Saat Natal Tak Lagi Tentang Kami Saja When A Christmas Is Not Only About Us

0
636

Pagi itu, empat orang ibu berjilbab, terlihat mengintip dibalik pintu gereja, wajahnya nampak penasaran sekaligus gelisah. Setelah beberapa saat, mereka saling berbisik, wajah mereka nampak kecewa. Baru saja akan membalikkan badan untuk pulang, seorang ibu dari arah dalam gereja tiba-tiba menghampiri mereka
” hei, ibu-ibu ini siapa, mau apa disini?”
” Oh, halo bu, kami dari Poso. Kami ingin sekali ketemu saudara kami disini yang Kristen”
Ibu itu memandang tajam, curiga “mau apa bu?”
Salah seorang ibu menjawab ” Kami sudah lama tidak bertemu saudara kami, kami ingin mengucapkan selamat natal” Ibu yang lain menyambung “Iya, tapi kami takut nanti kami tidak diterima dan ditolak”

Tiba-tiba terdengar suara seorang ibu yang lain dari arah belakang ” Wah, ibu-ibu, saudariku mari masuk, kami sangat senang kalian mau datang disini mengunjungi kami. Kami sudah lama menanti, maafkan sikap ibu tadi ya, dia sudah lama tidak melihat orang berjilbab. Kita memang sudah lama tidak saling mengunjungi, tapi kedatangan ibu-ibu disini membuka kesempatan supaya kita bisa mulai saling mengunjungi ulang, membangun kembali persaudaraan kita”

Dijawab oleh salah seorang ibu ” iya bu, kami juga begitu dulunya, curiga dengan orang Kristen, tapi sekarang kami sadar bahwa kita tidak bisa membangun Poso dengan damai dan adil untuk semua kalau kita tidak bersama-sama bergandengan tangan bangun Poso…” Ibu yang tadinya mencurigai keduanya tiba-tiba langsung menarik tangan kedua ibu berjilbab tadi, wajahnya berseri-seri, mereka semua kemudian terlibat percakapan hangat.
” maafkan saya bu, selama ini saya dendam dan curiga dengan orang Islam makanya saya tadi begitu” Si Ibu yang berjilbab menggengam erat tangannya dan berkata ” iya bu, kami juga dulu begitu, sekarang kami belajar bersama dengan ibu-ibu Kristen lainnya bahwa kita semua apapun agamanya adalah manusia. Kami juga belajar untuk tidak lagi mau digunakan oleh kepentingan lain yang hanya membuat kita berperang” Mereka kemudian saling berpelukan.

Hari itu, Perayaan Natal Komisi Wanita Klasis Pamona di Desa Taripa yang dilaksanakan pada tanggal 25 November 2013, berlangsung berbeda, bahkan membawa perubahan. Dialog dalam drama pendek yang dibawakan ibu-ibu Muslim dan Kristen dari Sekolah Perempuan Mosintuwu telah menjadikan natal bukan lagi hanya sebuah ritual seremoni biasa, tetapi sebuah langkah awal sebuah perayaan kemanusiaan.

Betapa tidak, Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah di Kabupaten Poso setelah konflik, ada perempuan muslim Poso yang mengunjungi mereka, bukan hanya untuk mengucapkan selamat natal, tapi lebih dari itu membuka ibadah natal dengan drama pendek. Bagi banyak mereka yang hadir, drama yang dibawakan oleh ibu-ibu Sekolah Perempuan meleburkan semua perasaan marah, terganggu, terancam, kebencian, bahkan dendam yang selama ini masih tersisa.

Baca Juga :  Sekolah Perempuan : Gelora Berkarya untuk Damai dan Adil di PosoWomen School 3rd Batch : A Practical Movement for Peace and Justice in Poso

Sebaliknya hal yang sama dirasakan oleh ibu Hasna, ibu Sunartin, Ibu Dirja dan Ibu Evi, anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu yang hari itu datang membawa kabar persaudaraan dan perdamaian melalui drama pendek. Mereka yang pernah merasakan penderitaan karena konflik Poso, kemudian memahami Natal adalah perayaan pertemuan rasa kemanusiaan meskipun berbeda latarbelakang. Mereka mewakili semangat ratusan anggota sekolah Perempuan Mosintuwu di Kabupaten Poso yang memaknai keberagaman sebagai kekayaan yang dihormati, dihargai bahkan disyukuri. Ibu Sunartin mengatakan dengan penuh haru “saya sangat deg-degan waktu pertama kali mau drama, takut kami nanti dilempari, diiusir, atau kalaupun tidak kami dianggap hanya pura-pura. Tapi kemudian setelah selesai kami semua menangis sama-sama terharu karena bahagia. Sudah jelas, kita semua telah berdamai dan mau maju bersama membangun Poso”. Ibu Dirja menambahkan ” Saya senang sekali, sangat bahagia, saya bangga mengabarkan ini pada keluarga saya yang muslim kalau kita tidak perlu lagi takut atau saling curiga”

Ketika perayaan natal selesai, beberapa orang ibu jemaat mendatangi mereka sekedar berjabat tangan erat,bahkan ada yang memeluk menyampaikan terimakasih atas kehadiran mereka. Seorang ibu, mengungsi sejak tahun 1999 dan belum kembali lagi ke Poso menghampiri ibu Sunartin, sambil menangis mengatakan ” saya sudah selesai, saya sudah tidak marah lagi. Terimakasih sudah datang” Ibu ini kehilangan sebagian besar keluarganya dalam konflik Poso, karenanya menyimpan kebencian dan dendam terhadap umat Muslim yang dianggapnya penyebab kematian keluarganya. Kehidupannya menjadi berbeda hari itu, ketika dia melihat dan mendengarkan dialog ibu-ibu muslim dan kristen. Ibu Wuri Tacoh, ketua Komisi Wanita Sinode GKST mengatakan ” terimakasih, ibu-ibu dari sekolah perempuan Mosintuwu sudah membuka jalan bahwa kita sangat mungkin membangun Poso bersama-sama, membuka pemikiran bagi banyak orang meskipun kita berbeda kita bersatu”

Ini awal, bukan saja sebuah kesadaran, tapi juga gerakan bersama membangun perdamaian di Poso oleh perempuan. Tepat seperti lagu yang dinyanyikan bersama oleh ibu-ibu muslim dan kristen anggota Sekolah Perempuan saat menutup drama pendek:

“Alangkah bahagianya, hidup rukun dan damai
di dalam persaudaraan bagai minyak yang wangi
Alangkah, bahagianya hidup rukun dan damai”

Lagu itu disambung secara serentak oleh seluruh jemaat. Tangisan bahagia nampak dari sebagian besar anggota jemaat. Tangisan bahagia yang mengaminkan perdamaian untuk Poso. Kata ibu Marlin, salah seorang anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu mengatakan “Natal ini terasa bukan hanya bicara tentang kami orang kristen saja, tapi tentang kita semua orang Poso yang mengaminkan damai”That morning, four  women using  headscarves, seen peek behind the doors of the church, their face seems curious and uneasy. After a while, they whispered to each other, their faces seem disappointed. Just about to turn around to go home, a women from the church suddenly approached them

Baca Juga :  Nafas Festival Mosintuwu untuk Desa

“Hey, who are you, what are you doing here?”

“Oh, hello ma’am, we come from Poso city. We’d love to see our christians brother and sister here”

That women looked sharp, suspicious “What do you want?”

One of the women said “We never meet our Christian sister for such a long time, we just want to congratulate them “merry Christmas” the other women continue “ We want to come closer and congratulate, but we’re afraid we’ll not be accepted and rejected”

Suddenly, their heard some women from the back “ Mother and,sisters come here, we are very happy you guys want to come here to visit us. We’ve been waiting, I’m sorry about her attitude before, she had not seen for very long time a women using headscarves. We did not visit each other for a long time. But now, you come here, this is an opportunity that we can begin to re-visit each other, rebuild our sisterhood ”

The women how using red headscarves said ” Yes ma’am, we are also used to, suspicious of Christians, but now we realize that we can not build peace in Poso if we are not together hand in hand, if we are not unite…” The women who had suspicious suddenly pulled  her hand to the women, give greeating,  her face beaming. Then they all involved a warm conversation.

“I’m sorry ma’am, for my attitude . I used to suspicious of Muslims that’s why I was so grudge” The women answer her grasp her hand and said “yes ma’am, we also used to be so, now we learn together with other Christian that we all human. We also learned to no longer willing to be used by other interests that only makes us fight “They then embrace each other.

That day,  in the Christmas ceremony, the relation between muslim and Christians totally changed. The dialogue in the short drama , perform by Muslim and Christian Women from the Women School has made Christmas is no longer just an ordinary ritual ceremony, but an initial step a celebration of humanity.

This is the first time in the history of Poso, there is Poso Muslim women who visit them, not only to congratulate Christmas, but more than opening Christmas worship with a short drama. For many of those present, the drama presented by the Women School participants merge all feeling angry, annoyed, threatened, hatred, and even revenge that still remain.

Baca Juga :  Molimbu, Makan Bersama yang Menguatkan Solidaritas Poso

Conversely the same thing perceived by the Ibu Hasna, Sunartin, Cici and  Dirja, members of the School of Women Mosintuwu . Their perform in that day came with news of sisterhood and peace. Those who have felt the pain of the Poso conflict, then understand Christmas is a celebration of humanity meeting despite different backgrounds. They represent the spirit of hundreds of members of Women School in Poso who interpret diversity as richness respected, appreciated and even grateful.

Ibu Sunartin tearfully said “I was very excited when I first wanted to play, we’ll pelted fear,  we really afraid if they will drive away us, or if we are not considered to be a sham. But then after we finished all equally touched crying ,tears of joy. Obviously, we all have peace and want to move forward together to build Poso “.

Ibu Dirja added “I am very happy, very happy, I am proud to proclaim this to my Muslim family that we no longer need to fear or suspicion”

When the Christmas celebration is complete, some of the women of the church came to them, just shake hands, hug and some even expressed gratitude for their presence. A  women, displaced since 1999 and has not returned to Poso hug ibu Sunartin, tearfully said “I’m done, I was not angry anymore. Thank you for coming ”

The mother lost most of her family in the Poso conflict, thereby saving hatred and revenge against Muslims who considered the cause of death of his family. Life be different that day, when she saw and listened to the dialogue  from the Muslims and Christians women. Ibu Wuri Tacoh, chairman of the Women’s Commission of the Synod GKST say “thank you,  the women school already paved the way so that we may build together Poso, open mind for a lot of people even though we are different. We are united”

This is the beginning, not just an awareness, but also move together to build peace in Poso by women. Exactly like the song by women when close their performance :

 “What a happy, harmonious and peaceful life

inside the sisterhood like the scented oils

It would be, happy live in harmony and peace “

The song was connected simultaneously by the entire congregation. Seems happy cries of the majority of members of the congregation. Ibu Marlin, from women school stated “this Christmas was not just talking about us , as a Christians , but about all of us people who support peace in Poso”

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda