Agamamu Agamaku di Kunjungan Sekolah Perempuan

0
98
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

“oh begitu..wah, selama ini saya mengira Islam kejam dan mengajarkan membunuh. Kalau begitu mulai sekarang saya sudah berani mau pergi ke Tegalrejo”

***

 
Hari itu terasa seperti 20 tahun silam, ketika kekerabatan dan kekeluargaan diantara mereka yang berbeda agama dan suku tidak dibatasi oleh trauma akan konflik Poso. Kutipan tersebut di atas hanyalah salah satu diantara beberapa renungan pribadi para perempuan di Sekolah Perempuan sesaat setelah mengadakan kunjungan lapangan dan melakukan percakapan mendalam. Kunjungan lapangan ini dilakukan di rumah ibadah Islam, Kristen dan Hindu baik di Sekolah Perempuan di Kecamatan Pamona Puselembah, Sekolah Perempuan di Kecamatan Lage, Sekolah Perempuan di Kecamatan Poso Kota Utara dan Sekolah Perempuan di Kecamatan Poso Pesisir Selatan.

Bagi ibu Hasna dan puluhan ibu lainnya dari Tegalrejo, sebuah desa yang mayoritas penduduknya Muslim, hari itu untuk pertama kalinya mereka masuk ke gereja. Kekakuan terlihat ketika dengan langkah canggung, melihat seperti hendak menyelidik seluruh isi gedung gereja. Lalu kemudian mengangguk-angguk sepanjang percakapan“awalnya rasanya aneh, seperti ada yang menggelitik di perut. Tapi setelah ibu pendeta berbicara dan menjelaskan banyak hal, kami merasa nyaman. Luar biasa rasanya keluar dari gereja dan bisa tahu tentang agama Kristen. Benar-benar berbeda dengan yang selama ini kami tahu” kata salah satu ibu. Beberapa menit berdiam dan hanya duduk-duduk di sebuah bukit yang menjadi tempat persinggahan ibu-ibu pasca kunjungan, seseorang membuka percakapan :”jadi jangan hanya karena kami (muslim) tidak makan di rumahnya kamu (Kristen) maka kalian sudah tidak pernah mau undang kami lagi kalau ada acara. Yang pentingkan bisa silahturahmi” Seorang ibu langsung menanggapi “ iyalah mulai sekarang setiap kali ada acara pasti kalian di undang. Memang kemarin malas untuk undang kalian karena tidak enak hati kalau ada acara makan. Tapi kali ini kami sudah mau undang terus kan sudah saling mengerti aturannya “ Ibu yang paling muda di kelas Sekolah Perempuan itu membantu dengan mengeluarkan celutukan “ Nanti kalau ada acara masak, kami minta kalian masak sendiri lah, atau kalau tidak bawa sendiri bekal dari rumah” bukit yang sering disebut oleh anak muda di kampung sebagai bukit cinta itu riuh dengna gelak tawa. Tawa yang mahal harganya dalam jalinan pengertian yang dalam.

Di Pamona,  wilayah pusat pengungsian Kristen, wilayah pusat pelayanan Gereja Kristen di Sulawesi Tengah, dimana pernah terjadi bom yang menewaskan kurang lebih 22 orang, puluhan ibu-ibu Sekolah Perempuan pertama kalinya diterima dengan tangan terbuka di mesjid oleh imam dan tokoh agama Islam. “Saya ini tidak pernah menaruh hati dengan orang Islam sejak konflik apalagi ketika ada bom disini dan saudara saya tewas.  Ada sesuatu di dada ini sampai saat tadi saya masuk disini. Tapi tadi bilang hal yang penting yang membedakan kita adalah bagaimana kita memperlakukan agama. Bukannya apa agama kita” Dalam perjalanan seorang ibu  menggeleng-gelengkan kepala “astaga, saya ini sudah hampir 40 tahun dan baru saja tahu kalau Advent yang juga bagian dari Kristen itu ternyata punya makna yang berbeda tentang Natal dan Paskah dan mereka puasa sama seperti umat Muslim bahkan lebih ketat” Ibu yang lain menyambung “Banyak yang kita tidak tahu dan kita pikir kita tahu, padahal kita tidak tahu apa-apa. Tapi tadi pastor Rico sudah jelaskan kalau kita ini seperti taman besar yang banyak jenis bunganya. Kalau bunganya cuma satu tidak indah dan tidak ada kehidupan disana. Lihat ini, saya tulis kata-kata pastor. Kalau Ustad tadi juga bilang kalau kesamaan kita adalah kita semua sedang berlomba-lomba berbuat kebaikan”

Kunjungan Sekolah  Perempuan ke berbagai rumah ibadah sangat ditunggu oleh semua warga Sekolah Perempuan dari Desa Toyado, Tongko, Labuan dan Bategencu. Seminggu sebelum kunjungan lapangan,beberapa berulangkali menelpon fasilitator untuk memastikan bahwa kunjungan akan dilaksanakan. Mereka punya banyak pertanyaan. Hari itu ketika berkunjung ke mesjid, gereja Kristen Protestan dan gereja Kristen Pantekosta beberapa ibu merasa seperti orang kaya, orang yang baru. “jadi, halal dan haram yang paling utama adalah soal perkataan” kata seorang ibu Kristen. “Saya kira yang namanya Kristen itu ya Kristen, ternyata ada banyak aliran, dan yang membedakan itu cuma caranya beribadah, sama-sama menyembah Tuhan dan percaya pada sesuatu. Itu bukan hanya seperti Kristen Protestan dan Kristen Pantekosta yang berbeda cara baptisan dan cara beribadahnya , tapi kalau dipikir-pikir hampir sama seperti cara beribadahnya orang Islam dan Kristen. Mungkin apa yang dipercaya beda dan cara untuk percaya beda tapi semua sama-sama menyembah Tuhan” sambung ibu yang lain. Seorang ibu yang sejak awal kunjungan hanya diam dan berusaha meresapi semua percakapan itu tiba-tiba berkata:”Bisakah kita kunjungan lapangan satu kali lagi?Bisakah kita juga ke Pura?mungkin ke jemaat atau jamaah-nya. Luar biasa tadi. Saya rasa kalau sudah mengerti begini, kita bisa nyaman satu sama lain. Saya akan jelaskan juga percakapan tadi ke keluargaku, supaya mereka juga tahu”

Sementara itu wajah penasaran sekaligus takjub nampak pada puluhan ibu-ibu sekolah perempuan di Kecamatan Poso Pesisir. Setelah mengunjungi gereja dan mesjid, untuk pertama kalinya mereka disambut oleh tokoh agama Hindu, diajak berkeliling dan berbincang tentang agama Hindu. Sepulang dari ketiga tempat itu, mobil kecil yang mengantar pulang riuh dengan percakapan “Saya pikir dulu patung-patung yang banyak itu yang mereka sembah, ternyata itu hanya simbol dan setiap hal punya makna. Sama seperti kita terhadap benda-benda di sekitar kita”  yang lain menyambung “dan mereka sangat kuat dalam menjaga alam dan lingkungan karena mereka pikir bukan hanya kita manusia yang mahluk hidup” seorang ibu seakan berebut menyatakan pendapatnya “ah iya, yang saya paling suka ketika dijelaskan bahwa setiap satu orang dan setiap satu kehidupan termasuk tumbuhan itu punya koneksi satu sama lain, dan itu menentukan bagaimana kita hidup di bumi. Saya masih belum mengerti kata-kata itu tapi saya kira itu sebabnya mereka punya banyak kegiatan yang kita tidak mengerti seperti sesajen dan mereka lakukan itu bukan hanya untuk mereka yang agama Hindu tapi untuk kita. Tadi Pak Made bilang untuk alam semesta”

Hari itu, sejak melakukan kunjungan lapangan, melihat dan merasakan langsung perbedaan itu sesuatu yang niscaya dan alami, para warga Sekolah Perempuan memulai sesuatu diantara mereka. Sebuah rajutan pengertian dan saling menerima atas perbedaan. Seorang ibu dengan penuh penekanan mengatakan “ah ya,agamaku,agamamu, semua untuk manusia berbuat lebih baik, berlomba untuk kebaikan hidup” Tidak mudah bagi para perempuan di wilayah pasca konflik berdarah ini melakukannya. Tapi ruang yang terbuka dan komunikasi yang dibangun membawa mereka pada tahapan penting dalam membangun pengertian dan saling memahami perbedaan. Dalam konteks inilah perjuangan akan hak atas ekonomi, sosial, budaya dan hak sipil politik bisa dilakukan. Bersama. Melintasi batas identitas.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda