Widya, Perempuan Pembela Hak MasyarakatWidya, Fighter for the Social Justice

0
534

Sehari-harinya, Widya adalah petani dan ibu rumah tangga. Kondisi fisik kakinya yang terbatas dan menggunakan kruk setiap harinya, tidak membatasinya untuk melakukan berbagai kegiatan seperti halnya perempuan lainnya. Termasuk secara aktif mengikuti program sekolah perempuan yang diselenggarakan oleh Institut Mosintuwu. Widya tercatat menjadi anggota sekolah perempuan angkatan III  Tahun 2014 – 2015.

Di Desa Trimulya, tempat Widya dan keluarganya tinggal. Widya tidak mendapatkan posisi yang diperhitungkan dalam masyarakat, antara lain tidak diundang dalam berbagai pertemuan desa. “Saya dulu merasa tidak berguna di desa, bahkan kadang tidak dianggap sebagai bagian dari masyarakat yang penting hanya karena saya perempuan dan saya cacat” katanya sedih.

Perubahan baik mulai dirasakan oleh Widya ketika  mengikuti kelas sekolah perempuan Mosintuwu. “saya menjadi lebih percaya diri. Saya percaya bahwa semua orang bisa berguna untuk memajukan desa jika diberikan kesempatan” katanya saat  mengikuti wisuda di sekolah perempuan, November 2015.

Semua materi kurikulum di kelas sekolah perempuan, bagi Widya sangat mencerahkan dan memberikan semangat untuk melakukan sesuatu. Kurikulum Hak Layanan Masyarakat adalah salah satunya. “Setelah ikut Hak Layanan Masyarakat, saya menjadi tahu jenis hak layanan masyarakat, aturannya, dan ditujukan untuk siapa. Ini membuat saya menjadi berpikir bagaimana selama ini pemenuhan hak layanan masyarakat di desa saya” Cerita Widya.

Pemikiran ini yang kemudian mendorong Widya untuk ke kantor desa untuk bertanya tentang pelaksanaan hak layanan masyarakat di desanya, khususnya program Raskin. Widya memulai dengan bertanya mengenai syarat-syarat pemberian program Raskin. Jawaban pemerintah desa tersebut dihubungkannya dengan pengetahuan yang didapatkannya di kelas sekolah perempuan. Widya memberanikan diri menjelaskan mengenai pengetahuan hak layanan masyarakat dengan praktek layanan yang dilakukan oleh masyarakatnya. Alhasil, Widya diberikan kesempatan oleh Pemerintah Desa-nya untuk mendapatkan haknya yang selama ini tidak pernah didapatnya.

Baca Juga :  Padungku, Karena Semua Sudah Selesai: Liputan Padungku-Molimbu oleh Sekolah Perempuan dan Sanggar Lintuyadi MOSINTUWU

Tetapi Widya tidak berhenti ketika sudah mendapatkan haknya. Widya menyadari bahwa masih banyak kelompok masyarakat lainnya yang tidak mendapatkan akses layanan masyarakat hanya karena mereka tidak mengetahui atau tidak punya jaringan. Widya melakukan advokasi kepada warga di dusunnya. Bersama warga, Widya mengidentifikasi jenis layanan masyarakat dan potensi mereka menerima program layanan masyarakat. Widya kemudian membagikan pengetahuan yang didapatnya di kelas sekolah perempuan kepada warga di dusun. Pengetahuan tentang hak layanan masyarakat ini mendorong warga untuk melakukan upaya mendapatkan hak mereka di desa.

“Saya bahagia sekali bisa mendapatkan pengetahuan dari sekolah perempuan dan terutama membagikan pengetahuan ini pada warga sehingga mereka juga bisa berjuang untuk hak-nya” Kata Widya.

Widya menjadi contoh bagaimana perempuan dapat menjadi pejuang pembela hak masyarakat di desa. Pengetahuan yang didapatkan tidak hanya digunakan untuk kepentingan diri sendiri tapi dibagikan pada masyarakat, dan diperjuangkan bersama dengan masyarakat desa. Pengalaman Widya menjadi contoh perjuangan hak asasi manusia bisa dimulai dari orang desa dan bersama-sama orang desa.In daily life, Widya was a farmer and a housewife. Her legs condition that compelled the use of crutches did not limit her capabilities to perform the daily activities just like any other women, including the active participation to Women School, established by Mosintuwu Institute. Widya was recorded as the student of Women School batch III from 2014 to 2015.

Baca Juga :  MoU Kuatkan Kajian, Penelitian dan Penyebaran Nilai-nilai Perdamaian di Tana Poso

In Trimulya, a village where Widya and her family lived, Widya did not get the position to be considered in a society in which among others was the exclusion from numerous village meetings. “I used to feel useless for my village, even I was not reckoned as a part of the society simply because I am a woman and a cripple,” she said sadly.

Widya started to feel a change when she joined classes at Women School of Mosintwu “I become more confident. I believe everyone can be helpful to develop our village if the chance is given” she said when attended the graduation ceremony at Women School on November 2015. All the materials inside the curriculum of Women School were very enlightening for Widya and empowering her to do something.   The curriculum of community service rights was an example. “After learning about community service rights, I know more about the types of community service rights, the policies, and to whom it is intended. It makes me think how far the fulfillment of community service rights in my village” Widya narrated.

This thought eventually pushed Widya to go to the village office to ask about the implementation of community service rights in her village, especially the subsidized rice program (Raskin). She started asking the requirements of the subsidized rice program. She had then connected the answer given by the village officials to the knowledge she got at Women School. She ventured to explain the rights of community service and the practices carried out by the society. As a result, Widya was given the opportunity by the village officials to get her rights which she had never been granted before.

Baca Juga :  Perempuan Mencari Air di Kabupaten Air

Nonetheless, Widya did not stop when she attained her rights. She realized there were others communities which did not get the access to the community service because they did not know or did not have any network. Widya advocated the residents of her hamlets and together, identified the type of community services and their potentials of receiving community service programs. Widya then shared the knowledge she gained in the classroom to the hamlet residents. The knowledge about community service rights encouraged the people to make efforts to get their rights in the village.

“I am happy to be able to get the knowledge from Women School and especially to share this knowledge to the people so they can fight for their rights,” told Widya.

Widya became an example how women can be the fighters of people’s rights defender in the village. The knowledge she acquired was not only used for her own sake but shared to the public and fought together with the villagers. Widya’s experience was a model of how the struggle for human rights began with a person in the village and along with the villagers.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda