Memupuk Harapan pada Kerajinan Bambu Poso

0
560
Kursi bambu buatan warga Desa Dulumai . Foto : Dok. Mosintuwu

Siapa yang tidak kenal bambu. Di Kabupaten Poso, bambu merupakan salah satu kebutuhan masyarakat. Dibutuhkan saat pesta pernikahan atau duka, digunakan untuk tempat memasak tradisional, bahkan bambu yang muda dijadikan bahan sayuran, selain itu digunakan sebagai bahan bangunan rumah. Bagi orang di Dulumai, bambu tidak lagi hanya berfungsi demikian tapi mampu menciptakan lapangan kerja baru.  Kerajinan bambu, tepatnya kursi dan sofa bambu.

Bapak Suri (45) , adalah salah satu warga Desa Dulumai yang sudah memulai karya furniture bambu sejak tahun 2015. Saat mengikuti Workshop Usaha Desa yang diselenggarakan oleh Institut Mosintuwu tanggal 18 Juli 2016, Bapak Suri berkata “ Awalnya buat kursi bambu ini memang coba-coba. Tapi saya senang mengerjakannya apalagi sekarang sudah diperhatikan sama Mosintuwu. Kalau dari cokelat dan cingkeh saya bisa terbang ke Papua, harapannya dari kerajinan bambu ini saya bisa naik pesawat ke Jakarta.”

Bapak Suri tidak pernah mengikuti training tentang bambu. Pengetahuan tentang furniture bambu diperolehnya justru dari  melihat dua anak muda di Desa Dulumai yang pernah mengikuti training furniture bambu. Bekerja sendirian, Suri sering kewalahan memenuhi pesanan dari beberapa orang. Design bambu yang dibuatnya dipikirkannya sendiri dibantu beberapa draft design yang diberikan oleh Dodoha Mosintuwu.

Baca Juga :  VCO Desa Kilo : Selaraskan Alam dan Perdamaian Poso

Suri berharap lebih banyak anak muda yang mulai tertarik bekerja menciptakan kreasi dari bambu. “ Bambu tidak lagi dibakar dan dianggap sebagai hama tapi bisa menjadi alternatif usaha dan mata pencaharian” Ujar Suri.

Upaya menciptakan lapangan kerja alternatif ini merupakan salah satu wujud dari mimpi Institut Mosintuwu bersama masyarakat untuk memperpanjang proses beredarnya uang di dalam desa dan menarik jumlah uang yang masuk ke desa. Harapannya adalah untuk mengembangkan potensi bisnis dalam desa sehingga masyarakat bisa mandiri secara ekonomi. Hal ini di utarakan oleh Lian Gogali, “Kalau di desa sudah ada usaha sendiri yang menghasilkan produk untuk di jual, maka anak muda tidak perlu lagi merasa minder atau putus asa untuk tinggal di kampung sendiri.”

Sekarang hasil usaha kerajinan bambu buatan Bapak Suri sudah menghiasi rumah warga di Desa Dulumai, termasuk di Dodoha Mosintuwu rumah bambu di Tentena. Ke depan diharapkan usaha bambu ini menjadi pilihan kerja, bahkan menjadi daya tarik khusus menggantikan Ebony di Kabupaten Poso.

Baca Juga :  Pameran Foto Bercerita : Perempuan Memimpin Perubahan

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda