Kampanye Kabar Baik dari Poso

0
301
Kongres Perempuan Poso, Maret 2014, yang menghasilkan 135 komitment Perempuan Poso menjadi bagian dari pembangunan perdamaian, budaya, ekonomi solidaritas, partisipasi politik, perlindungan terhadap perempuan dan anak. Dokumentasi : Mosintuwu

“Apakah Poso aman?” pertanyaan ini sangat sering ditanyakan banyak orang jika bercerita atau bertemu orang Poso. Konflik kekerasan yang terjadi di Poso sejak tahun 1998 yang pernah melibatkan komunitas muslim dan kristen di Poso, masih menjadi referensi orang dalam membicarakan Poso. Dalam mesin pencari Goole, foto dan berita kekerasan masih mendominasi informasi tentang Poso. Beberapa orang mengaku sering membatalkan perjalanan atau rencana bekerja di Poso karena ketakutan atas informasi kekerasan yang terjadi di Poso.

“Kitorang ini memang pernah berkonflik, tapi bukan berarti kita tidak move on “ cetus Martince Baleona, pegiat perdamaian Poso yang pernah mengalami sendiri kekerasan. Keluarga ibu Martince pernah menjadi korban mutilasi, namun setelah mengikuti kelas sekolah perempuan Mosintuwu sejak 2010, Martince aktif melakukan kampanye perdamaian. Menurut Martince, kita dulu dipermainkan oleh politik dan berkonflik, sekarang ini sudah banyak orang Poso yang sadar dan rajut perdamaian bahkan bekerjasama.

Martince bukan satu-satunya yang membantah cerita seram tentang Poso. Sarino, seorang nelayan penjual ikan keliling, dalam ceritanya kepada tim redaksi mengatakan bahwa saat konflik pun dirinya dan teman-temannya tetapberusaha menjaga silahturahmi dengan muslim. “ kita ini sudah berkeluarga sejak dulu dan sampai sekarang” 

Sayangnya, berbagai operasi keamanan yang digelar di Kabupaten Poso mempertajam anggapan menakutkan tentang Poso. Sepanjang tahun 2013-2015 terdapat Operasi Aman Maleo sebanyak 5 jilid dan Operasi Camar Maleo sebanyak 4 jilid. Sejak tahun 2016 hingga sekarang, nama operasi keamanan ini diganti menjadi Tinombala.  Dalam edisi awal operasi pengejaran yang berlangsung dari tahun 2012 hingga 2015 polisi mengumumkan daftar nama-nama DPO sebanyak 58 orang. Nama Santoso alias Abu Wardah ada di daftar pertama bersama Ali Kalora. Sepanjang periode itu pula sebanyak 47 orang ditangkap dengan dakwaan terlibat dengan kelompok MIT. Terakhir tahun 2019 Polisi mengumumkan 14 nama DPO baru.  

Padahal, ada banyak cerita baik dari warga Poso, demikian pula kekayaan dan keindahan alam di Poso yang sayangnya tidak mendapatkan perhatian publik Indonesia dan internasional. “ Mau tahu tentang Poso? jangan tanya google, atau percaya pada televisi” demikian suatu waktu Lian Gogali, pegiat sosial mengirimkan pesan di sosial media “ datang langsung ke Poso, niscaya kalian akan menemukan banyak cerita inspiratif” lanjutnya. 

Kebutuhan untuk menciptakan sejarah dari pengalaman dan pengetahuan masyarakat akar rumput tentang Poso, sekaligus merayakan momentum 10 tahun berdirinya Institut Mosintuwu, diinisiasi gerakan kampanye Kabar Baik dari Poso.

Baca Juga :  Montibu, Suara dari Air untuk Jaga Danau Poso

“Ini adalah gerakan bersama masyarakat Poso untuk mengkampanyekan wajah Poso yang unik dan berbeda dari yang biasanya digambarkan oleh orang luar“ demikian Lian Gogali, direktur Institut Mosintuwu dan penggagas kampanye  tagar #kabarbaikdariposo menjelaskan. “ Poso memiliki banyak cerita menarik antara lain kebudayaan gotong royong bertani atau membangun rumah yang disebut mesale, atau kisah inspiratif muslim dan kristen saling menolong satu sama lain” 

Belum lagi,  keindahan alam di Kabupaten Poso sangat unik dan berasal dari jaman purba, sambung Lian. Iksam, kepala museum Sulawesi Tengah, membenarkan keunikan sejarah kebudayaan di Kabupaten Poso yang antara lain terlihat dari keberadaan megalitihum di Lembah Bada. “

Bahkan, Danau Poso adalah salah satu danau purba di dunia”, tegas Iksam. “ Poso, bukan hanya menjadi salah satu wilayah warisan kebudayaan di Indonesia, tapi dunia” 

Cerita perempuan di Poso dan keunikan kebudayaan serta alam di Poso memulai kampanye tagar kabar baik dari Poso. Institut Mosintuwu meluncurkan 10 cerita perempuan Poso yang bekerja di bidang ekonomi, pendidikan, perlindungan perempuan dan anak, wisata serta mempengaruhi politik di desa di sosial media. Diharapkan kampanye ini diikuti oleh  pengguna sosial media lainnya di Kabupaten Poso dengan ciri khas mereka masing-masing. 

Kampanye kabar baik dari desa, menurut Lian, bukan hanya berfungsi menghilangkan ketakutan orang tentang berkunjung ke Poso, tetapi terutama membangun kepercayaan diri orang Poso atas kekayaan kebudayaan dan keindahan alam yang dimilikinya. “Ini akan mendorong inisiatif dan kreativitas untuk membangun Kabupaten Poso yang berakar pada pengetahuan lokal”.

Baca Juga :  Festival Mosintuwu : Mengingat dan Merayakan Pengetahuan dan Alam Poso

Sebelumnya, kampanye kabar baik dari Poso, sudah dilakukan oleh sekelompok petani dan nelayan yang bergabung dalam Aliansi Penjaga Danau Poso bersama dengan para ahli geologi, antropologi, teolog dan limnologi dalam perjalanan Ekspedisi Poso. Ekspedisi Poso adalah sebuah penelusuran keanekaragaman budaya, alam serta potensi bencana di Kabupaten Poso. Kampanye tentang Poso yang indah juga sudah dimulai oleh anak-anak muda Poso di sosial media, antara lain melalui instagram @tanaposo dan @anakdanauposo serta @dodohamosintuwu.

“Kami mengajak lebih banyak orang menggunakan sosial medianya untuk memperkenalkan Poso dari perspektif masyarakat Poso “ ujar Lian.  Setiap orang yang memiliki sosial media bisa mulai mengkampanyekan keindahan alam Poso, kekayaan budaya, kegiatan dan aktivitas sehari-hari termasuk peristiwa di Poso dengan menggunakan tagar #kabarbaikdariposo. Lian melanjutkan bahwa , kita perlu menjadi orang yang menciptakan sejarah orang Poso melalui menceritakan narasi sehari-hari orang Poso. Jika tidak, sejarah tentang Poso hanya mencatat apa yang dipikirkan oleh orang lain di luar berdasarkan kepentingan ekonomi dan politik mereka, pungkasnya

Baca Juga :  Poso Merayakan Kebaikan Alam dan Pangan Lokal

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda