Cerita 2 Menit 52 Detik untuk Perdamaian PosoThe Story of 2 Minutes 52 Seconds for Peace

1
1147

Pagi, tanggal 9 Maret 2016. Hari itu tidak sama dari jutaan pagi yang pernah datang. Pukul 08.30, matahari pagi masih bersinar terang, panas.  Pukul 08.35, udara berubah.  Cahaya Matahari meredup. Angin berhembus diam meniupkan hawa aneh yang menyentuh permukaan kulit. Dingin. Senja seakan datang terlalu cepat. Lalu, gelap. Kemudian, gelap total.  Di langit , hanya tampak bulatan hitam sempurna menutupi cahaya Matahari, menyihir ribuan orang yang berkumpul saat itu. Hening. Seorang ibu bersujud dengan rasa gugup sambil melantunkan ayat suci dengan lirih. Ribuan telepon genggam mengacung ke atas berebutan dengan waktu. Merekam momen. Burung-burung nampak melintas hendak pulang ke sarangnya. Berbagai binatang nampak kebingungan, mengeluarkan suara.  Planet Jupiter dan bintang-bintang terlihat terang seakan menyapa dari jauh.

Menit berikutnya, suara dari arah panggung seakan membangunkan kesadaran ribuan orang dari keajaiban alam semesta yang sedang dinikmati. Tepuk tangan bergemuruh merayakannya. Orang-orang berpelukan. Seorang perempuan paruh baya menangis sambil tersenyum. Beberapa masih terpana. 2 menit 52 detik, peristiwa singkat yang langka. Gerhana Matahari Total.

Bahkan ketika perlahan-lahan ribuan orang di lapangan Desa Kalora dan lokasi SMK dan SMP Kalora membubarkan diri dan tiba di rumah,  cerita mereka masih sama “ saya saksi hidup gerhana matahari total”.

Peristiwa yang terjadi 350 tahun sekali di tempat yang sama mencatatkan sejarah penyelenggaraan kegiatan terbesar yang pernah ada di Kabupaten Poso. Tercatat 10 ribu lebih orang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Pengamatan gerhana matahari total adalah bagian dari serangkaian kegiatan yang disebut Festival Kawaninya. Festival ini merupakan inisiasi dari BOSSCHA Observatory Institut Teknologi Bandung dan Institut Mosintuwu. Didukung oleh Pemerintah Kabupaten Poso , serta bekerjasama dengan Rumah Kelima Bali dan Ayo Dongeng Indonesia, Festival Kawaninya dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat desa. Festival Kawaninya berasal dari bahasa Pamona yang berarti kegelapan, dirancang dalam serangkaian kegiatan dengan tema “ dari Poso untuk Alam Semesta” . Diselenggarakan tanggal 8 – 9 Maret 2016 di Desa Kalora,   terdapat tenda-tenda Selera Kampung yang menyajikan penganan khas makanan dan minuman orang Poso.  Di rumah bambu sederhana yang disebut kandepe, Pasar desa menghadirkan hasil bumi dari desa-desa di Poso. Tidak ketinggalan, ruang pendidikan tentang alam semesta dalam dipersembahkan dalam bentuk pameran astronomi, permainan ular tangga astronomi serta workshop lubang jarum yang menggunakan cahaya matahari dalam pembuatan foto.

Baca Juga :  Rekomendasi : Partisipasi Politik Perempuan Recomendation : Women Political Participation

Malam hari sebelum pagi itu, pesta bintang digelar. Antrian empat teleskop dari berbagai jenis yang dibawa oleh tim BOSSCHA Observatory padat dengan ribuan orang yang ingin melihat planet dan bintang. Alam semesta terasa dekat dan lebih nyata. Film dokumenter tentang peristiwa alam semesta terutama gerhana matahari total tidak sepi dari ratusan pengunjung, apalagi Prof. Taufik dari ITB membantu memberikan penjelasan.  Tidak ada rasa takut untuk menikmati beragam kegiatan di festival Kawaninya. Isu tentang Desa Kalora dan daerah Poso Pesisir yang rawan konflik kekerasan bahkan teror tidak mengurungkan niat ribuan orang bersama-sama datang dan menjadi bagian dari peristiwa alam semesta. Tidak nampak penjagaan keamanan yang berlebihan. Aparat keamanan yang berjaga hanya menggunakan perlengkapan seadanya.

Bukan hanya peristiwa alam semesta yang langka, festival Kawaninya bagi Mosintuwu menjadi ruang yang menguatkan peran masyarakat dalam proses perdamaian di Kabupaten Poso. Dikenal sebagai daerah berkonflik dan wilayah operasi keamanan bagi terorisme, festival Kawaninya menunjukkan wajah baru Poso. Saat semua orang dari berbagai latar belakang agama, suku, datang dari puluhan hingga ratusan kilometer jaraknya, dari berbagai desa dan wilayah bahkan berbagai negara, Poso menunjukkan wajah keterbukaan atas keberagaman. Peristiwa berkumpul ini menegaskan Poso sebagai wilayah yang aman untuk dikunjungi dan membangun harapan untuk pembangunan yang adil dan damai.

Baca Juga :  Perempuan Poso dan Musyawarah Desa

Dua bulan, sebelum pagi dimana peristiwa Gerhana Matahari Total terjadi,  kerjasama yang melintasi batas agama dan suku sudah mewarnai Desa Kalora. Tua muda, perempuan dan laki-laki, Muslim, Kristen dan Hindu bersama-sama bergandengan tangan membersihkan dan menghias kampung mereka. Tidak takut untuk pergi ke kebun dan hutan mencari pohon bambu yang dipakai dalam kegiatan. “ Sejak konflik Poso terjadi, harus diakui desa kami diwarnai ketakutan dan kecurigaan satu sama lain. Apalagi konflik kekerasan masih terus terjadi di desa dengan kelompok bersenjata. Tapi kami seakan menemukan kembali harapan baru atas desa. Kami sama-sama punya semangat untuk menyembuhkan luka atas konflik, dan membangun desa dengan membuktikan bahwa desa kami layak untuk dikunjungi “ Jelas ibu Nurlaela, sekretaris Desa Kalora. Kepala Desa Kalora menambahkan “ Kami pernah berpikir dan merenungi bersama-sama nasib desa kami. Kami memikirkan bagaimana nasib generasi kami nanti, bagaimana anak-anak dan desa kami bisa berkembang? Begitu tahu bahwa desa kami menjadi wilayah untuk pengamatan Gerhana Matahari Total, ya Allah kami bersyukur, ini saatnya kami bangkit membangun desa”

Ibu Satria, yang rumahnya dipakai menjadi tempat menginap pengunjung berulangkali menyampaikan rasa syukurnya “ Akhirnya kita bisa bertemu dengan orang dari Tentena ( baca: Kristen) . Bisa tidur di rumah saya yang Muslim ini. Ini rasa syukur karena peristiwa ini bisa membawa kita bersatu kembali” Berulangkali ibu Satria mengusap air matanya menahan haru. Ibu Filistin, pengunjung dari Desa Didiri menjelaskan penuh rasa bangga “ Saya berterimakasih dan merasa bersyukur, kami bisa berkesempatan berbagi cerita dan merasakan bahwa kita masih punya kesempatan untuk menata masa depan Poso lebih indah. Kembali seperti dulu”  Terdapat kurang lebih 100 turis asing dari Jerman, Inggris, Prancis, Singapura, Amerika dan Jepang juga bergabung dalam kegiatan Festival dan tidak ragu menginap di rumah penduduk. Ibu Illy, warga Desa Kalora bercerita “lokasi pengamatan GMT itu dikenal lokasi rawan. Tidak ada yang berani melintas disana kalau sudah jam 6 sore. Tapi sekarang malah jadi tempat pertemuan kita semua. Apalagi tidak ada pengawalan dari polisi dan tentara. Mungkin mereka jaga tapi tidak kelihatan menonjol. Ini luar biasa”

Baca Juga :  Kami Dikenal Sebagai Pelaku Kerusuhan Poso, Di Penjara Kami (Muslim Kristen) Gabung,Saling Menjaga Melindungi

Di rumahnya, kedua anak ibu Martince tidak henti-hentinya menceritakan rasa takjub atas peristiwa di Desa Kalora “ kami bercerita satu sama lain, padahal kami semua ada disana dan menyaksikan yang sama. Rasanya tidak puas jika bercerita dan terus bercerita, apalagi dengan mereka yang tidak sempat datang. Saya cerita juga sama teman di sekolah kalau Poso Pesisir itu aman sekali dan tidak usah ragu kalau mau pergi kesana lagi. Semua orang berbaur, menyatu”

Cerita 2 menit 52 detik akan menjadi cerita kolektif masyarakat Poso. Bukan hanya soal fenomena alam semesta , tetapi bagaimana orang Poso menciptakan mimpi bersama tentang Poso yang damai dan adil, juga bersama alam semesta.

Foto : Tim fotografi festival Kawaninya ( @VifickBolang @ArfikArif @Acca)

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda