Gerakan Dapur Umum, Solidaritas Penyintas Gempa & Tsunami

0
27

Mariati dan Rustin, dua penjual burasa dan kadoya dari desa Loli Tasiburi sudah di pasar Donggala hari Kamis 4 Oktober 2018 masih pagi-pagi sekali. Aktivitas di pasar itu mereka lakukan setelah seminggu sebelumnya gempa berkekuatan 7,4 disusul tsunami dan likuefaksi melanda sebagian besar wilayah Palu, Donggala dan Sigi. Ribuan orang meninggal dunia, dan ribuan lainnya masih hilang. Mariati dan Rustin adalah  hanya sebagian dari banyak perempuan yang sudah memulai aktivitas bahkan belum genap seminggu saat gempa dan tsunami menghancurkan rumah dan kehilangan beberapa orang keluarga. Keduanya mewakili semangat dan ketangguhan hidup orang Donggala, Palu dan Sigi. 

“ Harus berusaha untuk mencari makan sendiri” ujar ibu Mariati. Sementara Rustin menyambung “ tidak enak tergantung pada bantuan”. Hingga saat ini kedua ibu dan banyak warga lain masih tinggal di pengungsian dan beberapa kali ke rumah mereka yang sudah rusak. Stok jualan masih sedikit , pembeli juga masih jarang, tapi mereka memulai sebuah gerakan membangkitkan kehidupan.

Pasar menjadi ruang dimana terlihat jelas kehidupan dibangkitkan, kepercayaan diri dihidupkan, kekuatan bekerjasama di rajut dan kehormatan ditegakkan. Ditengah kesulitan itu mereka masih sempat bercanda untuk menarik pembeli yang sedikit. “Aginapa kita mobalu daripada Mo jarah”(lebih baik kita menjual daripada menjarah) diucapkan Suriati, penjual cabe di pasar Donggala. Kalimat itu adalah jawaban yang dia nasehatkan kepada anaknya agar berlaku terhormat bahkan ditengah kesulitan yang sangat besar.

Di pasar Lasoani, seorang ibu, dalam kesaksian Dewi Amir aktivis Libu, menolak jualannya dibeli diatas sepuluh ribu. Katanya, karena dalam situasi yang susah kita butuh berbagi. Pangan, makanan menjadi penghubung semua rasa. Setidaknya hal itu yang menggerakkan belasan penduduk dari Pipikoro turun dari gunung membawa bantuan beras. Mereka berjalan kaki selama 4 jam , membawa beras bantuan untuk masyarakat Pipikoro yang ada di Palu. Bahkan pada mereka yang terkena gempa, bertanya apakah mau dievakuasi ke desa mereka di Kantewu, karena kuatir.

Baca Juga :  Perempuan Desa: Melawan Isu, Mencegah Kepanikan di Gempa Poso

Sementara itu, memasuki kota Poso dan Tentena, setiap pengungsi disambut dengan belasan dapur umum dan posko yang mempersilahkan para pengungsi dari wilayah Palu, Donggala dan Sigi untuk beristirahat dan makan. Saya mendengar dengan haru, tiga motor yang berhenti di posko depan mesjid Kayamanya , relawan disana menyambut dengan bahagia dan berkata “ mari pak, ibu, singgah istirahat dulu, makan dulu baru lanjutkan perjalanan”. Lalu tiba di terminal Tentena, seorang anak muda dengan mikropon kecil berseru mengajak “ Mari, silahkan ke dapur umum kami, silahkan pak, ibu, adik-adik makan dan minum di tempat kami”

Cerita tentang gempa dan tsunami, melampaui angka-angka magnitudo atau jumlah korban dan kerusakan, cerita tentang mereka yang hidup dan bertahan hidup dengan saling membantu seketika memperlihatkan kekuatan untuk menyelamatkan semua orang, dimulai dari berbagi makanan sampai saling meminjamkan handphone untuk mengabarkan keadaan kepada sanak keluarga terlihat saat keadaan masih mencekam. Namun ada hal yang harus dipikirkan saat itu, bagaimana mendapatkan makanan yang cukup saat persediaan yang tersisa cuma sedikit. Solidaritas kemudian membuat para korban berpikir untuk memasak bersama, supaya sebanyak mungkin orang bisa makan.

Di Donggala kecamatan Banawa, dapur umum dimulai dari para pemuda di Masjid Raya yang membagikan makanan untuk ratusan pengungsi. Dapur umum ini berhubungan dengan Poso, tepatnya kota Tentena. Sambel Roa, tempe dan ayam goreng yang dibagikan kepada pengungsi disiapkan oleh para relawan disana. Menjadikan Tentena sebagai tempat menyiapkan bahan makanan menjadi pilihan paling tepat mengingat toko-toko hingga warung kecil di Donggala, Palu bahkan Parigi yang menjual bahan keperluan pokok tutup pasca bencana 28 September itu.

Baca Juga :  Kill the Radio..

Sejak Hari Minggu 30 September dapur umum yang digagas Jaringan Relawan Kemanusiaan buka di Tentena dengan fokus membuat makanan siap makan untuk dikirim kepada warga korban. 

Apa yang disiapkan berdasarkan perkembangan di Palu, Donggala dan Sigi  yang dilaporkan para relawan yang sehari setelah bencana itu sudah bergerak. Ella Nurlaela Lamasitudju , All Tampakatu, Sofyan Pian Siruyu juga Papa All dan lainnya yang ada di lapangan sepakat untuk mengembangkan gerakan dapur umum. 

Selama seminggu pertama, Posko Relawan Tentena fokus pada pengembangan dapur umum di berbagai tempat di lokasi terdampak gempa dan tsunami. Setiap hari pada minggu pertama ada 5.000 makanan dikirimkan ke posko-posko dapur umum di Pantai Barat, Palu dan Songgala.

Awalnya nasi bungkus termasuk dalam daftar yang dikirim. Memasuki minggu kedua, nasi bungkus mulai dikurangi seiring keadaan pengungsi yang mulai bangkit perlahan-lahan. Para korban mulai berusaha agar tidak bergantung pada bantuan yang mulai berdatangan.

Salah satu dapur umum di wilayah Pantai Barat ( foto : All Tampakatu )

Di Pantai Barat Donggala, terdapat 148 dapur umum yang diorganisir oleh jaringan relawan kemanusiaan yang berposko di Desa Toaya. Di kota Palu , penyintas aktivis  SKPHAM membuka dapur umum yang melayani 1. 000  – 3000 orang setiap harinya, serta mengorganisir 9 dapur umum lainnya di berbagai desa dan kecamatan. Di wilayah kota Donggala, terdapat 2 dapur umum yang melayani warga korban hingga ke lorong-lorong yang tidak terjangkau bantuan. 

“ agar tidak ada lagi berita kelaparan” tegas Sofyan, salah satu relawan yang mengorganisir dapur umum

Baca Juga :  Sekolah Kepemimpinan PerempuanLeadership Women School

Dalam gerakan dapur umum, para relawan di wilayah terdampak akan bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk membuat dapur umum yang mampu melayani seluruh desa atau ratusan orang. Posko relawan di Tentena mendukung suplai kebutuhan mulai bahan sampai peralatan masak memasak. Makanan siap makan seperti abon ikan, ikan roa, ikan asap, ayam saos dan makanan sehat lainnya dikirimkan langsung dari Dapur Umum Tentena yang dikelola oleh Institut Mosintuwu bersama para relawan lainnya.

Lian Gogali, inisiator gerakan dapur umum, menyebutkan alasan mengapa dapur umum menjadi penting “ “Selain dan terutama agar kelaparan bisa diatasi, dapur umum bisa menjadi ruang kebersamaan antar penyintas membangun kekuatan bersama. Dapur umum bisa menjadi ruang bertemu dan bercerita termasuk merencanakan bersama penataan hidup ke depan, baik dalam keluarga maupun masyarakat”

Selanjutnya, disampaikan oleh Lian bahwa ruang di dapur umum bisa menjadi ruang alternatif dimana masyarakat bersama pemerintah desa akan bersepakat menyusun rencana membangun desanya. 

 Memasuki minggu kedua sedikit demi sedikit keadaan mulai membaik. Para korban mulai berupaya memenuhi sendiri sebagian kebutuhannya dengan apa yang bisa diambil dari kebun. Seperti kata ibu Mariati, seorang pengungsi di Kilometer 8, Nasrun, tidak ingin menggantungkan dirinya pada bantuan.

“Kalau begini terus badan kita akan gemuk tapi tidak berdaya, tidak punya penghasilan sendiri”kata Nasrul salah seorang pengungsi di Donggala . Meskipun masih sering pusing karena trauma, Nasrul sudah memberanikan diri berkebun di kebunnya di pinggir laut.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda