Menemukan Akar Pancasila di Budaya Poso

0
81

“Nilai Pancasila itu justru ada di Poso” ujar tim kajian Dewan Pertimbangan Presiden, Al Zastrow. “ tidak perlu jauh-jauh mencarinya” sambungnya.

Ternyata, tidak sulit menemukan bentuk-bentuk pengamalan Pancasila di Kabupaten Poso. Mesale, posintuwu, padungku, molimbu, dan berbagai aktivitas sehari-hari yang biasanya dilakukan orang Poso adalah bentuk-bentuk pengamalan Pancasila. Cara pandang ini berakar pada pemahaman bahwa nilai-nilai Pancasila yang disimpulkan dalam sila-silanya, tidaklah jauh dari akar kehidupan masyarakat Indonesia. Termasuk di Poso, wilayah yang pernah mengalami konflik kekerasan. Bagaimana bisa?

Salah satu hal yang menandai berakhirnya masa pemerintahan Orde Baru adalah tidak adanya penataran P4. Pada jaman orde baru, wujud penghayatan dan pengamalan Pancasila identik dengan kebutuhan untuk melakukan penataran P4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Bukan hanya dalam kelas-kelas khusus yang memiliki durasi waktu spesifik, misalnya 50 jam , tetapi anak-anak sekolah setingkat SMP hingga kuliah memiliki kewajiban menghayati Pancasila sejak pertama kali masuk sekolah atau kuliah. Tak urung, cerdas cermat P4 antar sekolah di berbagai tingkatan menjadi salah satu ajang kompetisi siapa yang paling menghayati dan mengamalkan Pancasila. Tentu kemudian, siapa yang paling kuat menghapal materi P4 dianggap menjadi contoh pengamal Pancasila. 

“Itu kebijakan top down” ujar Al Zastrow, dalam percakapannya di Radio Mosintuwu. “Diasumsikan bahwa nilai-nilai Pancasila itu tidak hidup dalam masyarakat, tapi menjadi aturan yang ditetapkan oleh para elit. Maka penataran P4 itu ada”

Baca Juga :  Perempuan dalam Sejarah Poso : Tabib, Hakim dan Pemimpin Spiritual

Perspektif baru memahami memahami Pancasila yang berakar pada kebudayaan, muncul dalam kunjungan tim ahli dewan pertimbangan presiden (Wantimpres)  ke Poso tanggal 25 Agustus 2018.

Seperti dikatakan Al Zastrow “ nilai-nilai Pancasila yang digali Bung Karno, presiden pertama kita memang berasal dari masyarakat, bukan hasil teori yang dikarang oleh si pemimpin besar Indonesia “

Al Zastrow meneruskan cerita-nya “Awalnya saya mengira Pancasila itu ciptaan atau hasil bacaan bung Karno atas kondisi rakyat, bukan dari rakyat sendiri seperti katanya. Namun setelah di Poso saya jadi tahu bahwa bung Karno benar, Pancasila itu ada ditengah masyarakat. Sebab dia hidup ditengah masyarakat”

Perjalanan keliling tim ahli kemudian menemukan bahwa budaya Poso adalah bukti akar nilai-nilai Pancasila ada dalam masyarakat.

Toto Sugiharto, salah seorang tim ahli Wantimpres tidak bisa menyembunyikan kekagumannya akan kuatnya akar kebudayaan orang Poso yang sarat nilai Pancasila. Saat bercerita di Dodoha Mosintuwu, Toto menyebut, resolusi konflik dan pengembangan ekonomi di desa-desa yang dilakukan Institut Mosintuwu merupakan contoh bagaimana kekuatan masyarakat membangun Indonesia dari bawah.

Budaya Mesale hingga kini masih kental di desa-desa yang ada di kabupaten Poso. Tradisi ini bukan hanya ada di perayaan-perayaan seperti pesta perkawinan. Tradisi saling membantu ini masih ada saat musim tanam padi dimulai, begitu juga saat panen Mesale masih dilakukan meski mesin Odong-Odong mulai menjadi pilihan banyak petani dengan alasan efisiensi waktu dan biaya.

Baca Juga :  Menjadi Pemimpin Perempuan di Lembah Lebanu PosoBecoming Women Leader

“Kenapa masih Mesale, padahal harus kasi siapkan makanan dan lebih lambat sedikit, sebab  hasilnya lebih banyak dan beras lebih bersih” demikian Amos, petani yang ditemui sedang memanen padi di sawahnya di kelurahan Sawidago, Pamona Utara beberapa waktu lalu.

Selain Mesale, ada pula Posintuwu, saling membantu, memberikan sumbangan saat ada yang membutuhkan, bahkan jika ada yang tidak mempunyai uang mereka akan memberikan tenaga.

Al Zastrow melihat pengamalan nyata pancasila itu mereka temukan di Poso, daerah yang 20 tahun terakhir dilabel sebagai wilayah teroris.

Mantan juru bicara Gus Dur ini menyebut orang Poso mengamalkan Pancasila dengan perbuatannya bukan dengan kata-kata. Budaya Sintuwu Maroso (bersama kita kuat) menjadi perekat diantara orang-orang Poso yang majemuk. Budaya Poso yang masih kuat ini seharusnya menjadi harta yang harus terus dijaga. Nilai-nilai inilah yang menjadi alasan Wantimpres memilih Poso untuk dijadikan tempat belajar bagi mereka untuk menggali nilai-nilai Pancasila yang berakar ditengah masyarakat.

“Nilai-nilai Sintuwu Maroso dan kearifan lain yang dimiliki Poso ini sesungguhnya adalah emas. Sayangnya banyak diantara kita yang tidak menyadari itu dan lebih memilih budaya dari luar” meski menemukan banyak energi yang kuat ditengah masyarakat, Zastrow juga membaca adanya gejala mulai hilangnya akar budaya pada generasi muda.

Baca Juga :  Tekad Dulumai Jadi Pusat Kerajinan Bambu Kabupaten Poso

Kekhawatiran Zastrow tentang fenomena generasi muda yang mulai meninggalkan akar kebudayaannya memang sedang terjadi ditengah-tengah kita. Banyaknya kasus narkotika yang menjerat anak-anak muda merupakan satu contoh. Bahkan saat Padungku, tradisi merayakan hasil panen di masyarakat Pamona yang spiritnya adalah kebersamaan, kini seakan jadi kontestasi siapa yang makanannya paling banyak dan mewah.

Kritik atas perubahan nilai-nilai Padungku dan Mesale sebelumnya juga sudah dilontarkan budayawan Poso, Almarhum Yustinus Hokey dalam beberapa kesempatan. Dari pengamatannya di lapangan, almarhum Hokey menilai telah terjadi degradasi nilai-nilai Mesale akibat perkembangan kebudayaan modern esensinya gagal ditangkap.

Hanya mengenal kulit tapi belum mengetahui isinya, begitu Yustinus selalu mengatakan ketika melihat betapa mudahnya orang mengagumi budaya dari luar tanpa mempelajarinya terlebih dahulu, lalu penulis lagu-lagu Poso ini menyerukan perlunya mengenalkan kembali tradisi yang masih hidup kepada generasi muda. 

Yustinus kemudian menggunakan istilah internalisasi nilai untuk menanamkan nilai-nilai budaya pada anak-anak muda, tanpa iitu, dia yakin budaya Poso hanya akan tinggal sebagai sejarah saja.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda