Aksi Damai Perempuan Poso untuk Perdamaian dan KeadilanPoso Women’s Peace Protest for Peace and Justice

0
189
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Hingga saat ini perdamaian telah dirajut sendiri oleh masyarakat akar rumput di Kabupaten Poso. Perdamaian ini telah merekatkan kembali persaudaraan masyarakat dari berbagai agama dan suku untuk membangun kembali Poso yang damai dan indah. Hal ini telah dibuktikan dengan telah berbaurnya masyarakat, adanya kerjasama antara masyarakat yang berbeda agama, termasuk upaya-upaya untuk menggalang kerjasama ekonomi dan politik di Kabupaten Poso. Namun, berbagai peristiwa kekerasan di Kabupaten Poso sebulan terakhir ini telah mengganggu ketentraman dan perdamaian di Kabupaten Poso, mengganggu kehidupan ekonomi, sosial di Kabupaten Poso, bahkan menimbulkan ketakutan di dalam masyarakat. Ketakutan yang muncul bukan hanya karena peristiwa bom, penembakan, pembunuhan dan berbagai bentuk teror, tetapi juga metode penyelesaian kasus-kasus kekerasan melalui pengerahan kekuatan militer.

Menyikapi berbagai peristiwa kekerasan tersebut, ibu-ibu anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu yang menamakan dirinya komunitas Perempuan Poso untuk Perdamaian dan Keadilan, melakukan aksi damai bersama pada hari Sabtu, 3 November 2012. Aksi damai ini diikuti oleh sekitar 50 ibu-ibu dari berbagai agama (Islam, Kristen, Hindu) dan berbagai suku yang berasal dari Kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, Poso Kota, Lage dan dari wilayah Tentena. Saat melakukan Aksi Damai, sekitar 200 meter dari lokasi aksi terjadi penembakan terduga teroris yang diikuti oleh aksi protes masyarakat atas tindakan aparat keamanan dengan membakar berbagai benda dan memblokir jalan. Namun aksi damai yang dimulai sejak pukul 10.00 pagi ini tetap dilanjutkan hingga jam 11 siang.

Di tengah panas terik, dan suasana Kota Poso yang memanas pasca penembakan aparat keamanan, secara bergantian, ibu-ibu yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga ini melakukan orasi yang menekankan pentingnya terus bahu membahu membangun perdamaian, serta menolak segala bentuk kekerasan di Poso. Tidak nampak rasa takut dalam aksi damai, sebaliknya ibu Marlin, warga Sekolah Perempuan angkatan kedua dari Lage menyatakan reaksinya ketika ditanyakan apakah takut untuk aksi dalam kondisi Poso yang memanas “misi kami adalah misi perdamaian, dan kami tidak takut menyampaikan misi kami”. Yel-yel Perempuan Poso maju bersama membangun perdamaian, dan yel-yel menolak bentuk kekerasan disuarakan berulang-ulang oleh peserta aksi sambil membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang lewat. Puluhan masyarakat kemudian berkumpul di pinggir-pinggir jalan sekedar menonton dan mendengarkan orasi, mengambil gambar bahkan beberapa bertepuk tangan memberi semangat pada para ibu ini. Beberapa pengendara motor dan mobil sengaja berhenti sejenak mendengarkan orasi. Oma Erni, 50 tahun, peserta aksi damai tertua memberikan semangat pada peserta aksi dengan berseru Poso Damai, dan disambut balasan peserta aksi “Sintuwu Maroso”.

Pada akhir aksi damai, dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh kordinator lapangan, Lina Laando, komunitas Perempuan Poso untuk perdamaian dan keadilan menyatakan bahwa:
1. Peristiwa kekerasan di Poso bukanlah kekerasan antar agama. Oleh karena itu, menyerukan kepada warga Poso khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya, untuk tidak terprovokasi dengan setiap tindak kekerasan, yang bermaksud mengadu-domba antar masyarakat, dengan maksud untuk melanggengkan kekerasan seolah-olah dengan dalih agama dan suku.
2. Kekerasan Poso adalah wujud dari kegagalan negara/pemerintah. Oleh karena itu, negara/pemerintah harus bertanggung jawab terhadap kekerasan yang terjadi. Tanggung jawab itu harus dipikul oleh pejabat aparat negara/pemerintah, baik sipil maupun aparat keamanan, sesuai lingkup kewenangannya ketika terjadi kekerasan dengan tidak menimbulkan bentuk kekerasan yang merugikan masyarakat Poso.
3. Menolak segala bentuk penyelesaian kekerasan dengan cara kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Penyelesaian kekerasan yang tidak kooperatif selama ini telah menimbulkan ketakutan, kepanikan bahkan telah menjadi bagian dari teror kepada masyarakat. Oleh karena itu mendesak aparat keamanan untuk melakukan pendekatan yang kooperatif dalam penyelesaian peristiwa kekerasan di Kabupaten Poso.

Lina Laando, koordinator aksi yang juga adalah anggota sekolah perempuan yang sekarang menjadi fasilitator, menegaskan bahwa aksi damai ini sekaligus juga ingin menunjukkan, bahwa:
1. Masyarakat Poso pada umumnya dan Perempuan Muslim, Kristen dan Hindu pada khususnya di Kabupaten Poso akan tetap bersama-sama bersatu memperjuangkan dan mempertahankan perdamaian di Poso.
2. Masyarakat Poso pada umumnya, dan Perempuan pada khususnya melawan segala bentuk tindakan kekerasan dan metode penyelesaian kekerasan yang menimbulkan ketakutan, trauma dan kepanikan warga.

Damai untuk Poso ditunjukkan oleh ibu-ibu Sekolah Perempuan yang bergandengan tangan menyuarakan perdamaian bagi Poso. Keberanian ibu-ibu Sekolah Perempuan ini menjadi simbol keteguhan perempuan berjuang untuk kedamaian di tanahnya.

Until now the peace in Poso has been woven together by the people of Poso by grassroots networks and communities. Peace has returned and had brought back together the various religions and ethnic groups to rebuild Poso into a peaceful and beautiful place. This has been proved by the melting pot, the cooperation between the different religious communities, including efforts to mobilize economic and political cooperation in Poso. However, various incidents of violence in Poso district last month have been disturbing the tranquility and peace in Poso, disrupting economic and social life, and even causing fear in the community. The fear arises not only because of bombings, shootings, killings and other forms of terror, but also a method of resolving cases of violence through the deployment of military forces.

Addressing the violence, the members of Mosintuwu’s Women’s School who call themselves the Community of Poso Women for Peace and Justice, held a peaceful protest on Saturday, November 3, 2012. The peace rally was attended by about 50 women from different religions (Islam, Christianity, Hinduism) and various ethnicities originating from various areas in Poso. The Peace Protest was held approximately 200 meters from the location of a shooting of a terrorist suspect. Other residents of Poso responded to this by burning various objects and blocking the roads. But the Peace Protest remained calm and concluded it’s activities at 11am.

In the middle of the scorching heat and the tense atmosphere of Poso town after the shooting, women who are mostly housewives made speeches stressing the importance of continuing to work together to build peace, and to reject all forms of violence in Poso. There was no fear from the women. Marlin, a former student of the Women’s School expressed her reaction when she was asked if she was afraid to protest in Poso’s tense atmosphere. “Our mission was a peaceful mission, and we’re not afraid to do it.” The women called out together to build peace, and distributed leaflets to passing motorists. Dozens of people gathered at the edges of the road to watch and listen to the speeches, often clapping and agreeing with what the women had to say. Cars stopped in order to watch the events too.

Oma Erni, 50 years old, the oldest of the rally participants, gave encouragement to the protesters by exclaiming Peace for Poso, and welcomed the participants reply of Sintuwu Maroso (which means unity in diversity). At the end of the rally, in a statement read out by the field coordinator, Lina Laando, the women’s community for peace and justice states that:
1. The violence in Poso is not violence between religions. Therefore, we are calling on residents of Poso in Central Sulawesi in particular and in general, not to be provoked by any act of violence, which intends to stir hatred among communities, in order to perpetuate the violence as if it is the name of religion and ethnicity.
2. Violence in Poso is a manifestation of the failure of state / government. Therefore, the state / government should be responsible for the violence. That responsibility must be borne by the official state officials / government, both civilian and security forces, according to the scope of its authority when it does not lead to violence with violence that harms Poso.
3. We must reject all forms of violence perpetrated by the security forces. Their usage of violence has been uncooperative and causes fear, panic, and even terror to return to the community. Therefore, it urged the security forces to carry out a cooperative nonviolent approach in resolving the violence in Poso.

Lina Laando, action coordinator, a former student turned facilitator, confirms that this peaceful protest will show that:
1. Poso society in general and Muslim women, Christians, and Hindus in particular in Poso will stick together, united to fight for and maintain peace in Poso.
2. Poso society in general, and women in particular, are against all forms of violence and the current methods of the settlement of violence creates more fear, trauma, and panic.

The women have joined hands and have become a symbol of the women’s determination to fight for peace in the land.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda