Tekad Dulumai Jadi Pusat Kerajinan Bambu Kabupaten Poso

0
641

Kerajinan bambu mulai menjadi prospek baru kerajinan di Kabupaten Poso. Ini bermula dari 2 orang warga Desa Dulumai, Iver dan Koto yang dilatih secara khusus mengolah bambu menjadi kerajinan. Difasilitasi oleh Institut Mosintuwu, keduanya dilatih oleh Bli Kholik, seorang pengrajin bambu dari Bali tahun 2013. Kembali ke desa, keduanya mengembangkan ketrampilan membuat bambu yang dengan segera menjadi hobi baru para pemuda di desa.

Berkunjung ke Dulumai, akan sangat mudah menjumpai beragam jenis perabotan dari bambu di setiap rumah warga. Perabotan dari bambu ini merupakan produk buatan sendiri, mulai dari kursi, lemari, tempat tidur sampai mimbar Gereja . Setiap harinya, sepulang dari sawah atau kebun, akan terlihat iringan para pemuda dan orang tua memanggul bambu-bambu dari kebun mereka. Bambu ini sebagian besar direndam dengan teknik tradisional untuk menghilangkan kandungan airnya, sebelum digunakan.

Sofa bambu di rumah warga Dulumai

“Design bambu ini kami pikirkan sendiri atau saling melihat model dari furniture lainnya “ cerita Iver. “Seringkali malam minggu kami manfaatkan untuk membuat model-model baru. Kalau sudah membuat kursi, sering kami pastikan agar produk yang lain bisa baru dan berbeda. Karena itu kalau dilihat di rumah biasanya banyak model dari produk bambu” sambungnya.

Baca Juga :  Coexist Prize untuk Sekolah Perempuan dan Project Sophia

Di rumah Iver, misalnya, terdapat kursi malas, rak sepatu dan rak televisi serta lemari yang terbuat dari bambu. “Keuntungannya terutama, kami tidak perlu beli furniture ke luar desa, semua dibuat oleh anak kami, dan dari bahan di desa” ujar orang tua Iver.

Meski sudah mahir menghasilkan furniture berbagai model, pengrajin desa ini masih menghadapi dua persoalan, yakni bagaimana meningkatkan kualitas dan memasarkan produk kerajinan mereka.

Persoalan itu dirasakan betul oleh Suriadi (51 tahun) warga Dulumai yang rajin memproduksi mebel bambu. Kursi, rak hingga sofa yang dibuatnya masih terbatas pemasarannya. Kondisi ini menyulitkan untuk terus melakukan produksi karena dikhawatirkan akan menumpuk. Usaha meluaskan pemasaran sudah coba dilakukannya bersama dengan Dodoha Mosintuwu, unit usaha di Institut Mosintuwu yang memajang 4 jenis sofa bambu di ruang restoran dan perpustakaan. Sempat juga pemerintah desa menawarkan produk mereka kepada Bupati. Satu set kursi bambu buatannya dibeli dengan harga 4 juta rupiah. Namun setelah itu, pesanan yang diterima Suriadi tidak meningkat. Padahal harga yang ditawarkan pengrajin Dulumai masih dibawah harga pasar biasanya, yakni hanya 4 juta rupiah untuk satu set sofa bambu.

Baca Juga :  Desa Ratoumbu
sofa bambu buatan warga Dulumai di Dodoha Mosintuwu

Efren Ponangge, kepala desa Dulumai mengatakan, untuk meningkatkan kualitas produksi kerajinan bambu, pihaknya akan melengkapi para pengrajin dengan peralatan kerja yang bagus. Sebelumnya dia mengatakan pemerintah desa akan mengadakan pelatihan pengolahan bambu untuk pemuda desanya. Kegiatan ini merupakan salah satu langkah untuk menjadikan Dulumai sebagai pusat kerajinan bambu di kabupaten Poso. Selain pelatihan membuat kerajinan, desa Dulumai juga akan mendatangkan ahli untuk mengajarkan warganya mengawetkan bambu.

“Dulumai ini kaya dengan bambu, mulai dari jalan menuju kesini sampai ujung kampung. Jadi itu kekayaan yang harus kita gunakan sebaik-baiknya untuk peningkatan ekonomi masyarakat disini,”kata Efren. Bukan hanya memanfaatkan yang sudah ada. Agar populasi rumpun bambu tetap terjaga, pemerintah desa menghimbau warga menanamnya di kebun. Di desa paling selatan kecamatan Pamona Puselemba ini tanaman bambu jenis Tarancule dan Abok melimpah ruah.

Koordinator Program Ekonomi Solidaritas, Institut Mosintuwu, Martince Baleona mengungkapkan rasa optimisnya kualitas produksi pengrajin desa Dulumai akan terus meningkat sehingga pemasarannya akan lebih baik. Dia mengatakan, selain peningkatan kualitas dibutuhkan pula upaya lain untuk mengenalkan produk bambu Dulumai, misalnya lewat pameran maupun menggunakan media internet untuk memasarkannya keluar.

Baca Juga :  Suara Perempuan, Yang Terabaikan dalam Musrenbang Poso
Suri dan sofa bambu buatannya

Martince mengatakan, pemerintah kabupaten Poso perlu melihat bagaimana pemerintah kota Palu mengembangkan kerajinan rotan hingga menjadikannya produk unggulan. Padahal kota Palu bukanlah penghasil rotan, namun pemerintah setempat membantu para pengrajin rotan dengan mendatangkan pengrajin dari jawa untuk mengajarkan teknik-teknik pembuatan perabot rotan kepada warga, sehingga dalam waktu sekitar 3 tahun terjadi alih pengetahuan. Bukan itu saja, pemkot Palu juga membantu memasarkan hasil kerajinan warganya sampai keluar negeri. Strategi lain yang juga dikembangkan Pemkot Palu adalah mewajibkan kantor-kantornya menggunakan furniture dari rotan produk warganya.

“Ada harapan pada pemerintah, tapi seringkali harapan itu sulit terwujud jika pemerintah daerah tidak punya niat cukup kuat mengembangkan ekonomi kreatif di desa “ Ujar Martince “ Karena itu usaha desa di Institut Mosintuwu sedang mendorong mendorong langkah-langkah strategis tumbuhnya kerajinan yang memanfaatkan sumberdaya alam seperti bambu” sambungnya.

Sampai sekarang, pemerintah kabupaten Poso memang belum terlihat memberi perhatian khusus pada pengembangan produk kerajinan berbasis bambu. Padahal kabupaten Poso merupakan salah satu wilayah yang kaya akan tanaman bambu. Secara budaya, warga kabupaten Poso menganggap bambu sebagai salah satu tanaman penting, sebab dahulu peralatan makan dan minum dibuat menggunakan bambu.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda