Alkhairat – Institut Mosintuwu Bersama Membangun Damai di Poso

0
415

Setelah melalui diskusi panjang, nyaris setahun lamanya, akhirnya komisariat daerah Alkhairaat Kabupaten Poso dan Institut Mosintuwu menandatangani kesepakatan untuk bersama-sama mengembangkan pendidikan dan pembangunan perdamaian yang berkeadilan di kabupaten Poso. Proses menuju kesepakatan ini dilakukan melalui beberapa kali perubahan bentuk kerjasama yang hendak dilakukan hingga redaksi poin-poin kesepahaman yang kemudian diteken.

Alkhairaat adalah organisasi Islam dengan jumlah pengikut terbesar di Sulawesi Tengah yang memiliki ribuan sekolah (madrasah) mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Dikutip dari laman http://alkhairaat.sch.id/sejarah-alkhairaat Sayyed Idrus Bin Salim Aldjufrie kemudian dikenal dengan sebutan Guru Tua mendirikan organisasi ini di kota Palu pada tanggal 30 Juni 1930 di sebuah ruangan sederhana rumah milik Haji Daeng Macora.

Pada sekitar tahun 1935 Guru Tua mendarat di pantai Takule, Mapane saat ini dan bertemu Baso Ali. Di tempat ini pula disebutkan tokoh asal Hadramaut Yaman itu bertemu dan berdialog dengan Albertus C Kruit.

Pasca Poso dilanda konflik sosial bernuansa Sara antara tahun 1998-2002, Alkhairaat menjadi salah satu organisasi keagamaan yang paling sering melakukan komunikasi dan dialog ditengah masyarakat untuk membangun perdamaian. 

Sebagai organisasi keagamaan dengan pengikut yang tersebar di desa-desa di kabupaten Poso, Alkhairaat berupaya menjaga tradisi islam toleran yang menjadi ciri khas organisasi ini ditengah makin kuatnya puritanisme yang membuat hubungan antar sesama yang harmonis dan asik menjadi terkotak-kotak. Paham yang sampai pada gagasan membangun kekhalifahan di Indonesia ini menyebar dengan cepat lewat pengajian-pengajian di media sosial. 

Sekretaris Komisariat Daerah Alkhairaat Poso, Ibrahim Ismail mengatakan, kerjasama yang dibangun dengan Institut Mosintuwu untuk mendukung lembaganya itu menguatkan pesan Islam yang ramah dan moderat lewat pendidikan bukan hanya disekolah tetapi juga komunitas yang lebih luas.

Baca Juga :  Robi Navicula dan Suara Kemakmuran di Desa

Melakukan kajian-kajian keagamaan dengan melibatkan sebanyak mungkin warga Alkhairaat yang disebut Abnaul khairaat menjadi salah satu cara selain mendorong minat baca dikalangan pelajar sekolah-sekolah Alkhairaat lewat penyediaan buku-buku bacaan menarik.

Memberikan bacaan yang berisi kajian-kajian sejarah Islam di Poso yang mudah dimengerti kepada warga Alkhairaat juga menjadi salah satu perhatian yang mendorong Alkhairaat menggandeng Institut Mosintuwu. Bacaan ini menurut Ibrahim Ismail bisa memberikan pengetahuan kepada mereka Islam yang mencintai Indonesia seperti yang diajarkan Guru Tua.

Dalam bait-bait mars Alkhairaat diserukan  

Alkhairaat tempat mendidik putra-putri berdasarkan pancasila

Menempah patriot paripurna mendidik islam yang sejati. 

Kiranya Allah memberkati Alkhairaat lanjutlah usianya

Mencipta manusia susila Sebagai bakti bagi negara

 

Kerjasama Alkhairaat dengan Institut Mosintuwu secara formal memang baru kali ini dilaksanakan. Namun sebenarnya banyak kegiatan yang dilaksanakan Institut Mosintuwu seperti sekolah perempuan menjadikan tokoh-tokoh muda Alkhairaat Poso menjadi bagian didalamya sebagai pengajar.

Dari materi yang dibawakan oleh kader-kader Alkhairaat seperi Asri Lakuntu dan Ibrahim Ismail inilah warga termasuk yang non muslim mengenal ajaran Islam yang toleran dan menganjurkan perdamaian. Pengetahuan ini tentu penting untuk membandingkannya dengan maraknya pandangan-pandangan Islam radikal yang begitu banyak bersebaran di internet dan dibagikan di media sosial.

Baca Juga :  Festival Mosintuwu : Mengingat dan Merayakan Pengetahuan dan Alam Poso

Koordinator Sekolah Keberagaman Institut Mosintuwu, Agussalim Tampakatu mengatakan, kerjasama ini akan menjadi modal untuk saling menguatkan kedua organisasi, terutama melawan bangkitnya intoleransi yang mulai mengkhawatirkan khususnya disetiap momen politik.

Dijelaskan Agussalim ada tiga poin kerjasama yang akan dilaksanakan kedua lembaga, yakni mendukung pengembangan program-program pembangunan perdamaian dan berkeadilan, menguatkan peran Komda Alkhairat Kabupaten Poso dan Institut Mosintuwu baik di Kabupaten Poso maupun di Nasional dan Internasional dalam program-program pembangunan perdamaian yang berkeadilan serta yang ketiga menyebarluaskan nilai, pesan dan program-program yang dilakukan oleh Komda Alkhairat Kabupaten Poso dan Institut Mosintuwu.

Selanjutnya, Agus Saleh menjelaskan untuk memastikan tercapainya tujuan Perjanjian Kesepahaman ini terdapat 3 bentuk program yang akan dikembangkan sepanjang tahun 2019 – 2020 ” Kita bersepakat bersama kembangkan sekolah keberagaman, perpustakaan keliling, kajian keagamaan, juga media dan penerbitan”

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda