Kwatirkan Budaya Poso, Anak Muda Tolak Pengerukan Danau

0
565

Anak-anak muda Danau Poso yang bergabung dalam Panggung Bersama Mosintuwu menolak rencana pengerukan Danau Poso. Koordinator Gerakan Panggung Bersama (GPB) Anak Muda Poso, Yeni Tarau mengatakan proyek pembangunan Danau Poso akan mengakibatkan rusaknya warisan budaya dan ekosistem Danau Poso.

“Proyek dengan dalih penataan Danau Poso mengancam kelestarian ekosistem danau yang menjadi sumber penghidupan orang di pesisir danau. Selain itu juga menghilangkan budaya Monyilo, Mosango, Wayamasapi dan hilangnya habitat ikan di Kompo Dongi”  kata Yeni.

Monyilo adalah kebudayaan nelayan di perairan Danau Poso yang  mencari ikan dengan menombak pada malam hari. Sementara Mosango adalah cara menangkap ikan yang dilakukan bersama-sama menggunakan alat tangkap dari bambu kecil , biasanya bisa melibatkan lebih dari 100 orang. Mosango dilakukan pada saat air danau surut di wilayah yang disebut kompo Dongi, sebuah wilayah dimana ikan-ikan bertelur dan berkembang biak.

Pengerukan Danau Poso, kata Yeni kedalaman danau yang akan ditambah hingga 2 meter membuat sulit bagi nelayan menombak ikan. Apalagi tiang Wayamasapi sulit didapatkan lagi dengan ketinggian hingga 7 meter dan teluk Dongi yang menjadi lokasi tradisi Mosango akan dirubah menjadi taman lewat reklamasi dengan material dari dasar sungai yang dikeruk.

Baca Juga :  Menemukan Akar Pancasila di Budaya Poso

Yeni mengatakan aksi penolakan anak muda terhadap pengerukan Danau Poso dilakukan karena mereka peduli dengan kelestarian alam dan budaya Poso. Selama ini anak-anak muda dan para tokoh budaya prihatin dengan semakin hilangnya sumber-sumber kebudayaan di Poso.

“Makanya ngkai-ngkai budayawan sempat datang bertemu dengan anak-anak muda ini dan bilang, kalau budaya kami sudah hilang, bagaimana nasib generasi kami,” ungkap Yeni menambahkan.

Selama ini anak-anak muda Poso bergabung dalam Gerakan Panggung Bersama untuk menyuarakan kepedulian pada Tana Poso. Mereka juga membuat album Kompilasi Tana Poso yang berisi lagu-lagu Poso seperti Wayamasapi, Yondo Pamona, Matiandano, dan sebagainya.

Pada aksi budaya tersebut mereka juga menyanyikan lagu-lagu yang ada dalam Album tersebut. Mereka menggunakan gitar dan gendang, didukung pengeras suara sederhana anak-anak muda ini berusaha menggugah ingatan orang-orang yang melintas menuju lokasi kegiatan itu akan sejarah dan pentingnya danau Poso tetap lestari.

“Aksi budaya kami hanya untuk mengingatkan orang-orang tua kami bahwa danau ini adalah warisan, kalau dia rusak maka tradisi dan identitas kita orang Poso juga akan hilang” tambah Yeni.

Baca Juga :  Sekolah Perempuan : Gelora Berkarya untuk Damai dan Adil di PosoWomen School 3rd Batch : A Practical Movement for Peace and Justice in Poso

Rencana PT Poso Energi mengeruk dasar sungai di hulu hilir danau mulai dari mulut danau Poso kearah sungai sepanjang 12,8 kilometer dengan kedalaman pengerukan 4 meter dan lebar 40 meter. Pengerukan dasar sungai ini dilakukan untuk kepentingan menggerakkan turbin air di PLTA.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda