palu” demikian pertanyaan mama Sion kepada tim Ekspedisi Poso, saat bertemu di dekat rumahnya hari Selasa 26 Maret lalu. Meski belum memutuskan mengungsi, namun dia gelisah hingga memutuskan tidak ke kebun, khawatir terjadi apa-apa pada saat tidak ada di rumah.

Tim ekspedisi Poso sempat menyarankan dia mendapatkan informasi kepada pemerintah desa mengenai apa yang harus dilakukan. Namun sepertinya enggan. Lalu disarankan membaca informasi dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di akun resmi bmkg.go.id atau di akun medos resmi lembaga ini. Namun Mama Sion tidak punya akun medsos. Jadilah tidak ada informasi akurat yang didapatkannya.

Baca Juga :  Komang dan Cerita Buku untuk Terbang

Sama seperti Mama Sion, Mama Wayan (63) juga begitu kaget karena yang dialaminya bukan hanya gempa tapi ada suara semacam dentuman dari dalam tanah yang didengarnya. “Saya sedang kasi makan ayam. Tiba-tiba ada bunyi ledakan besar. Lalu bumi terangkat-angkat, saya langsung duduk”. Setelah itu terjadi gempa-gempa selanjutnya dengan skala lebih kecil, dan Mama Wayan tidak jua mendapatkan informasi apapun terkait peristiwa itu.

Dari Meko, tim ekspedisi Poso meneruskan perjalanan ke desa Owini. Di tempat ini hampir di setiap halaman rumah dibangun tenda untuk mengamankan diri saat gempa. Kami bertanya kepada warga apakah mereka pernah mendengar Sesar? jawabannya belum. Ngkai Teo (62) mengatakan, belum pernah mendengar informasi mengenai sesar atau patahan yang melintas didekat kampungnya. Sepanjang hidupnya baru gempa 5,7 SR yang terjadi hari Minggu itu yang paling keras. Selain gempa yang kuat, ngkai Teo juga baru mengalami fenomena suara dentuman dan gemuruh dari dalam tanah mengiringkan gema bumi.

“Baru sekarang ini saya rasa gempa yang kuat sekali. Tadi di kebun coklat saya dengar suara meletus baru disusul gempa. Saya peluk pohon coklat. Setelah itu saya pulang, lutut sudah gemetar”katanya.  

Pemerintah Desa Owini berupaya membantu warga dengan membuat himbauan lewat pengeras suara agar berhati-hati dan keluar rumah apabila gempa terjadi. Samuel Djolo salah seorang perangkat desa yang kami temui mengatakan baru mendengar sekilas mengenai adanya patahan yang melintas di wilayah mereka. Namun belum ada informasi yang lebih lengkap yang diterimanya.

Baca Juga :  Berbagi Cerita Baik di Lebaran Poso

Dari cerita warga yang kami temui, tidak satupun yang menyadari bahwa desa mereka sebenarnya dilalui sesar Poso Barat yang menjadi sumber gempa. Berdasarkan peta rawan gempa yang dikeluarkan pusat studi gempa nasional (Pusgen), Kabupaten Poso dilalui oleh 3 sesar yakni sesar Tokararu, sesar Poso dan Sesar Poso Barat.

Gempa 5,7 SR yang terjadi pada 24 Maret 2019 itu adalah gempa bumi di sesar Poso Barat, dipicu oleh penyesaran naik , akibat aktivitas Sesar Poso.  Berdasarkan peta, sesar Poso Barat , dimulai dari wilayah Sulsel, membentang dari Desa Pendolo hingga ke Tonusu.

Para ibu menidurkan anak-anaknya yang masih bayi di tenda sementara yang dibangun warga paska gempa. Foto : Dok. Mosintuwu/Ishak

Uuuuuuu…, Mitigasi ditengah Ketidaktahuan 

“Kami membutuhkan informasi apa yang sebenarnya terjadi disini” kata Mama Citra. 

Dari wawancara dengan sekitar 9 orang warga di desa Meko terlihat warga tidak memiliki informasi apapun yang berkaitan dengan mitigasi bencana termasuk informasi tentang potensi bencana yang terjadi diwilayah mereka. Muncul kegelisahan seperti yang diutarakan warga dusun Ampu-Ampu. 

Kami berdiskusi dengan beberapa orang warga lain di dusun Ampu-Ampu. Salah satunya Aris Pasombo mantan kepala dusun dan mama Sion. Saat kami menanyakan apakah pernah mendengar istilah sesar atau patahan yang menyebabkan gempa? dijawab belum. Mama Citra mengatakan setelah gempa dia berusaha mencari-cari informasi sumber gempa. Kekhawatirannya semakin tinggi saat mendapatkan informasi yang berseliweran yang menyebutkan pusat gempa didalam danau dan tsunami akan segera terjadi.

Tidak adanya informasi yang kuat sampai kepada warga dusun Ampu-Ampu membuat mereka berusaha melakukan analisis sendiri kemungkinan bencana yang akan terjadi. Aris Pasombo misalnya yang khawatir kemungkinan banjir bandang akibat gempa. Dia mengatakan, disalah satu titik sungai Meko diapit dua tebing, jika salah satunya longsor akan menyumbat aliran air yang akan memicu air bah.

Baca Juga :  Membincang Taman Bumi Danau Poso, Mungkinkah?

Lalu bagaimana cara masyarakat menghadapi bencana? Saat kami sedang berbincang tiba-tiba gempa mengguncang.  Semua bergegas ke halaman rumah. Lalu teriakan-teriakan Uuuu…bersahutan dari rumah-rumah dilorong itu. Rupanya itu salah satu cara untuk memberitahukan bahwa mereka ada disana.

Mama Sion mengatakan, mereka mempersiapkan barang-barang yang dianggap paling penting dalam tas lalu ditaruh dibelakang pintu depan rumah. Namun sebagian besar warga belum memiliki kesadaran untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana. Mama Tole, penjual bensin di dusun 2 Meko mengatakan tidak mempersiapkan apapun. 

“Kalau sudah gempa langsung keluar rumah. Saya tidak mempersiapkan barang-barang. Karena saya tidak akan lari”katanya.

Tidak adanya informasi mengenai mitigasi bencana juga terlihat di desa Owini kecamatan Pamona Barat. Padahal di desa ini hampir semua warga tidak berani tidur didalam rumah dan membangun tenda-tenda dihalaman. Kami mewawancarai beberapa orang perempuan yang mengatakan tidak pernah mengetahui kalau wilayah mereka dilalui sesar Poso Barat. Ketidaktahuan itu juga dikatakan Samuel Djolo, perangkat desa Owini saat kami menanyakan apa yang dilakukan pemerintah desa ketika terjadi bencana. Menurut dia yang dilakukan pemerintah desa ketika terjadi bencana adalah membuat pengumuman agar masyarakat keluar rumah saat guncangan terjadi untuk menghindari runtuhan bangunan.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda