Lingkaran Perempuan untuk Masa Depan Damai dan AdilWomen’s Circle for Peaceful and Just Future

0
127
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Hari itu ruang hijau di Hotel Wisata kembali menjadi saksi hadirnya kurang lebih 130 perempuan dari 22 desa di Kabupaten Poso, terdiri dari berbagai agama yaitu Islam, Kristen, Hindu, yang bergabung dalam lingkaran Perempuan Poso. Hari itu adalah moment pembukaan Sekolah Perempuan Angkatan II, sebuah sekolah alternative bagi perempuan Poso untuk membangun jembatan perdamaian dan juga memperjuangkan keadilan di daerah mereka. Wajah penuh semangat sekaligus penasaran tergambar jelas dalam wajah mereka. Sebagian masih nampak malu-malu untuk saling berkenalan. Saat pertama kali datang, mereka masih duduk berdasarkan wilayah masing-masing sambil sesekali menengok kanan kiri mencari tahu dengan siapa mereka akan bersekolah. Persis seperti anak-anak sekolah baru. Penuh semangat, penasaran tapi juga nampak sedikit tertutup.

Kedatangan mereka langsung disambut dengan kuisioner tentang pandangan mereka sebagai perempuan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Kuisioner ini rencananya akan dipakai sebagai salah satu bahan dalam salah satu kurikulum Sekolah Perempuan yang membicarakan mengenai KDRT, selain itu membantu Mosintuwu dalam membangun konsep Rumah Aman bagi perempuan dan anak berbasis komunitas. Maka, pagi itu suasana yang masih kaku disibukkan dengan pengisian kuisioner.

Saat pembukaan Sekolah Perempuan dimulai, yang hadir bukan hanya 130 anggota Sekolah Perempuan tetapi juga kepala desa/lurah dari masing-masing desa bahkan beberapa suami dan anak-anak ikut serta. Ada rasa ingin tahu sekaligus kebanggaan ketika melihat istri, ibu, menjadi bagian dari Sekolah Perempuan “saya yang minta istri saya ikut, dan istri saya senang sekali karena memang ini yang dia tunggu untuk bisa menambah pengetahuan tapi juga menambah teman-teman dari desa lain, dari agama lain” ujar seorang bapak yang juga pimpinan gereja dari Desa Pandiri. “Mama saya cuma tamatan SD, juga petani tapi karena katanya untuk Sekolah disini tidak ada batasan usia, dan gratis, tidak bayar jadi mama bilang ini kesempatan yang sangat mahal” sambung Epin yang mengantar ibunya dalam pembukaan Sekolah Perempuan. Sementara itu dalam kata sambutannya, Kepala Desa Tambaro mewakili aparatur pemerintahan mengatakan “kami menyambut baik Sekolah Perempuan Mosintuwu sebagai bagian dari pembangunan berkeadilan dan pembangunan perdamaian di Poso yang melibatkan para perempuan. Kita membutuhkan Sekolah Perempuan supaya kita semua jadi cerdas bukan cuma di rumah tangga tapi juga di masyarakat”

Sebagian besar warga belajar Sekolah Perempuan adalah warga perempuan yang baru mengenal dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi seperti Mosintuwu. Karena itu, menyambut antusiasme sekaligus rasa penasaran mengenai Sekolah Perempuan, Lian Gogali, direktur Mosintuwu memberikan penjelasan mengenai siapa, apa dan bagaimana Mosintuwu bekerja. Selain menjelaskan mengenai struktur dan program-program yang dikerjakan oleh Mosintuwu, Lian juga menjelaskan mengenai prinsip Mosintuwu yang mengedepankan komunitas akar rumput sebagai bagian utama Mosintuwu bukan para aktivis atau para pejabat. Penjelasan mengenai Mosintuwu diikuti dengan penjelasan mengenai Sekolah Perempuan Mosintuwu yang akan dijalani oleh warga belajar. Secara detail, Lian menjelaskan mengenai mengapa Sekolah Perempuan didirikan, tahapan kurikulum apa saja yang akan ada dalam proses belajar bersama, mengapa dan apa tujuan setiap kurikulum, metode apa yang dikembangkan serta siapa yang akan terlibat di dalamnya (lihat artikel Sekolah Perempuan Angkatan II). Pada bagian akhir penjelasan, ditekankan bahwa Sekolah Perempuan adalah sebuah proses membangun kesadaran kritis yang akan menjadi sebuah gerakan komunitas dari berbagai agama untuk membangun perdamaian dan keadilan di Poso.

Enam warga belajar bersama di Sekolah Perempuan angkatan pertama turut hadir dalam pembukaan ini. Mereka bersama-sama berdiri memberikan semangat kepada warga belajar bersama yang baru dengan menceritakan makna Sekolah Perempuan Mosintuwu yang mengubah hidup mereka. “Saya tidak akan bisa berdiri disini berbicara di hadapan ibu-ibu kalau saya dulu tidak masuk di Sekolah Perempuan. Saya belajar banyak untuk mampu berbicara dan mengungkapkan apa yang saya pikirkan bukan hanya dengan keluarga tetapi juga dengan masyarakat dan pemerintah desa” Ibu Martince, warga belajar yang sekarang menjadi fasilitator Sekolah Perempuan di Poso Kota dengan berapi-api menjelaskan. “Di Sekolah Perempuan, saya menjadi punya banyak teman dari agama Kristen dan Hindu. Pergaulan saya luas, saya tidak lagi hanya di dapur tapi sekarang mau terlibat menjadi anggota partai politik supaya suara perempuan bisa didengar” Ibu Yanti, dari Kelurahan Sayo yang sekarang menjadi pembina seni anak-anak dari tiga desa yang berbeda agama dan suku turut menegaskan.

Tepuk tangan ratusan warga belajar bersama Sekolah Perempuan Mosintuwu membahana menyambut penjelasan mengenai Mosintuwu dan Sekolah Perempuan, seperti sebuah ungkapan yang menggambarkan semangat besar untuk menjadi bagian di dalamnya. Dengan penuh semangat, seluruh warga belajar bersama-sama berdiri dalam sebuah lingkaran besar, melakukan tepuk topan (sebuah tepuk khas Sekolah Perempuan) sebagai tanda resminya dibuka Sekolah Perempuan Mosintuwu angkatan ke II.

Kehangatan mulai menjalar antar sesama warga belajar yang baru saja bertemu dari berbagai desa dengan berbagai latar belakang agama ketika secara bergantian melakukan permainan kreatif yang membuat mereka saling berkenalan satu sama lain, saling menyapa. Suasana bertambah meriah juga haru ketika gabungan warga belajar angkatan pertama menampilkan drama pendek tentang kekerasan dalam rumah tangga. Sementara itu warga belajar angkatan kedua bergantian mengajak semuanya dalam lagu dan permainan yang menyebabkan tawa dan geli menghiasi gedung pertemuan tersebut. Perasaan sebagai sesama perempuan dan warga Poso yang baru saja keluar dari konflik berkepanjangan, menyatukan semuanya dalam sebuah tekad untuk bahu membahu, saling membangun. Hal ini diungkapkan oleh perwakilan warga belajar angkatan II dalam rangkaian harapan mereka.

Tekad sudah dibangun, semangat untuk menjalani proses bersama di Sekolah Perempuan Mosintuwu dilanjutkan dengan diskusi di masing-masing calon kelas Sekolah Perempuan. Sekolah Perempuan Mosintuwu memang memberikan ruang aktivitas dan kreativitas bagi warga belajar bersama untuk mengorganisir kelas mereka, menentukan waktu belajar dan bagaimana agar kelas bisa berjalan. Diskusi berjalan sangat seru karena beberapa warga harus menyesuaikan kebiasaan sehari-hari secara bersama-sama untuk bisa terlibat secara aktif di Sekolah Perempuan. Ibu Masna Indra Ria, ibu Martince Baleona, Ibu Lina Laando dan ibu Asni Yanti Hamidi, fasilitator Sekolah Perempuan Mosintuwu menfasilitasi proses diskusi hingga menemukan kata sepakat. Selain menyepakati proses belajar bersama, dalam presentasi dari masing-masing perwakilan, disampaikan harapan agar Sekolah Perempuan Mosintuwu bisa menjadi sebuah langkah bersama-sama, tidak lagi sendiri-sendiri berdasarkan kepentingan kelompok agama, suku atau golongan, di Poso untuk pembangunan perdamaian dan keadilan.

Lian Gogali, pendiri Sekolah Perempuan Mosintuwu mengajak seluruh warga belajar untuk bersatu dalam sebuah lingkaran yang disebut Lingkaran Perempuan. Dalam lingkaran bersama, setiap warga belajar diajak untuk menguatkan tekad bersama-sama untuk menjalani proses belajar bersama di Sekolah Perempuan dengan prinsip saling menghargai, menghormati sehingga setiap sekat kecurigaan, ketidakpercayaan bahkan kebencian bisa melebur dalam kemauan untuk menatap masa depan Poso yang lebih damai. Lingkaran perempuan juga diharapkan sebuah ruang untuk dapat bersuara, agar didengar dan tidak diabaikan, terlibat secara aktif dan menentukan dalam proses pembangunan. Dengan simbol berpegangan tangan, lingkaran perempuan dalam Sekolah Perempuan Mosintuwu diharapkan dapat menjadi sebuah kekuatan bersama yang saling mendukung dan bahu membahu untuk masa depan damai dan adil. Lingkaran perempuan mengakhiri pembukaan Sekolah Perempuan Mosintuwu angkatan ke dua sekaligus menguatkan seluruh warga belajar bersama. Harapan sudah dibuat, jalan sudah dibangun, teman sudah diajak, perbedaan diakui dan dihargai, maka Sekolah Perempuan Mosintuwu diharapkan menjadi sebuah gerakan komunitas interfaith untuk membangun perdamaian dan mendapatkan keadilan.
That day the green room in Wisata Hotel was once again the witness to the presence of more than 130 women from 22 villages in Poso district. They are Moslem, Christian and Hindu circle of women. It was the opening for Women School batch II, the alternative school for Poso women with the purpose to bridge the gap and strive for justice on their land. The passionate yet curious faces were clearly seen. Others stayed timid. They did not find the courage to get acquainted to each other. They deliberately arranged their seats in groups of their areas while looking at others from different areas may be wondering who would be their future schoolmates. They were just like ordinary new students in a new school.

First in the program was the administration of domestic violence questionnaire to assess their perception toward it. The assessment result was intended to be included in women school curriculum on domestic violence, also to help design community-based safe house/shelter for women and children victims of violence. While waiting for the opening ceremony and other, they were kept busy with their questionnaire.

Then it was started. Those 130 people attending were not only members of women school but also heads of villages from where school members came from, their husbands and children. There was a curious and proud look when they saw their wife, mother, became part of Women School. “It was my wife who took me here. She feels very excited. This is what she has been waiting for. She wishes to seek more knowledge and friends from other villages from other religion groups,” said one man who was also the leader of the church in Pandiri village. “My mom is only an elementary graduate, also a farmer. She told me that this school did not apply age limit, it was free, you don’t have to pay for anything. So mom said that this is such an invaluable opportunity she shouldn’t miss,” said a boy named Epin who accompanied his mother to the occasion that day. During the opening speech, the head of Tambaro village, representing other village leaders and government stated: “We welcome openly Mosintuwu Women School as part of the just and peaceful development in Poso that includes women. We need this school so that we become able at home and in the society.”

Most women joining the Women School are women who are new to activities organized by NGOs like Mosintuwu. Thus, addressing curiosity and enthusiasm, Lian Gogali, the director of Mosintuwu, gave explanation on who, what and how Mosintuwu worked. Apart from that, she also described the organization structure, programs, also about the principles that Mosintuwu put forth the grass roots community before anything, even before activists or government officials. It was then followed with information on Women School’s cause, the sub-activities that those women would follow, the phases in the curriculum, the methods and who would be involved (see the article on Women School batch II). In the final explanation, Lian emphasized that Women School was a process of building critical awareness that would be part of community activism from different religion groups for just and peaceful Poso.

Six members of the previous women school graduates were there as well. They stood there together with the new members, welcoming and encouraging them, telling them the meaning of Women School that had changed their lives. “I would not be here today, speaking in front of you all if I had not joined this school. I learned a lot, I learned to speak in public and expressed myself in face of my family, my society and my village authorities,” said the impassioned Mrs. Martince, one of the former members who is now a facilitator for Women School in Poso Kota area. “In Women School, I met many new friends from different religions, I have become sociable. I do not spend my life merely at home and my kitchen anymore. I want to be out there. I want to join the political party so that women’s voice be heard,” said Mrs. Yanti from Sayo village who is now a coach for children creative activities from three villages of different religion groups and ethnics.

Big applause came from the audience in responding the explanation on Mosintuwu and its Women School, as if to reveal the enthusiasm to become the members. Afterwards, they stood close in circle, did the typhoon clapping (the typical clap of Mosintuwu Women School) as an official symbol of the opening for Mosintuwu Women School batch two.

The warmth lifted up the atmosphere and spread among the new members when games took place. They got to know each other a bit more. It just got merrier yet more touching when a group of the first batch members showed one role play on domestic violence drama. Meanwhile, the second batch members in turn invited everyone to sing songs and play games that produced giggles. The shared feeling of being women and Poso people whom just survived the long armed conflict period united them in the determination to work hand in hand and to build hope for the future. This was expressed by the one representative from the second batch members during the statement of hopes.

The determination was set, and then the spirit to go through the process together in Women School was followed by discussion session in groups of area. Women School provided the space for activities and creativity for school members to organize their class, to prepare schedule and to ensure that the process will run well. The discussion was lively since the members had to synchronize their daily activities routines with the school schedule so that everyone can join the class. Mrs. Masna Indra Ria, Mrs. Martince Baleona, Mrs. Lina Laando and Mrs. Asni Yanti Hamidi, the facilitators for Women School were facilitating the discussion in their own group to reach consensus. Besides reaching the agreement on the learning process, each group while presenting their discussion results also conveyed their hopes toward the shared learning process that their school will be the basis for their joint steps toward justice and peace in Poso disregarding different religion, ethnicity or party interests.

Lian Gogali, the founder of Mosintuwu Women School, invited all members to unite in a group called the women circle. In this circle, everyone was asked to fortify their shared determination to walk on the path with the principles to share respect to subdue suspicion, distrust and hatred, to transform into the volition to look forward to a better future, to a peaceful Poso. The women circle is also expected to be a media for them to voice their opinions, to be heard and to be involved their active participation within the development process. Holding hands, their circle would serve to be the symbol of shared power for supporting their hopes for the future. This women circle ended the opening ceremony of Mosintuwu Women School second batch. The hopes were disclosed, the road was built, friends were invited, differences were admitted and acknowledged, and so then Mosintuwu Women School was expected to be an interfaith community activism to achieve peace and to gain justice.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda