Sahur di Poso, Bersama Irama dari Sendok dan Botol Kosong

0
85
Mesjid di Poso, foto oleh Wahid Mewanta

Tidak mudah untuk selalu bangun pada pukul 02.00 hingga 04.00, apalagi setiap hari. Di bulan Ramadhan, bangun tengah malam atau subuh menjadi kebutuhan untuk mereka yang berpuasa. Alarm dari jam yang sengaja distel untuk membangunkan pun kadang tidak berhasil, apalagi bagi mereka yang bekerja seharian. Demikian pula suara dari mesjid, masih terasa kurang membangunkan orang untuk sahur.

Bagi Rahmat dan Ivan, dua remaja di Kelurahan Gebang Rejo, membangunkan orang untuk sahur adalah kegiatan yang ditunggu-tunggu saat Ramadhan. Menggunakan botol dan sendok yang dipukul dengan irama yang sedikit acak mereka berjalan kaki dari lorong ke lorong rumah sambil bernyanyi. “Sahurr…sahurr” penuh semangat berteriak tanpa kuatir dengan suara mereka dianggap mengganggu. Maklum, semakin kuat teriakan mereka , banyak orang yang terbantu untuk bangun sahur.

Memulai aktivitas keliling membangun sahur, kedua remaja ini biasanya menunggu teman-temannya di dekat tugu jam kota pukul 02.00 dinihari sambil menenteng gitar dan botol kosong. Setelah berkumpul sekitar 5 orang, mereka mulai berjalan kaki masuk ke lorong-lorong sambil bernyanyi dan berteriak “sahuur-Sahuur”diiringi petikan gitar dan ketukan botol menggunakan sendok.

Baca Juga :  Dongeng Damai Anak PosoPeace Storytelling of Children in Poso

“Hanya untuk senang-senang saja. Siapa tahu jadi pahala”kata Ivan. 

Tidak setiap malam mereka berkeliling seperti itu. Kadangkala menggunakan mobil dengan memasang pengeras suara dibagian belakang sambil memutar lagu-lagu Kasidah.

“Orang tua tidak ada masalah. Dorang mendukung. Biasanya jam 3:30 saya sudah pulang makan sahur”kata Mamat yang sekolah di salah satu SMA di kota Poso.

Bukan hanya mereka. Jika Sahur di Poso, kita juga akan mendengar seruan berkali-kali dan beragam dari para penyeru Sahur ini. Mamat misalnya, warga Poso Kota Utara, ini menjadi vokalis diatas sebuah truk yang dipenuhi sound system sambil sesekali memanggil  nama-nama orang yang dikenalnya saat melintas. Bagi Mamat, membangunkan Sahur adalah ibadah. Karena itu, biasanya dia telah bersiap sejak pukul 01.30, saat orang lain masih tidur. Biasanya dia menunggu jemputan mobil di depan rumahnya di kelurahan Bonesompe. Dia sendiri biasanya sahur diatas mobil.

“Kalau kita di RT sini memang menyumbang untuk anak-anak yang kasi bangun sahur, serelanya, kan dorang sudah membantu kasi bangun kita dan orang lain. Lagipula itukan positif, mencintai ibadah puasa”kata Nurlinayah, seorang pegawai kantor pemda mengenai sumbangan yang diberikan untuk mendukung biaya bensin kendaraan yang digunakan membangunkan sahur keliling.

Baca Juga :  Kerincing Damai Anak PosoKerincing Damai Anak Poso

Membangunkan sahur keliling sambil memainkan gitar dan alat musik lain sudah dilakukan anak-anak muda di kelurahan Bonesompe sejak tahun 90an. Sebagian dari mereka biasanya baru tidur setelah berkeliling dan makan sahur. Sambil berjalan kaki masuk dari lorong ke lorong tidak terasa jumlah rombongan bertambah karena banyak anak-anak yang terbangun mendengar mereka kemudian ikut sampa berakhir di halaman masjid.

Meski membuat bising, namun tidak ada yang keberatan dengan aksi dari mereka yang membangunkan sahur ini. Edy warga Bonesompe misalnya, meski protes lagu yang dinyanyikan dirubah-rubah sampai kadang iramanya fals, suara soundnya terlalu besar memekakkan telinga namun dia senang karena seluruh keluarga terutama anak-anaknya bisa terbangun saat waktu sahur tiba.

Tradisi membangunkan sahur sebenarnya berasal dari Mesir saat Khalifah Al-Munthashir Billah dari dinasti Abbasiyah berkuasa. Pada tahun 238 H, dia berkeliling  dengan berjalan kaki di kota Kairo untukmembangunkan penduduk agar makan Sahur.

Di Poso sendiri tradisi membangunkan orang untuk ber sahur sudah ada sejak tahun 50an. Saat itu belum semua masjid memiliki pengeras suara sehingga dengan menggunakan gendang orang-orang berjalan kaki mengajak untuk sahur. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda