Serial Luka Dendam

0
799

…Karena siapakah manusia yang hidup tanpa pernah berpengharapan, lalu kecewa?…

Adalah Sebuah Pembelajaran yang Pahit dan Mahal

Hidup tidak selalu berlaku seperti yang kita inginkan, yang kita impikan, bahkan seringkali meleset begitu jauh dari duga dan harapan. Hitung kecewa yang sempat menghampiri hidup kita. Jika kecewa tidak terlalu berdampak merusak, maka bolehlah kita memaafkan dan biarkan berlalu. Namun sebagian kekecewaan begitu merusak diri kita atau orang-orang yang kita peduli dan sayangi, sedemikian sehingga luka lebar yang ditinggalkannya selalu segar menganga dalam rasa dan ingatan, mampu membangun hasrat untuk tetap mengingat dan menagih pembayarannya. Menanam benih dendam.

Pemaafan, saudara-saudara, adalah kata benda yang amat rumit dan melalui proses yang sakit. Yang tidak mengalami luka disakiti dengan entengnya menyarankan orang lain untuk memaafkan, menerima dan melupakan. Yang mengalaminya langsung, pun belum tentu berarti dia paham apa yang terjadi dalam dirinya. Mengapa tidak mudah baginya mengatur perasaannya sendiri; mengapa dan bagaimana kekecewaan dan kemarahan seringkali berbuah dendam alih-alih pemaafan; dan dendam… lebih pada pemenuhan yang membangun atau merusakkah? Merusak atau membangun apa dan siapa?

Ketakutan dan kemarahan, keduanya adalah respons alami terhadap ancaman atau tindakan menyerang dan menyakiti. Kemurkaan, adalah gunung atau waduk kemarahan yang tidak pernah mampu diungkapkan dalam takaran yang aman. Pilihan kita menarik diri untuk tidak terlibat dalam hubungan dengan orang-orang tertentu hadir demi menghindari situasi-situasi yang kita pikir akan menjadi sumber lain kekecewaan. Mengasingkan diri, ada yang memilihnya, akibat terlalu banyak perjumpaan dengan kekecewaan. Tentu kita kehilangan kepercayaan pada orang-orang tertentu, pada keadaan-keadaan tertentu, bahkan terhadap dunia dan Tuhan sekalipun. Hanya mereka yang begitu naif, atau tolol, atau mungkin sejenis orang suci, yang mampu mengalami kekecewaan demi kekecewaan tanpa kehilangan rasa percaya.

Entah mengapa, aku bukan orang yang suka memaafkan. Aku tidak suka bila orang yang merasa bersalah padaku datang meminta maaf. Jika ada orang yang melakukan sesuatu yang menyakiti hatiku, aku akan menakar sendiri luka yang ditimbulkannya. Bila aku merasa luka itu tidak cukup pantas untuk diperhatikan dan disimpan, dengan sendirinya aku lepaskan saja kejadian itu tanpa orang itu harus minta maaf padaku. Tapi, kalau luka yang ditimbulkan begitu menyakitkannya, biar orang itu menyembah minta maaf pun, aku sendirilah yang memutuskan pada waktuku sendiri apakah aku: memaafkannya atau tidak, melepaskan lewat pengalaman itu atau menyimpannya baik-baik dalam ingatanku, memberikannya pelajaran segera atau nanti menunggu waktu yang tepat. Bila orang-orang tertentu tidak cukup pantas ada dalam lingkaran kehidupanku, lebih baik dia tidak memunculkan batang hidungnya ke hadapanku, karena aku tidak sudi berpura-pura semuanya baik-baik saja seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Bagiku akan lebih bermakna jika orang itu merubah perilakunya daripada dia minta maaf, sebab cukuplah aku melihat maaf dihambur-hambur percuma tanpa hal-hal pernah berubah jadi lebih baik. Dan lebih berharga lagi bagiku adalah bila dia merubah perilakunya ke orang-orang lain yang juga dia sakiti, apalagi bagi orang-orang yang begitu mengharapkan maaf dan perubahan darinya, orang-orang yang lebih remuk lukanya akibat perbuatannya. Mungkin pengalaman sering disakiti oleh orang-orang tak berperasaan membuatku lebih mengandalkan kekuatan sendiri, karena aku tak punya siapa-siapa, untuk membasuh luka-lukaku lalu bangun melangkah lagi, tanpa perlu menunggu permintaan maaf dan perubahan dari orang tertentu. Tapi itu bukan berarti aku tidak mendendam. Oh ya, aku menyimpan baik-baik dendam-dendam tertentu dan mengasuhnya diam-diam. Lalu menunggu…

Baca Juga :  Lilin Damai untuk Perdamaian Poso

Jika Mata Dibayar Mata, Maka Butalah Seisi Dunia  

…konon Gandhi berkata. Ck, ck, ck,… Bisa-bisanya dia meringkas semua ini dalam sepenggalan kalimat. Aduh, kalau Guru yang satu ini, ampun deh, tekuk lutut aku di depannya. Dia Bapak Spiritualku, dan Bunda Theresa Ibu Spiritualku. Tuhan membuatku yatim piatu.

Masa kecil kita diisi dengan ingatan tentang dongeng-dongeng berkisah pembalasan dendam. Tokoh si baik selalu harus membalas perlakuan si jahat, dan dengan berhasil membalaslah klimaks cerita membangun figur si baik sebagai pahlawan. Kini, sinetron-sinetron yang menjijikkan itu mempertontonkan pada pemirsa budiman perang antara si baik yang naif dan si jahat yang terus-menerus membuat celaka. Lalu penontonnya akan dengan gemas meneriakkan layar televisi agar si baik yang naif itu menyadari ketololannya dan membalas dendam. Kalau si jahat jatuh dari tangga sampai cacat atau ketabrak mobil sampai masuk rumah sakit dan koma, penonton tertawa puas, karena Tuhan dalam tivi sudah membayar luka-luka si pemirsa. Murahan…

Tapi pemirsa, Tuhan di tivi rupanya tidak sama dengan Tuhan yang kita amini dalam hidup kita. Kita menunggu-nunggu Tuhan membalaskan sakit hati kita, tapi kok si jahat itu malah tambah berprestasi? Dia menambah teman-temannya, tapi kita malah tersisih? Dia mengalami kenaikan jabatan dan penghargaan, sementara kita harus berdoa tiap hari agar kontrak kerja kita diperpanjang? Kalau Tuhan diam saja, apa boleh buat, kita yang harus bertindak. Atas nama keadilan. Iya, nggak?

Ada yang bilang: “Mereka yang mampu memaafkan dan melupakan adalah orang-orang dengan talenta istimewa, karena bagi kebanyakan kita sulit melakukan salah satu di antaranya. Adalah kecenderungan kita untuk memaafkan diri sendiri, namun tidak melepaskan mereka yang telah berbuat salah. Kita mengharapkan mereka untuk menjadi sempurna dan bahwa kesalahan tidak dapat ditoleransi. Saya seringkali sulit memaafkan orang, dan terkadang saya tidak dapat melupakan walau telah memaafkan. Pada akhirnya saya benar-benar memaafkan dan melupakan, tapi tidak sebelum mengajarkan orang itu pelajaran yang bagus untuknya. Saya percaya pada prinsip ‘Crime and Punishment’ (Kejahatan dan Penghukuman). Jika engkau secara sengaja menyakiti saya, kau harus menderita dulu sebelum saya memaafkanmu.”

Baca Juga :  Training Perempuan dan Isu Kritis UU Desa

Sebuah argumen: “Orang-orang ini, yang mencederai kita, jika kita tidak membalas, mereka akan mencederai orang lain lagi. Orang-orang baik akan berespon demi keadilan, karena mereka ingin memastikan bahwa tak seorang pun nantinya harus memikul luka yang sama karena perbuatan orang tersebut.”

Argumen berikutnya: “Intinya adalah keadilan… Sampai sekarang pun saya masih percaya begitu, dan pemikiran ini membantu saya percaya bahwa dalam kasus-kasus tertentu, saya tidak bersalah, atau saya tidak bersalah pada derajat tertentu; yaitu sewaktu saya melihat kembali catatan kehidupan saya yang keliru dan salah di masa lampau. Saya menyadari bahwa perlu membuat orang lain sadar bahwa dia bersalah karena jika begitu mudah orang tersebut melupakan kejahatannya, dia akan melakukannya lagi dan lagi.”

Seseorang lain mengatakan, “Dulunya saya termasuk orang yang memaafkan dan melupakan, sampai suatu hari saya mendapat pengalaman buruk dan tak dapat memaafkan. Orang jaman sekarang memperlakukan yang lainnya tanpa perasaan. Manusia menjadi orang-orang egois yang ingin mendapatkan banyak tapi memberi sedikit. Manusia sudah berubah. Semakin banyak orang yang perasaannya terluka tiap harinya. Saya ada dalam satu titik yang bukan lagi membahas tentang memaafkan dan melupakan. Ini tentang penerimaan. Saya tidak terima bila diperlakukan buruk dan jika seseorang terus memperlakukan saya dengan buruk, saya akan hapus dia dari hidup saya. Saya berkata ini bukan dengan rasa benci. Sederhana saja, saya hanya ingin hidup saya dikelilingi orang-orang yang memberikan nutrisi untuk jiwa saya, bukan yang menghisapnya sampai kering.”

Seseorang yang lain memiliki pandangannya sendiri: “Ketika engkau mengharapkan sesuatu dari orang-orang lain, seringkali mereka tidak memenuhi harapanmu, maka engkau kecewa. Jadi, janganlah berharap. Jika kau perlakukan orang lain seperti kau ingin diperlakukan, maka hampir selalu kau akan memiliki hubungan yang kau inginkan dengan orang-orang yang penting bagimu. Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang jalan hidup, pengetahuan dan persepsinya tentang dunia tidak cocok denganmu sehingga terjadi konflik-konflik dalam hubungan kalian, maka saya percaya bahwa jalan yang lebih baik adalah menempuh jalan sendiri-sendiri. Mungkin untuk kehidupan yang sekarang ini memang kalian tidak berjodoh. Atau mungkin kau bertemu orang seperti ini untuk sesaat yang singkat saja, sebagai pengingat bagimu bahwa hidup yang sedang kau jalani sudah baik adanya, dan kau akan menemukan cinta dan kebahagiaan jika kau meneruskan jalan kebenaran pilihanmu sendiri.”

Oh, pernahkah kau menonton video musik Sinead O’Connor untuk lagu “War”? Perempuan botak paling cantik yang pernah aku lihat ini, menyanyi live, tanpa iringan musik. Syairnya adalah tentang pesan melawan segala bentuk kejahatan, ketidakadilan dan penindasan. Dia sendiri pernah mengalami kekerasan seksual oleh institusi pendidikan Katolik sewaktu kecil. Kemudian setelah dewasa dia mengungkapkannya di muka dunia dan disangkal. Di akhir pertunjukan lagu itu, dia mengangkat gambar Paus (pemimpin Katolik di dunia) dan merobek-robeknya dan mencampakkannya di muka pemirsa lalu berkata, “Fight the real enemy!” Sunyi. Penonton terpana. Aku terpana. Bayangkan dan rasakan lukanya…

Baca Juga :  Sekolah Perempuan : Gelora Berkarya untuk Damai dan Adil di Poso

Konon, kekerasan hati untuk tidak memaafkan adalah manusiawi, namun merugikan dan merusak tidak hanya kehidupan spiritualitas, juga kesehatan fisik kita. Sebuah penelitian, yang pernah menjadi penelitian dengan jumlah responden terbesar mengenai pemaafan dalam hubungan pernikahan dan cinta, mengungkapkan temuan ini. Adukan kepahitan, kemarahan, permusuhan, kebencian, dendam dan ketakutan (akan dilukai atau dihinakan lagi) berdampak pada meningkatnya tekanan darah dan perubahan hormonal yang berhubungan dengan penyakit peredaran jantung, tekanan pada daya tahan tubuh, dan mungkin, kerusakan daya ingat dan fungsi syaraf sehingga menimbulkan masalah-masalah kesehatan. Dr. Dean Ornish mengatakan, “Maafkanlah orang lain demi, setidaknya, dirimu sendiri, demi kesehatanmu sendiri. Inilah hal paling mementingkan diri sendiri (selfish) yang bisa kau lakukan.” Dilanjutkan dengan, “Ketika kita memaafkan, pertama-tama kita sebenarnya sedang melakukan kebaikan untuk diri kita sendiri: kemarahan bukanlah teman perjalanan yang baik. Dia membunuh kita dari dalam, tiap hari. Kalau kita tidak ingin memaafkan demi Tuhan, demi cinta kasih atau demi nilai mulia apa pun itu, setidaknya lakukan saja demi kepentinganmu sendiri!” Adalah sebuah pepatah: jika kau mengabdikan hidupmu untuk mencari pembalasan akan dendam, maka pertama kali, galilah dua lubang kubur.”

Lebih jauh penelitian ini membedakan dua macam pemaafan. “Decisional forgiveness” (pemaafan karena sebuah keputusan) di mana ada komitmen untuk rekonsiliasi dengan si pelaku. Ada yang namanya “emotional forgiveness” (pemaafan yang bersifat emosional atau psikologis), yaitu sebuah penerimaan yang sifatnya internal. Pemaafan macam ini tidak selalu berarti mensyaratkan adanya pengadilan atau keadilan, ataupun berdamai dengan orang yang kita benci. Yang dimaksud di sini adalah memaafkan dengan melepaskan, merelakan; bukannya memaafkan perilaku orang lain atau menerima perlakuan tidak pantas dari seseorang. Lepaskan saja dirimu dari penderitaanmu. Bebaskan dirimu sendiri. Selain itu, keuntungan lain dari memaafkan adalah bahwa orang yang memaafkan memiliki jaringan sosial dengan teman, tetangga dan keluarga yang lebih sehat daripada mereka yang penyendiri. Sedangkan orang yang menyimpan dendam, dengki dan penyesalan, dia sendiri lah yang akan menggugurkan hubungannya dengan orang-orang lain.

(bagian pertama catatan)

Margonda, 16 Maret 2011
dalam perjalanan….

Catatan:
Banyak dari pandangan dan perspektif dalam tulisan ini disarikan dari para penggemar Paulo Coelho yang ikut urun pendapat dalam blog Paulo Coelho yang bertajuk “To Forgive dan Forget”. Lagu-lagu dan film adalah dari lagu dan film itu sendiri. Tentang Sabotase diri (Self Sabotage) dicuplik dari buku “Manual and Workbook for Adult survivors of child Abuse Who want to move-on with life” produksi The Morris Center (1995).

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda