Buka Puasa Lintas Agama : Kuatkan Wajah Poso yang Toleran

0
281

“Saya senang saudara saya yang kristen bisa hadir sama-sama”kata Farham, seorang jemaah masjid Al Ikhlas, Desa Patiwunga, kecamatan Poso Pesisir. Tangannya sibuk menyalami beberapa ibu dari Desa Tangkura, Betalembah serta wilayah Tentena yang  hari itu berdatangan sore menjelang magrib. Ibu Bakumawa, ibu Roslin adalah sebagian dari warga Kristen yang hari itu mengunjungi mesjid. Mereka punya hajatan bersama, buka puasa.

Hari ke-12 bulan Ramadhan, tanggal 29 Mei 2018, buka puasa di masjid Al Ikhlas desa Patiwunga, kecamatan Poso Pesisir lebih ramai dari biasanya. Ibu-ibu dan remaja putri menata makanan di teras samping dan depan masjid, juga didalam. Dihalaman depan ada tenda yang disiapkan, warga Nasrani duduk dibawahnya.

“Ini baru pertama kali dibikin di masjid ini” cerita ibu Eda bangga.

Bertema berbagi kasih, anugerah Ramadhan untuk kemanusiaan, buka puasa lintas agama diselenggarakan oleh Institut Mosintuwu . Desa Kilo, kecamatan Poso Pesisir Utara, Desa Patiwunga , kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kelurahan Tegalrejo, kecamatan Poso Kota Utara, Kelurahan Sangele, kecamatan Pamona Puselembah di wilayah Kabupaten Poso, dan Desa Tomata kecamatan Mori Utara Kabupaten Morowali menjaga wilayah yang dipilih untuk melangsungkan buka puasa lintas iman. Di semua wilayah tersebut terdapat beragam agama dan suku yang terlibat dalam buka puasa.

“Buka puasa bersama ini bagi kami berfungsi untuk memperkuat praktek toleransi yang sudah ada ditengah masyarakat Poso” jelas Lian Gogali, Direktur Institut Mosintuwu yang memimpin proses buka puasa.

Ibu Taming, warga Sangele yang tinggal di wilayah mayoritas Kristen mengungkapkan kebahagiaannya atas penyelenggaraan buka puasa lintas agama ini 

“ ini sangat senang, harus sering kita adakan silahturahmi seperti ini supaya kita bisa saling terbuka, tidak lagi curiga, dan bisa kerjasama ke depan” ujarnya yang disambut anggukan setuju dari imam mesjid Jami Baitullah. “Kami disini gembira, hidup ditengah saudara-saudara kami yang nasrani ibadah kami berjalan lancar,” sambung Timang

Baca Juga :  Handbook Peringatan dan Tanggap Dini Konflik di Poso

Imam masjid Jami Baitullah Tentena saat buka puasa bersama dengan pemuda-pemudi Kristen diberanda masjid mengatakan sangat bersyukur ada warga yang beragama non islam turut berbuka bersama mereka.

“Bulan puasa ini kami senang karena bisa berkumpul, yang ada di Sulewana, di Tonusu, datang untuk berbuka disini, termasuk sekarang ada saudara-saudara saya yang kristen juga datang. Ini bikin kita semua disini merasa sebagai saudara”katanya.

“Lain kali diundang lagi lebih banyak orang. Jadi ini contoh bahwa hubungan kami disini baik-baik saja, tidak ada permasalahan, kegiatan berbuka bersama ini contoh kami disini bersaudara”begitu kata Jois warga desa Patiwunga setelah buka puasa bersama di masjid Al Ikhlas. Ini juga menjadi pengalaman pertama bagi dia mengalami lebih dekat bagaimana warga lain menjalankan ibadahnya.

Sementara itu, di wilayah Poso Pesisir Selatan termasuk salah satu daerah di kabupaten Poso yang penduduknya beragam. Di Desa Betalemba , mayoritas warga beragama Hindu, lainnya beragama Islam dan Kristen. Di Tangkura, terdapat warga Kristen dan Muslim , serta sebagian kecil warga Hindu.  Di wilayah dimana keberagaman agama dan suku ini hidup berdampingan, peristiwa kekerasan masih terjadi hingga tahun 2015. Terakhir terjadi, peristiwa pembunuhan terhadap 3 orang warga desa Tangkura yang oleh aparat keamanan pelakunya disebut adalah kelompok Majelis Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso (sekarang Ali Kalora). Peristiwa yang berbuntut larangan untuk berkebun di tempat yang jauh dari pemukiman itu pada akhirnya menimbulkan persoalan psikis dan ekonomi di ibukota kecamatan Poso Pesisir Selatan itu. Sebagai desa yang mayoritas penduduknya petani, ketakutan plus larangan ke kebun pada waktu itu membuat masyarakat tidak mampu membeli makanan.  Bukan hanya yang beragama Kristen yang akhirnya menjadi korban akibat peristiwa pembunuhan itu. Mereka yang beragama Islam juga sama menderitanya. Solidaritas kemudian muncul dari berbagai tempat.

Baca Juga :  Jelajah Waktu : Poso Dulu dan KiniTime Travel : Past and Present Life of Poso

Dilibatkannya umat beragama lain dalam buka puasa menjadi ruang untuk mencairkan suasana yang sempat dibalut kecurigaan.

“Kegiatan seperti ini, perlu terus dilakukan, untuk menjaga persaudaraan diantara kita sesama umat manusia”kata iman Masjid Al Ikhlas.

Keragaman di desa-desa ini masih terjaga ditengah meningkatnya praktek intoleransi yang ditiupkan oleh para politisi di Jakarta. Ini tentu sesuatu yang menarik, mengingat Poso merupakan bekas wilayah konflik berbau sektarian. Di tengah beberapa laporan hasil penelitian menunjukkan praktek intoleransi menguat 10 tahun belakangan, juga persepsi tentang Poso sebagai daerah konflik justru dicairkan melalui aktivitas bersama. Buka puasa lintas agama ini menjadi salah satu contoh dari aktivitas warga Poso yang ingin menyampaikan cara lain memandang Poso.

Buka Puasa dan Ingatan Saling Menghargai

Jauh sebelum ada aktivitas buka puasa lintas iman, Poso memiliki tradisi silahturahmi yang sangat kuat lintas agama dan suku. Silahturahmi ini dilakukan bukan hanya pada saat hari raya keagamaan tapi dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dalam kebudayaan Poso yaitu Tuwu Malinuwu , Tuwu Siwagi, Sintuwu Maroso adalah konsep hidup dalam kehidupan sehari-hari. Tuwu Malinuwu yaitu saling menghidupi antara lain ditampilkan dalam saling mendukung antar orang Poso saat terjadi pernikahan maupun kedukaan , yaitu memberikan sumbangan materiil maupun psikologi. Sementara itu Tuwu Siwagi yang artinya saling menopang terlibat dalam tradisi bekerjasama. Mesale, atau bekerja bersama-sama pada suatu tempat secara bergantian misalnya sawah atau ladang, adalah contoh yang masih sebagian besar masyarakat mengerjakannya. 

Sintuwu Maroso bisa jadi menggambarkan keutuhan hidup bersama di Poso. Sintuwu Maroso jadi  inti budaya berpikir positif masyarakat Pamona , ada pedoman tentang saling menghargai, saling menghidupi dan saling tolong menolong” demikian Pdt. Asyer Tandampai dalam beberapa tulisannya .

Baca Juga :  Menolak Budaya Kekerasan Terhadap Perempuan

“ Buka puasa bersama lintas iman ini menjadi salah satu pengingat bagi semua orang Poso termasuk generasi muda tentang falsafah hidup saling menghargai” jelas Lian Gogali.

Ingatan tentang hidup yang saling menghargai ini terlihat dalam percakapan yang terjadi di semua mesjid yang dikunjungi dalam buka puasa lintas agama. Setiap yang hadir saling mengingat bagaimana sebelumnya mereka saling bertemu dan pernah bekerjasama , tanpa membicarakan perbedaan agama.

“Saya ingat dulu, kita pernah sama-sama satu sekolah dan bikin karya bersama “ ujar Hadrah saat bercakap di mesjid Tomata. Pembicaraan itu disambung dengan ingatan lainnya tentang hal sehari-hari yang dilakukan bersama-sama dulunya. Tidak ketinggalan kerinduan untuk mengulang kembali masa-masa itu. 

“Semoga silahturahmi ini terus berlanjut sampai nantinya kita bisa bekerja bersama bangun tana Poso” doa dan harapan dari ibu Evi disambung ucapan Amin dari semua yang mendengarnya.

Buka Puasa di Tegalrejo, diakhiri dengan rencana kerjasama remaja mesjid Tegalrejo dan remaja gereja asal Tentena dalam ekspresi bersama yang memproklamasikan kehidupan saling menghargai.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda