Cerita Damai dari Bakul IkanThe Peace Stories from a Fish Basket

1
751

Pagi itu, pukul 7 pagi, saat semua orang baru bangun dan menyiapkan sarapan, ibu Sarino sudah berjalan keluar dari desa Tokorondo. Kepalanya menjunjung bakul ikan yang sudah disiapkannya semalam dan diisi ikan segar subuh tadi sambil mendengarkan nasihat dari suaminya dan larangan dari keluarganya untuk tidak nekat keluar kampung. Tahun 2000, berita penembakan, penculikan, pembunuhan misterius, serangkaian bom di berbagai wilayah di Kabupaten Poso. Tidak ada yang berani keluar dari desa, apalagi berjualan. Semakin dilarang, ibu Sarino semakin menguatkan tekad :

 “ini untuk bertahan hidup. Kalau begini terus kan kita tidak bisa hidup, sama saja mati. Kalau ada apa-apa, saya pasrah pada Allah SWT”

Pengalaman mengungsi dan tinggal di rumah dan tanah orang yang menyedihkan menguatkan niat ibu Sarino. Suaminya jatuh sakit, anak-anaknya tidak bisa sekolah. Di pengungsian, meskipun jauh dari bom dan suara tembakan, hidup sangat susah dengan penghasilan 1000 – 5000 rupiah setiap harinya. Pulang kembali ke Desa Tokorondo adalah pilihan untuk melanjutkan hidup mereka. Berjualan ikan adalah pekerjaan yang ditekuninya bersama belasan perempuan lainnya di Desa Tokorondo sebelum konflik kekerasan terjadi.

Hari itu, ibu Sarino melangkah mantap menuju Desa Kasiguncu yang berjarak 25 km dari Desa Tokorondo. Jalanan sepi, dan perjalanan harus melewati hutan dan kebun-kebun yang punya sejarah kekerasan bahkan saat ibu Sarino melewatinya. Desa Kasinguncu dipilih Ibu Sarino karena ada 4 keluarga dari suaminya. Kenyataan bahwa mayoritas warga Kasiguncu beragama Kristen, tetap membuat Ibu Sarino gugup.  Tapi dia siap, tetap meneruskan perjalanannya. Hari ini harus ada ikan yang berhasil dijualnya.

Baru saja tiba di ujung Desa Kasiguncu, kegugupan Ibu Sarino bertambah ketika tiba-tiba serombongan ibu-ibu yang melihatnya langsung keluar rumah. Bukan hanya ibu-ibu, juga  beberapa warga lainnya terlihat terkejut melihatnya. Semuanya hampir serempak bergegas menghampirinya. Orang-orang Kristen. Ibu Sarino sempat berpikir buruk,  mungkin ini sudah ajalnya. Semenit kemudian, bergantian ibu Sarino dipeluk penuh rasa haru.

“ Dorang somore ( gemetar ) dan ada sekitar  6 orang  yang ba polo ( memeluk )  sama saya dorang bilang kita kira kamu so tidak mo datang ba jual ikan lagi sama torang (kami )”

Sementara itu, sejak keberangkatan Ibu Sarino, suami dan semua anggota keluarganya  sangat gelisah. Mereka mengenal istilah yang berkembang di desa “diam-diam mencekam” yang mewakili situasi tanpa jaminan  keamanan. Semua saling mencari tahu kalau-kalau ada informasi terbunuhnya seseorang di wilayah Poso Pesisir.  Hari sudah sore, ibu Sarino belum juga muncul.

Baca Juga :  Perempuan Poso Membangun Indonesia dari Poso

Jam 5 sore, tiba-tiba terdengar teriakan “ ini dia, sudah pulang !!. Ibu Sarino muncul di kamp pengungsian. Semua orang langsung berseru senang dan lega. Mereka berkumpul untuk melihat langsung Ibu Sarino, penasaran mendengarkan apa yang terjadi. Dengan segera Ibu Sarino menceritakan penyambutan  masyarakat di desa yang dikunjunginya. Ibu Sarino menegaskan, tidak ada cerita  mengerikan seperti yang sempat dibayangkan semuanya. Ibu Sarino bahkan sudah merencanakan untuk berjualan ikan lagi keesokan harinya.

Sejak hari itu, informasi yang diceritakan Ibu Sarino menjadi informasi baru tentang perkembangan di Poso, yang membuat warga lebih berani beraktivitas. Keesokan harinya, 4 perempuan penjual ikan keliling teman Ibu Sarino bergabung dengannya.  Hari berikutnya 6 orang perempuan bergabung berjualan ikan ke lebih banyak desa. Perjalanan Ibu Sarino dan  ibu-ibu penjual ikan lainnya ke desa-desa di Poso Pesisir membuka komunikasi antar komunitas Islam dan Kristen. Rasa curiga yang selama ini dimiliki oleh masing-masing komunitas cair oleh kehadiran ibu-ibu penjual ikan. Dimulai dari Ibu Sarino. Ibu Sarino sekaligus memercayai,  semua orang siapa pun dan beragama apa pun membutuhkan makanan, juga ikan. Pernyataan “kita kira kamu so tidak mo datang ba jual ikan lagi sama torang” mengekspresikan keinginan lama dari warga Kristen untuk bisa bertemu lagi dengan Ibu Sarino yang nota bene beragama Islam. Pernyataan ini juga mewakili leburnya perasaan curiga yang sebelumnya dimiliki baik oleh Ibu Sarino maupun warga Kristen di desa-desa lainnya.

Para perempuan penjual ikan keliling ini kemudian menjadi pembawa pesan damai antar desa. Saat berjualan, mereka memberikan kabar bahwa desa-desa yang mereka lewati aman dan bahwa komunitas Kristen dan komunitas Islam tidak saling membenci. Para penjual ikan ini pula yang kemudian yang memengaruhi para pedagang lainnya  memulai beraktivitas. Cerita dari mulut ke mulut yang dibawa  para perempuan penjual ikan membuat warga masyarakat mulai saling mempercayai antar komunitas, mulai saling mengunjungi.Pagi itu, pukul 7 pagi, saat semua orang baru bangun dan menyiapkan sarapan, ibu Sarino sudah berjalan keluar dari desa Tokorondo. Kepalanya menjunjung bakul ikan yang sudah disiapkannya semalam dan diisi ikan segar subuh tadi sambil mendengarkan nasihat dari suaminya dan larangan dari keluarganya untuk tidak nekat keluar kampung. Tahun 2000, berita penembakan, penculikan, pembunuhan misterius, serangkaian bom di berbagai wilayah di Kabupaten Poso. Tidak ada yang berani keluar dari desa, apalagi berjualan. Semakin dilarang, ibu Sarino semakin menguatkan tekad :

Baca Juga :  Lilin Damai untuk Perdamaian PosoPeace Candle for Poso

 “ini untuk bertahan hidup. Kalau begini terus kan kita tidak bisa hidup, sama saja mati. Kalau ada apa-apa, saya pasrah pada Allah SWT”

Pengalaman mengungsi dan tinggal di rumah dan tanah orang yang menyedihkan menguatkan niat ibu Sarino. Suaminya jatuh sakit, anak-anaknya tidak bisa sekolah. Di pengungsian, meskipun jauh dari bom dan suara tembakan, hidup sangat susah dengan penghasilan 1000 – 5000 rupiah setiap harinya. Pulang kembali ke Desa Tokorondo adalah pilihan untuk melanjutkan hidup mereka. Berjualan ikan adalah pekerjaan yang ditekuninya bersama belasan perempuan lainnya di Desa Tokorondo sebelum konflik kekerasan terjadi.

Hari itu, ibu Sarino melangkah mantap menuju Desa Kasiguncu yang berjarak 25 km dari Desa Tokorondo. Jalanan sepi, dan perjalanan harus melewati hutan dan kebun-kebun yang punya sejarah kekerasan bahkan saat ibu Sarino melewatinya. Desa Kasinguncu dipilih Ibu Sarino karena ada 4 keluarga dari suaminya. Kenyataan bahwa mayoritas warga Kasiguncu beragama Kristen, tetap membuat Ibu Sarino gugup.  Tapi dia siap, tetap meneruskan perjalanannya. Hari ini harus ada ikan yang berhasil dijualnya.

Baru saja tiba di ujung Desa Kasiguncu, kegugupan Ibu Sarino bertambah ketika tiba-tiba serombongan ibu-ibu yang melihatnya langsung keluar rumah. Bukan hanya ibu-ibu, juga  beberapa warga lainnya terlihat terkejut melihatnya. Semuanya hampir serempak bergegas menghampirinya. Orang-orang Kristen. Ibu Sarino sempat berpikir buruk,  mungkin ini sudah ajalnya. Semenit kemudian, bergantian ibu Sarino dipeluk penuh rasa haru.

“ Dorang somore ( gemetar ) dan ada sekitar  6 orang  yang ba polo ( memeluk )  sama saya dorang bilang kita kira kamu so tidak mo datang ba jual ikan lagi sama torang (kami )”

Sementara itu, sejak keberangkatan Ibu Sarino, suami dan semua anggota keluarganya  sangat gelisah. Mereka mengenal istilah yang berkembang di desa “diam-diam mencekam” yang mewakili situasi tanpa jaminan  keamanan. Semua saling mencari tahu kalau-kalau ada informasi terbunuhnya seseorang di wilayah Poso Pesisir.  Hari sudah sore, ibu Sarino belum juga muncul.

Baca Juga :  Mama-mama Papua Kunjungi Sekolah Perempuan Mosintuwu

Jam 5 sore, tiba-tiba terdengar teriakan “ ini dia, sudah pulang !!. Ibu Sarino muncul di kamp pengungsian. Semua orang langsung berseru senang dan lega. Mereka berkumpul untuk melihat langsung Ibu Sarino, penasaran mendengarkan apa yang terjadi. Dengan segera Ibu Sarino menceritakan penyambutan  masyarakat di desa yang dikunjunginya. Ibu Sarino menegaskan, tidak ada cerita  mengerikan seperti yang sempat dibayangkan semuanya. Ibu Sarino bahkan sudah merencanakan untuk berjualan ikan lagi keesokan harinya.

Sejak hari itu, informasi yang diceritakan Ibu Sarino menjadi informasi baru tentang perkembangan di Poso, yang membuat warga lebih berani beraktivitas. Keesokan harinya, 4 perempuan penjual ikan keliling teman Ibu Sarino bergabung dengannya.  Hari berikutnya 6 orang perempuan bergabung berjualan ikan ke lebih banyak desa. Perjalanan Ibu Sarino dan  ibu-ibu penjual ikan lainnya ke desa-desa di Poso Pesisir membuka komunikasi antar komunitas Islam dan Kristen. Rasa curiga yang selama ini dimiliki oleh masing-masing komunitas cair oleh kehadiran ibu-ibu penjual ikan. Dimulai dari Ibu Sarino. Ibu Sarino sekaligus memercayai,  semua orang siapa pun dan beragama apa pun membutuhkan makanan, juga ikan. Pernyataan “kita kira kamu so tidak mo datang ba jual ikan lagi sama torang” mengekspresikan keinginan lama dari warga Kristen untuk bisa bertemu lagi dengan Ibu Sarino yang nota bene beragama Islam. Pernyataan ini juga mewakili leburnya perasaan curiga yang sebelumnya dimiliki baik oleh Ibu Sarino maupun warga Kristen di desa-desa lainnya.

Para perempuan penjual ikan keliling ini kemudian menjadi pembawa pesan damai antar desa. Saat berjualan, mereka memberikan kabar bahwa desa-desa yang mereka lewati aman dan bahwa komunitas Kristen dan komunitas Islam tidak saling membenci. Para penjual ikan ini pula yang kemudian yang memengaruhi para pedagang lainnya  memulai beraktivitas. Cerita dari mulut ke mulut yang dibawa  para perempuan penjual ikan membuat warga masyarakat mulai saling mempercayai antar komunitas, mulai saling mengunjungi.

(catatan redaksi : tulisan tentang lengkap tentang ibu Sarino dan banyak perempuan pejuang perdamaian di Poso yang tidak dibicarakan lainnya akan diterbitkan dalam buku bersama terbitan Jaringan Perempuan Indonesia Timur )

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda