Berbagi Cerita Baik di Lebaran Poso

0
1002
“Apakah Poso aman?” pertanyaan ini sangat sering ditanyakan banyak orang tentang Poso. Konflik kekerasan yang terjadi di Poso sejak tahun 1998 yang pernah melibatkan komunitas muslim dan kristen di Poso, masih menjadi referensi orang dalam membicarakan Poso. Dalam mesin pencari Goole, foto dan berita kekerasan masih mendominasi informasi tentang Poso. Beberapa orang mengaku sering membatalkan perjalanan atau rencana bekerja di Poso karena ketakutan atas informasi kekerasan yang terjadi di Poso. “Kitorang ini memang pernah berkonflik, tapi bukan berarti kita tidak move on “ cetus Martince Baleona, pegiat perdamaian Poso yang pernah mengalami sendiri kekerasan. Keluarga ibu Martince pernah menjadi korban mutilasi, namun setelah mengikuti kelas sekolah perempuan Mosintuwu sejak 2010, Martince aktif melakukan kampanye perdamaian. Menurut Martince, kita dulu dipermainkan oleh politik dan berkonflik, sekarang ini sudah banyak orang Poso yang sadar dan rajut perdamaian bahkan bekerjasama. Martince bukan satu-satunya yang membantah cerita seram tentang Poso. Sarino, seorang nelayan penjual ikan keliling, dalam ceritanya kepada tim redaksi mengatakan bahwa saat konflik pun dirinya dan teman-temannya tetapberusaha menjaga silahturahmi dengan muslim. “ kita ini sudah berkeluarga sejak dulu dan sampai sekarang” Sayangnya, berbagai operasi keamanan yang digelar di Kabupaten Poso mempertajam anggapan menakutkan tentang Poso. Sepanjang tahun 2013-2015 terdapat Operasi Aman Maleo sebanyak 5 jilid dan Operasi Camar Maleo sebanyak 4 jilid. Sejak tahun 2016 hingga sekarang, nama operasi keamanan ini diganti menjadi Tinombala. Dalam edisi awal operasi pengejaran yang berlangsung dari tahun 2012 hingga 2015 polisi mengumumkan daftar nama-nama DPO sebanyak 58 orang. Nama Santoso alias Abu Wardah ada di daftar pertama bersama Ali Kalora. Sepanjang periode itu pula sebanyak 47 orang ditangkap dengan dakwaan terlibat dengan kelompok MIT. Terakhir tahun 2019 Polisi mengumumkan 14 nama DPO baru. Padahal, ada banyak cerita baik dari warga Poso, demikian pula kekayaan dan keindahan alam di Poso yang sayangnya tidak mendapatkan perhatian publik Indonesia dan internasional. “ Mau tahu tentang Poso? jangan tanya google, atau percaya pada televisi” demikian suatu waktu Lian Gogali, pegiat sosial mengirimkan pesan di sosial media “ datang langsung ke Poso, niscaya kalian akan menemukan banyak cerita inspiratif” lanjutnya. Kebutuhan untuk menciptakan sejarah dari pengalaman dan pengetahuan masyarakat akar rumput tentang Poso, sekaligus merayakan momentum 10 tahun berdirinya Institut Mosintuwu, diinisiasi gerakan kampanye Kabar Baik dari Poso. “Ini adalah gerakan bersama masyarakat Poso untuk mengkampanyekan wajah Poso yang unik dan berbeda dari yang biasanya digambarkan oleh orang luar“ demikian Lian Gogali, direktur Institut Mosintuwu dan penggagas kampanye tagar #kabarbaikdariposo menjelaskan. “ Poso memiliki banyak cerita menarik antara lain kebudayaan gotong royong bertani atau membangun rumah yang disebut mesale, atau kisah inspiratif muslim dan kristen saling menolong satu sama lain” Belum lagi, keindahan alam di Kabupaten Poso sangat unik dan berasal dari jaman purba, sambung Lian. Iksam, kepala museum Sulawesi Tengah, membenarkan keunikan sejarah kebudayaan di Kabupaten Poso yang antara lain terlihat dari keberadaan megalitihum di Lembah Bada. “ Bahkan, Danau Poso adalah salah satu danau purba di dunia”, tegas Iksam. “ Poso, bukan hanya menjadi salah satu wilayah warisan kebudayaan di Indonesia, tapi dunia” Cerita perempuan di Poso dan keunikan kebudayaan serta alam di Poso memulai kampanye tagar kabar baik dari Poso. Institut Mosintuwu meluncurkan 10 cerita perempuan Poso yang bekerja di bidang ekonomi, pendidikan, perlindungan perempuan dan anak, wisata serta mempengaruhi politik di desa di sosial media. Diharapkan kampanye ini diikuti oleh pengguna sosial media lainnya di Kabupaten Poso dengan ciri khas mereka masing-masing. Kampanye kabar baik dari desa, menurut Lian, bukan hanya berfungsi menghilangkan ketakutan orang tentang berkunjung ke Poso, tetapi terutama membangun kepercayaan diri orang Poso atas kekayaan kebudayaan dan keindahan alam yang dimilikinya. “Ini akan mendorong inisiatif dan kreativitas untuk membangun Kabupaten Poso yang berakar pada pengetahuan lokal”. Sebelumnya, kampanye kabar baik dari Poso, sudah dilakukan oleh sekelompok petani dan nelayan yang bergabung dalam Aliansi Penjaga Danau Poso bersama dengan para ahli geologi, antropologi, teolog dan limnologi dalam perjalanan Ekspedisi Poso. Ekspedisi Poso adalah sebuah penelusuran keanekaragaman budaya, alam serta potensi bencana di Kabupaten Poso. Kampanye tentang Poso yang indah juga sudah dimulai oleh anak-anak muda Poso di sosial media, antara lain melalui instagram @tanaposo dan @anakdanauposo serta @dodohamosintuwu. “Kami mengajak lebih banyak orang menggunakan sosial medianya untuk memperkenalkan Poso dari perspektif masyarakat Poso “ ujar Lian. Setiap orang yang memiliki sosial media bisa mulai mengkampanyekan keindahan alam Poso, kekayaan budaya, kegiatan dan aktivitas sehari-hari termasuk peristiwa di Poso dengan menggunakan tagar #kabarbaikdariposo. Lian melanjutkan bahwa , kita perlu menjadi orang yang menciptakan sejarah orang Poso melalui menceritakan narasi sehari-hari orang Poso. Jika tidak, sejarah tentang Poso hanya mencatat apa yang dipikirkan oleh orang lain di luar berdasarkan kepentingan ekonomi dan politik mereka, pungkasnya

Bila hari raya Idul Fitri atau Idul Adha tiba, banyak motor dan mobil dari Tentena menuju Poso. Saat Natal di bulan Desember, giliran mobil dan motor dari Poso Kota yang banyak menuju Tentena. Begitu pemandangan di jalan raya saat hari raya di kabupaten Poso.

“Kalau Natal, torang pigi pasiar sama teman-teman di Tentena. Nanti lebaran, dorang juga datang pasiar kemari”. Begitu Rahman menggambarkan eratnya hubungan mereka meski berbeda keyakinan. Saat lebaran, rumah warga kelurahan Kasintuwu, Poso Kota Utara ini banyak dikunjungi teman-temannya yang beragama Kristen. 

Joshua Fery, rutin menyapa teman-teman muslimnya saat lebaran tiba. Dia selalu membawa rombongan saat lebaran ke Poso Kota untuk bersilaturahmi kepada mereka yang merayakannya.

“Sudah setiap lebaran saya mendatangi rumah teman-teman di kota Poso sama keluarga dan teman-teman. Selalu ada sambutan yang hangat,”. Lebih dari satu rumah yang disinggahi. Selama masih kuat, demikian istilah mereka, mereka akan singgah di semua rumah keluarga dan teman beragama muslim di wilayah Poso Kota. Kalau sudah lelah, maka pesan singkat berisi permohonan maaf yang akan dikirimnya kepada pemilik rumah yang tidak sempat disinggahi.

Baca Juga :  Musik Poso dan Ingatan tentang Alam

Joni, termasuk diantara orang-orang yang bersilaturahmi atau bahasa sehari-hari pesiar saat lebaran tiba. Bersama istri dia mengunjungi rumah Rianto, sahabatnya yang tinggal di kelurahan Sayo, Poso Kota Selatan. Bersama Rianto, mereka kemudian bersama-sama mengunjungi rumah lain yang sebelumnya tidak dikenalnya. Meski awalnya canggung, dia akhirnya bisa terlibat obrolan panjang dengan tuan rumah yang baru dikenalnya. “Itu asiknya kalau hari raya begini, banyak makanan, teman tambah banyak juga” kata Joni sambil tertawa.

Saling mengunjungi di hari raya bagi Rahman, Feri dan Joni adalah merawat pertemanan dan untuk merayakan kegembiraan ditengah makin menguatnya ekslusifisme masyarakat perkotaan seperti yang ditunjukkan beberapa hasil survey belakangan. Kecenderungan yang dikritik oleh ketua MUI kota Palu, Zainal Abidin menjadikan agama sebagai berhala namun melupakan intinya, yakni keberimanan. Sementara Ustadz  Junaidi, dalam khotbahnya di masjid raya Donggala mengingatkan pentingnya merawat budaya sebagai modal menjaga kebinekaan ditengah masyarakat.

Kehidupan bertoleransi sempat terancam oleh bangkitnya radikalisme yang diedar melalui media sosial, belum lagi peran pemerintah orde baru juga tidak kalah besar. Dahulu di Desa Malei, kata Irmawati, warga yang beragama Islam maupun Kristen saling memberi dan berkunjung saat hari raya Idul Fitri maupun Natal tiba. “Tapi setelah sekitar tahun 80an ada larangan mengucapkan selamat hari Natal kepada saudara yang Kristen, semua mulai berkurang. Tapi kami disini tetap seperti biasa, mengucapkan selamat Natal dan yang kristen juga begitu”. 

Yang menyenangkan, di perayaan Idul Fitri di Poso, seruan berbuat kebaikan dikumandangkan dalam khotbah. Seperti khotbah shalat Ied di lapangan Kasintuwu, Poso Kota Utara yang dihadiri  seribuan umat Islam. “ingat mati. Karena itu berbuat baiklah” begitu inti khotbah yang disampaikan dengan nada serius.

Baca Juga :  Mereka Yang Membangunkan Sahur
Pdt. Chella Marunduh dari Tentena bersama teman baiknya Masna dari Tokorondo

Konflik yang jadi Refleksi Bersama

“ Dulu sewaktu konflik, ada itu nenek yang sudah angkat cucunya buru-buru mengungsi ke hutan sampai lupa kepala cucunya so dibawah “ gelak tawa menyertai percakapan siang hari itu di rumah Evi Tampakatu, warga muslim Kelurahan Tegalrejo. Cerita disambung oleh Cici, warga Kristen  dari Tentena yang hari itu berkunjung. 

“Di Galuga, ada itu ibu sudah bawah itu gerobak isi semua pakaian dan makanan untuk pakai mengungsi dan dorong sambil berlari . Dia tidak sadar kalau di gerobaknya ada orang yang juga ikut didalam. Tapi tidak kerasa beratnya” Cici menghentikan ceritanya karena seluruh ruangan membayangkan suasana saat itu. “ itu gerobak dibawa sampai di Polres, di sana baru kerasa berat sekali dan sadar kalau ada orang di dalamnya” 

Konflik kekerasan dan bagaimana dinamika komunitas menghadapinya tidak lagi diceritakan dengan kengerian yang menguatkan trauma, sebaliknya menyadarkan pentingnya menguatkan pengertian dan kepercayaan .

“Kita dulu bodoh sekali bisa dibuat saling berkelahi sama orang luar” cerita Martince, warga Kristen lainnya. Padahal, sambung lainnya, sejak Kabupaten Poso belum berdiri sejarah kawin mawin dan ikatan saudara lintas agama menjadi hal yang sangat biasa di Poso.  “Beragama jadi urusan pribadi, yang penting bersaudara itu diingat” lanjut Martince.

Baca Juga :  Cerita Rakyat untuk Mitigasi Bencana

Di rumah-rumah yang dikunjungi, saling bercerita tentang bagaimana dulu menghadapi konflik disampaikan dengan refleksi betapa pentingnya untuk tidak lagi menjadi bagian dari sejarah gelap kekerasan. “So cukup kita alami dan merusak kita semua. Sudah terbukti menang jadi arang, kalah jadi abu. Tidak ada gunanya “ demikian Bale, warga muslim yang hari ini kedatangan teman-temannya dari Tentena. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda